We've given this relationship chance after chance after chance of working together, of creating together, but it just isn't working out." - Tori Amos
Saya sudah sering mendengar orang mencurahkan isi hatinya tentang kepahitan yang mereka miliki terhadap seorang mantan pacar. Mantan suami/istri pun banyak.
Ternyata tidak sedikit orang yang masih menyimpan dendam terhadap orang-orang yang pernah menjalin hubungan intim dengan mereka lalu melakukan hal-hal yang kemudian menyakiti hati mereka, entah itu berupa perselingkuhan, jatuh cinta kepada orang lain, ataupun penganiyaan/penyiksaan secara fisik, mental dan sosial.
Saya sendiri juga mengalami dendam dan rasa sakit hati selama bertahun-tahun, namun bukan pada seorang mantan pacar/pasangan, tetapi pada seorang mantan sahabat.
Saya dan dia bersahabat lumayan lama, 6 tahun, dan kami pun telah berpisah lumayan lama, yaitu tiga tahun. Namun tiga tahun perpisahan kami tak kunjung melunturkan rasa tidak suka yang saya miliki terhadap dia.
Bahkan ketika saya tanpa sengaja berpapasan dengan dia (yang untungnya, tidak terlalu sering terjadi), saya seketika dirasuki beragam kebimbangan: di satu sisi, ada perasaan tidak suka, benci serta ketakutan bahwa ia akan menyakiti saya lagi; namun di satu sisi, kenangan-kenangan indah tentang kebersamaan kami yang sudah berlangsung selama enam tahun itu pun kadang menyeruak dan membuat saya mempertanyakan pada diri sendiri:
apakah saya perlu memberikan hubungan ini satu kesempatan lagi?
Satu hal yang perlu dicatat: meskipun sudah selama tiga tahun saya memutuskan semua akses hubungan dengan dirinya, yang termasuk dengan koneksi di sosial media dan telepon genggam, namun kalau sesekali ia tanpa sengaja bertemu dengan saya, ia menunjukkan sikap bahwa seolah-olah tidak ada apa pun yang pernah terjadi di antara kami.
Dia tetap ramah dan menyapa. Justru saya yang enggan untuk menyapa dirinya duluan. Sikap ini kemudian memicu rasa gamang dalam pikiran dan hati saya: di satu sisi, sikap ramahnya tersebut terasa bagaikan sebuah ajakan untuk berteman kembali, namun di sisi lain, ada juga kemarahan bahwa ternyata selama tiga tahun, ia sama sekali tidak menyadari kesalahan yang ia lakukan, dan saya jadi merasa bahwa pertemanan kami sama sekali tidak ada artinya bagi dia karena dia sama sekali tidak menanyakan ada apa dengan saya.
(Namun, harus diakui memang, sikap saya ini juga tidak dewasa karena ternyata tidak semua orang paham mengenai tanda-tanda implisit yang selama ini saya kirimkan padanya dengan sikap diam saya).
Kami berdua bertemu sudah bertahun-tahun yang lalu. Ia memberikan kesan yang begitu baik terhadap diri saya. Saya sendiri berasal dari latar belakang yang kurang menguntungkan, yaitu pernah mengalami bullying oleh teman-teman sekolah saya dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas, belum lagi masalah kemelut keluarga yang menimpa saya semasa kecil dan remaja.
Akhirnya saya memiliki rasa percaya diri yang sangat rendah. Saya tertutup, pemalu dan sulit membuka diri terhadap orang lain. Sedari awal, saya memang sudah menyadari bahwa saya ini bertolak belakang dengan sifatnya yang percaya diri, ekstrovert, suka bicara serta suka bergurau.
Pelan-pelan, saya mulai mengagumi dirinya. Saya menganggap dirinya sebagai patokan kesuksesan yang perlu kita kejar dalam hidup kita. Dia pun selalu menerima kehadiran saya dalam hidupnya.
Dalam pertemuan kami yang dilangsungkan seminggu sekali (terkadang malah setiap hari sepulang kerja), mungkin sesekali dia akan menyindir sifat saya yang pemalu, penyendiri dan kaku, namun semua hal tersebut tidak pernah saya masukkan ke hati, kendatipun terkadang saya merasa agak terusik oleh banyolan-banyolannya yang seringkali terasa lancang dan menyerang pribadi saya.
Namun saya yang memiliki rasa percaya diri rendah ini selalu sungkan untuk mengajukan keberatan atas perbuatannya tersebut, sebagian juga karena waktu itu saya masih memandang diri sendiri dengan rendah dan bahwa saya pantas menerima perlakuan buruk seperti itu darinya, karena saya memang culun, kaku dan kurang gaul, sifat-sifat yang waktu itu saya anggap sebagai kelemahan.
Setelah setahun lebih persahabatan kami berlangsung, tindakannya mulai tidak tertahankan. Dia mulai sering lebih blak-blakan dalam meremehkan dan melecehkan apa yang saya lakukan dalam pekerjaan saya sebagai wartawan.
Dia mulai sering membanding-bandingkan diri saya dengan teman-temannya yang lain, yang kesemuanya selalu jauh lebih baik dari saya, entah dari segi karier, kecerdasan maupun sikap hidup.
Tidak setitikpun ia pernah memberikan pujian atas hal-hal yang saya lakukan dalam hidup saya, sesuatu yang mengganggu saya karena ia begitu murah hati saat memberikan puji-pujian pada teman-temannya yang hebat-hebat semua itu. Padahal saya mengagumi dirinya dan pujian dari dirinya menjadi salah satu tolok ukur kesuksesan saya.
Sayangnya, pujian itu tidak pernah datang.
Kalaupun iya, itu dalam bentuk backhanded compliment atau pujian yang sebetulnya ditujukan untuk menghina. Selain pekerjaan, dia mulai sering mencela-cela orang-orang yang saya jadikan sahabat (untuk rinciannya, mungkin tidak perlu saya ceritakan untuk melindungi identitas si mantan teman saya tersebut).
Semua perbuatannya tersebut membuat saya merasa kecil. Rasa kerdil itulah yang kemudian memupuk kebencian dan kemarahan saya terhadap dirinya. Di sisi lain, saya juga tidak berani menyatakan keberatan saya.
Butuh waktu empat tahun bagi saya untuk kemudian memberanikan diri melepaskan dirinya. Itu pun setelah saya tahu dari beberapa teman saya dan artikel-artikel di internet bahwa memutus persahabatan adalah sebuah pilihan yang dapat diambil.
Keputusan untuk pergi itu pun tidak mudah, karena lagi-lagi, dilema yang saya alami: kadang-kadang rasa kagum terhadap dirinya, perasaan rugi setelah melakukan "investasi" dalam pertemanan ini untuk sekian lama dan juga kenangan indah di awal persahabatan kami membuat saya menahan-nahan kembali keputusan saya.
Mungkin banyak orang yang akan paham mengenai dinamika "love-hate" yang terjadi di sini. Melepaskan seorang teman toksik ternyata sama susahnya dengan melepaskan seorang pasangan yang abusive.
Setelah mengambil keputusan tersebut, yang pada akhirnya siap dilakukan setelah saya memiliki beberapa teman dan kegiatan baru untuk mengisi ceruk kosong yang akan ditinggalkan oleh sahabat saya, saya pun terkejut saat melihat betapa pesatnya perkembangan hidup saya setelah meninggalkan dirinya. Pintu-pintu baru kemudian terbuka terhadap orang-orang baru, kesempatan-kesempatan baru.
Tiba-tiba karir saya di kantor juga mulai menanjak dan saya mulai dipercayai untuk memegang tugas-tugas penting. Saya berusaha menjelaskan perubahan positif ini dengan berpikir bahwa ketika saya masih berteman dengan si mantan sahabat saya itu, semua perkataan dan perbuatan buruknya mungkin telah merusak rasa percaya diri dan mengganggu emosi saya sedemikian rupa, sehingga menjerumuskan seluruh aspek dari hidup saya.
Buktinya, begitu ia pergi, tiba-tiba begitu banyak pintu baru yang terbuka buat saya.
Saya pun merasa diri saya lebih bahagia, banyak rekan kerja saya di kantor mengakui bahwa saya pun tampak lebih percaya diri, sesuatu yang juga saya rasakan dalam kehidupan pribadi dan pekerjaan saya.
Namun rasa kebencian terhadap si mantan sahabat dan apa yang telah ia lakukan selama lebih dari empat tahun, yang saya rasakan merusak rasa percaya diri saya, itu tidak pernah pudar dari benak saya. Saya pun marah terhadap diri saya sendiri karena membiarkan diri saya tinggal dalam hubungan yang begitu merusaknya selama bertahun-tahun. Beberapa waktu lalu, dilema ini sempat kembali ketika tanpa sengaja saya berpapasan dengan dirinya di suatu tempat.
Saya sempat dibuat cemas karena fakta bahwa saya tetap diliputi kebencian dan kecemasan terhadap dirinya meskipun sudah tiga tahun berpisah menandakan bahwa saya belum bisa move on, sesuatu yang tidak seharusnya terjadi.
Akhirnya, dalam proses untuk bisa melupakan dendam itu, saya pun melakukan beberapa evaluasi diri. Demikianlah beberapa pelajaran yang mungkin bisa saya bagikan untuk orang-orang dengan permasalahan yang sama dengan seorang teman toksik berdasarkan pengalaman saya pribadi:
1. Ada baiknya bahwa kita berani membuka diri pada sebuah hubungan persahabatan hanya kalau diri kita sudah siap, ketika kita memiliki harga diri dan kepercayaan diri yang baik.
2. Boleh mengagumi orang lain, namun jangan sampai tiba pada kekaguman buta dimana kita kemudian menggantungkan harga diri dan kepercayaan diri kita pada penilaiannya. Bagaimanapun cerdasnya seseorang, betapapun suksesnya dia, tidak lantas berarti bahwa ia punya wewenang untuk mengomentari segala hal, apalagi kalau komentarnya itu sudah bersifat menyakiti atau melecehkan.
3. Jangan sungkan memutus hubungan. Kesalahan saya adalah terlalu tidak enak hati dan terlalu sungkan untuk melepaskan diri dari mantan sahabat saya ini, sehingga selama enam tahun, dendam yang tertumpuk sudah begitu banyak dan meracuni benak saya. Kapan harus memutus hubungan? Sederhana saja. Kalau kamu mulai merasa takut dan tidak nyaman saat terpikir harus bertemu dan berbincang dengan seorang teman, itu artinya ia adalah seseorang yang membuatmu terpuruk alih-alih mengangkat semua potensi positifmu. Tinggalkan saja.
4. Tetap berkegiatan yang positif, dikelilingi oleh orang-orang yang juga positif. Terkadang, rasa sedih atau marah yang kita miliki selepas memutus hubungan dengan seorang teman bisa mendorong kita untuk kemudian mengurung diri atau memisahkan diri dari orang lain. Pada kenyataannya, kegiatan positif adalah suatu hal yang bukan hanya dapat mengisi kekosongan batin kita selepas perpisahan, namun juga membantu kita untuk menciptakan situasi normal baru bagi diri kita pasca-perpisahan dan dengan demikian, membantu kita untuk kemudian merelakan dan melepaskan masa lalu kita dengan si mantan sahabat ini.
Semoga kita senantiasa diberi kebijaksanaan untuk menyerap pelajaran dari pengalaman buruk kita, alih-alih tenggelam dalam dendam yang tidak ada habisnya. Ini memang tidak mudah, namun dengan langkah-langkah kecil yang bisa diterapkan dari hari ke hari, semoga luka kita pelan-pelan disembuhkan.