“Orang miskin tak boleh sakit." Itu komentar seorang teman dalam sebuah kelompok obrolan dimana saya adalah salah satu anggotanya.
Kaya atau miskin, jika bisa memilih, tentu kita semua akan memilih untuk selalu sehat. Apakah sehat tidak bisa diupayakan? Tentu bisa, jika penyakit itu disebabkan gaya hidup.
Tetapi ketika penyakit itu hadir karena genetik, atau oleh suatu sebab yang tidak diketahui, bisakah kita tawar menawar dengan ‘nasib’?
Pertengahan Juli lalu, sebuah pesan muncul di layar ponsel saya. Dari adik bungsu saya, yang sedang menunggu kehadiran anak pertama. Menyampaikan bahwa semalam, istrinya, Marina, masuk ICU. Usia kandungannya baru memasuki 33 minggu.
Di awal bulan itu, adik tengah saya, menyampaikan dugaan akan pre-eklamsia adik ipar saya itu. Ia curiga karena keadaan Marina mirip istrinya ketika mengandung anak kedua, sembilan tahun lalu.
Pre-eklamsia adalah kondisi ibu dalam keadaan hamil yang tiba-tiba tekanan darahnya naik tak terkontrol.
Mencapai 170, bahkan 200. Tekanan darah yang tinggi itu bisa menyebabkan aliran oksigen ke janin terhambat, sehingga bayi tidak berkembang. Jika tekanan darah tidak bisa diturunkan sampai batas normal, maka bayi harus dilahirkan ‘paksa’ dengan operasi Caesar, untuk dibesarkan di luar, dalam inkubator.
Setelah mendengar dugaan itu, saya sempat bicara dengan Marina, tentang tekanan darahnya. Tapi menurutnya, dokter kandungannya sudah memastikan bahwa ia tidak pre-eklamsia. Hanya tekanan darahnya naik ‘sedikit’. Dan tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Saya tidak mendengar apa-apa lagi, sampai dua minggu kemudian.
Bahwa ia masuk ICU.
Dan kondisinya kritis.
Rupanya selama satu minggu terakhir, tekanan darah Marina tidak turun-turun. Ia dilarikan ke rumah sakit ketika ia kesulitan bernapas. Tubuh dan seluruh anggota badannya sudah membengkak. Matanya hampir tak terlihat karena menjelma seperti Garfield. Jari jemarinya serupa pisang susu. Dan napasnya sangat berat. Ia seperti baru saja berlari jarak jauh. Terengah-engah dengan susah payah.
Suaminya panik. Bingung.
Adik tengah saya, mengusulkan ia untuk menghubungi dokter yang menangani istrinya dulu. Untunglah dokter ini, seorang dokter berhati emas. Ia dokter kandungan senior, tetapi penuh rasa kemanusiaan. Ia langsung menangani Marina. Mencarikannya tempat di ruang ICU, Marina langsung masuk. Padahal biasanya rumah sakit itu selalu penuh. Dan para pesakitan harus antri menunggu
Setelah pemeriksaan, dokter menyampaikan bahwa paru-paru Marina sudah terendam air. Ada dugaan ginjalnya bocor, karena itu tidak bisa menahan protein. Protein Marina terbuang terus dari urine. Protein berfungsi mengikat air dalam darah. Karena proteinnya terbuang terus, maka air tubuh Marina terperangkap di bawah kulit. Itu sebabnya seluruh tubuhnya menggembung seperti mengidap beri-beri, dan ia lemas tanpa tenaga. Dalam pemeriksaan itu juga, terlihat jantungnya sudah membengkak.
Sang dokter, dengan sangat berat hati, berkata bahwa kondisi Marina sangat sulit. Ada dua nyawa yang harus diselamatkannya. Sementara kondisinya sangat berlawanan. Jika ia memberi obat untuk membuang air di tubuh sang ibu agar paru-parunya tidak lagi terendam, maka sang bayi akan kekurangan cairan.
“Ini kondisi yang sulit. Sulit sekali. Tadi pagi, saya khusus berdoa agar Tuhan menyelamatkan Marina. Saya harus berkata pahit, bahwa ibunyalah yang menjadi prioritas. Sang bayi, kita serahkan pada Tuhan."
Sang suami, terduduk dengan kepala menyandar di tembok rumah sakit. Kehilangan kata. Matanya menerawang. Kenyataan lebih pahit apa yang bisa didengar seorang suami, selain sebuah kemungkinan bahwa ia bisa kehilangan istri dan bayinya yang belum lahir? Bersamaan?
Saat itu, ia tidak memikirkan biaya yang harus dibayarnya kemudian.
Tim dokter berembuk dan memutuskan bahwa setelah tekanan darah Marina cukup ‘stabil’ bayinya harus dikeluarkan agar penanganan ginjal, paru, jantung, atau apapun itu, lebih mudah. Sang suami dipaksa untuk memutuskan segera. Setuju atau tidak. Ketika memutuskan setuju, ia juga berarti siap kehilangan sang bayi.
Apa lagi yang bisa dilakukan selain berdoa?
Ada sebuah adegan film yang sangat berkesan bagi saya. Judul film itu “Heaven is For Real”. Film itu diangkat dari kisah nyata. Sebuah film lama yang saya tonton tanpa sengaja di TV ketika saya mencari-cari channel menjelang tidur. Film itu tentang sebuah keluarga pendeta di kota kecil di Kansas, yang kesulitan ekonomi hingga sang suami harus merangkap 3 jenis pekerjaan sekaligus. Suatu ketika anak lelakinya yang berusia empat tahun hampir meninggal karena usus buntunya pecah.
Dalam keadaan putus asa, sang Pendeta marah pada Tuhan. Sang ibu menangis di telepon, bercerita pada anggota gereja yang lain. Karena keluarga pendeta ini disukai, seluruh warga kota yang mengenal mereka memanjatkan doa. Berita itu menyebar, dan kian banyak orang yang berdoa. Doa-doa yang diucapkan menjadi gaung di seantero kota. Dan anak pendeta itu selamat.
Adegan itu membuat saya merinding. Betapa ajaibnya kekuatan doa.
Saat mendengar keadaan Marina, adik tengah saya meminta saya menyebar berita di Twitter. Saya membuat tagar #DoaUntukMarina. Mencolek akun-akun dengan pengikut banyak (saya minta maaf jika ada yang merasa terganggu). Saya bagi berita itu juga di Facebook. Dan Path, meskipun teman saya di Path hanya sedikit.
Mungkin banyak yang mempertanyakan motivasi saya. Memang Marina hanya seorang guru SD. Ia tidak memiliki asuransi, juga bukan pemilik BPJS. Jika ada yang tergerak mengulurkan bantuan, tentu ia akan sangat berterima kasih.
Tetapi saya hanya ingin dukungan doa. Saya percaya doa yang dipanjatkan banyak orang, bisa membawa keajaiban.
Dan memang, dalam ‘kesombongan’ Jakarta, banyak hati-hati yang tersentuh. Membagikan ulang tagar tersebut. Saya sangat terharu dibuatnya. Mereka tidak mengenal Marina, tapi mau meluangkan waktu untuk membagi berita, menuliskan doa, bahkan ada yang mengatakan akan khusus berdoa Novena. Bagi saya, mereka adalah malaikat-malaikat tak bersayap dengan beribu wajah. Adalah ketulusan dari doa yang diucapkan yang saya yakin, didengar Sang Pencipta.
Dalam pergumulan antara hidup dan ajal, ketika dibedah di meja operasi, dokter menemukan kenyataan pahit lain. Sang bayi, letaknya menyilang, terbelit dan terhalang plasenta. Tetapi, meski sudah menyatakan bahwa mereka ‘hanya’ akan berupaya menyelamatkan sang ibu, mereka tetap berupaya memberikan kehidupan bagi sang bayi.
Sempat tak bernapas selama sekian detik, dan kejang-kejang ketika masuk di NICU (Natal Intenstive Care Unit) sang bayi, bisa diselamatkan. Seorang bayi perempuan. Hadir di dunia dengan berat 1.5 kg. Dipasangi ventilator, alat bantu napas, tabung oksigen, monitor jantung, dan segala kabel yang membuat miris. Tapi ia hidup. Sungguh ia seorang pejuang.
Marina, berangsur membaik. Bengkak di tubuhnya hilang. Tekanan darah perlahan berangsur normal. Menurut adik tengah saya, jika melihat kondisinya ketika ia masuk ICU, tidak ada yang mengira ia punya harapan.
Dan beribu wajah malaikat tak bersayap masih bermunculan. Sang dokter kandungan dan dokter jantung, membebaskan Marina dari kewajiban bayar. Mereka berdua memberi jasa cuma-cuma. Mereka dokter-dokter berhati besar.
Di antara pembaca Twitter, juga ada seorang wartawan, yang memberi perhatian lebih. Darinyalah, sang suami mendapat informasi bagaimana memproses surat keterangan agar memperoleh keringanan biaya rumah sakit. Setidaknya, biaya 1 hari di ruang ICU sudah dikurangi.
Biarlah Tuhan membalas berlipat kali, untuk segala bentuk bantuan yang sudah diterima Marina. Bagi saya pribadi, peristiwa ini mengajarkan satu hal: “Miracle still happens. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan."
Dan mungkin, ketika kita mampu berendah hati untuk menerima, Semesta pun akan membukakan jalan agar kita diberi.