Tahun akan segera berganti dalam hitungan jari. Di mata saya, tidak harus menunggu tahun baru untuk memulai kembali. Kapan saja kamu mau, kamu dapat menjadi dirimu yang baru. Kamu dapat memulai kembali untuk menjadi lebih baik

Angan-angan pilu pun perlahan-lahan menghilang

Dan kabut sendu pun berganti menjadi rindu

Sejak saat itu langit senja tak lagi sama

Lagu Memulai Kembali milik Monita Tahalea dapat menggambarkan bagaimana saya memaknai perjalanan tahun ini.

***

Semua terasa begitu cepat.

Tahun ini adalah tahun yang begitu melelahkan bagi saya. Baru memasuki bulan ketiga, saya sudah dihadapkan oleh patah hati hebat. Kisah cinta saya gagal lagi untuk kesekian kali. Semua terasa semakin berat karena saya berusaha untuk berpura-pura kuat. Saya berusaha untuk menyangkal semua kesedihan yang saya rasakan. Saya buru-buru memangkas emosi marah dan sedih yang hadir.

Yang saya pikirkan saat itu adalah jangan sampai patah hati ini mengganggu aktivitas harian saya. Tidak di kantor tempat saya magang, tidak pula dalam pengerjaan tugas akhir saya. Kenyataannya, semua hal yang saya lakukan berantakan. Meskipun pada akhirnya semua tugas selesai, saya menyadari hasilnya jauh dari kata sempurna.

Sistem tubuh saya kacau. Saya tahu ada yang salah dengan diri saya. Saya pernah mencoba menangis, tapi tidak bisa. Saya tahu ini terjadi karena saya membabat habis setiap kesedihan dan kemarahan yang datang.

Ternyata, ada yang lebih menyakitkan daripada patah hati. Yaitu saat diri saya menolak mengakui bahwa saya sedang rapuh. Saat diri saya berpura-pura bahwa patah hati kali ini biasa saja. Saya tidak ingin terlihat lemah. Saya pikir, menangis karena putus cinta adalah alasan yang konyol. Padahal, rasa pedih itu semakin lama semakin menggerogoti.

Saya perlu waktu berminggu-minggu untuk belajar menerima seluruh perasaan saya.

Beruntung, saya dipertemukan dengan orang-orang yang begitu peduli. Dari mereka, saya belajar bahwa tidak apa-apa untuk merasa tidak baik-baik saja. Saya kembali belajar untuk menerima diri sendiri. Saya belajar untuk mendengarkan apa yang saya rasakan. Saya mencoba menajamkan rasa, yang mana pilihan yang lebih baik bagi saya: menyangkal atau menerima.

Saya mulai menyadari bahwa pada akhirnya saya hanya manusia, dengan segala cerita dan emosi yang melekat. Tidak harus selalu bahagia. Kadang rasa sedih dan kecewa adalah yang saya butuhkan untuk lebih menghargai kuasa-Nya.

Perlahan tetapi pasti, saya belajar untuk menerima dan melepaskan kesedihan saya.

Lalu Tuhan menghadirkan pengalaman-pengalaman yang menghibur. Saya berhasil memperoleh gelar Sarjana Psikologi tahun ini. Saya juga berhasil mengikuti beberapa kegiatan di luar zona nyaman saya.

Patah hati memberikan saya perspektif baru tentang hidup.

Patah hati membuat saya menjadi diri yang baru.

Sempat terpikir oleh saya untuk menjauhi apapun yang berhubungan dengan cinta-cintaan. Di satu waktu, saya bahkan merasa tidak ingin jatuh cinta. Nyatanya, hidup adalah serangkaian kejadian yang tak terduga. Semuanya bersifat sementara, begitu halnya dengan kesedihan yang saya rasakan. Bulan-bulan melelahkan berhasil saya lewati.

Dan di penghujung tahun ini, saya kembali jatuh cinta dengan orang yang baru.