Tumbuh besar di Jakarta dengan hiruk-pikuk yang tak ada habisnya, kemacetan yang semakin menjadi-jadi, juga polusi yang membuat napas tercekik terkadang membuat saya ingin lari saja. Rasanya masih ada tempat lain yang lebih layak untuk memulai hidup baru dari awal.
Namun, saya enggan menghibur diri dengan bayangan itu--karena bagaimanapun, kenyataannya keluarga, kawan-kawan dan lingkungan sosial saya berakar di kota metropolitan ini. Sampai sesuatu yang tak terduga menjadikan ide itu sebuah kenyataan: suami saya adalah orang Indonesia yang menjadi warga negara Amerika Serikat.
***
Saya nyaris tak bisa memercayainya: saya sungguh-sungguh bisa memulai hidup baru di Amerika Serikat! Negara yang kata orang menawarkan 'sejuta mimpi'. Ada sistem transportasi yang baik, tata-kota yang menjanjikan, keteraturan dan kebebasan yang saling berdampingan. Ah! Betapa menyenangkannya!
Bulan-bulan pertama saya di Amerika Serikat merupakan salah satu pengalaman terindah dalam hidup saya. Bagaimana tidak? Saya dan suami menghabiskannya dengan perjalanan romantis mengunjungi Hollywood, Beverly Hills, dan Disneyland--yang sejak dulu hanya biasa saya lihat di televisi atau majalah-majalah! Belum lagi ketika kami memuaskan kegemaran kuliner kami dengan mencicipi berbagai jenis makanan dari seluruh penjuru dunia!
Saya ingat, menit pertama melangkahkan kaki keluar dari bandara LAX di Los Angeles, hal pertama yang saya pekikkan adalah: "Wah, langitnya biru sekali!" Saat itu hari sudah larut, namun bintang-bintang terlihat jelas di langit yang begitu jernih. Warnanya biru tua, mengingatkan saya akan kedalaman laut Pasifik.
Perjalanan-perjalanan lain menyusul setelahnya. Mengikuti penugasan suami, dalam kurun waktu tiga tahun ini, saya sudah menjelajahi 12 negara bagian Amerika Serikat. Sayangnya, semua tak lagi terasa seindah bayangan saya dahulu.
Saya dihadapkan pada kenyataan bahwa saya memang bisa melarikan diri dari 'kesumpekan' saya di kota besar macam Jakarta, hanya untuk menemui tantangan-tantangan baru yang sama sekali tak ringan.
Tantangan pertama yang harus saya hadapi adalah anggapan bahwa para pendatang hanya bisa bekerja seadanya, tak bisa melebihi lulusan Amerika.
Saya menolak mengikuti norma yang berlaku untuk mencari kerja apa saja, secepatnya, sekadar untuk mencari pemasukan. Suami saya tidak diijinkan oleh orang tuanya untuk bekerja asal saja demi mencari pemasukan--karena ia memiliki gelar S1 dari Amerika.
Saya pikir, hey, saya juga memegang ijasah S1, meskipun dari Indonesia! Lalu mengapa saya harus menurunkan standar pekerjaan yang saya inginkan karena ijasah saya bukan cap Amerika? Saya percaya pada latar belakang pendidikan, pengalaman, dan kemampuan saya untuk berkompetisi dengan lulusan Amerika lainnya demi mendapatkan pekerjaan di perusahaan yang bermutu.
Butuh waktu enam bulan dan enam wawancara untuk tiga posisi berbeda di sebuah perusahaan dimana saya bekerja beberapa bulan; sebelum akhirnya saya harus berpindah kota mengikuti suami saya yang baru saja masuk Angkatan Udara Amerika Serikat. Pemasukan saya ketika bekerja saat itu ternyata lebih tinggi dari suami saya yang lulusan Amerika. Saat itulah saya sadar bahwa kemampuan dan kesempatan datang dari diri kita sendiri.
Jangan menyerah atau putus harapan, jangan biarkan orang memberitahu kita apa yang tidak bisa kita lakukan.
Tantangan kedua muncul ketika saya menyadari tidak semua profesi yang sesuai bidang saya tersedia di suatu kota; dan memilih keluarga berarti mengorbankan karir.
Saya dan suami harus pindah ke sebuah kota kecil bernama Panama City di Florida. Pantai putihnya seperti lautan pasir dengan nuansa merah, ungu, dan taburan berbagai jenis kerang. Satu minggu setelah kepindahan kami, baru saya merasakan apa yang dinamakan cultural shock. Setelah beberapa bulan, baru saya temui dua atau tiga orang Asia lain di daerah kami. Tempat makanan Asia yang tersedia hanya dua, salah satunya adalah 'warung' makan Korea yang sangat kecil. Dan tidak ada tempat membeli bahan pangan untuk memasak masakan Indonesia.
Sungguh, saat itu saya merasa begitu asing dan kesepian. Apalagi setelah mengetahui bahwa profesi yang sesuai bidang saya seakan tak ada di kota ini! Saya pun berhenti mencari pekerjaan setelah 3 bulan, dan berusaha mengatasi gelombang depresi yang saya alami. Baru saya sadari kini, bahwa penduduk Amerika Serikat pun harus pindah ke kota-kota besar demi mengejar karir impian. Sama saja dengan yang kita alami di Indonesia. Tak jarang, kita harus memilih antara keluarga dan karir. Satu pihak harus mengalah agar yang lain bisa bersinar.
Terkadang kita harus mengalah untuk menang; menggali hati bersama pasangan untuk menentukan prioritas keluarga sebagai satu kesatuan.
Tantangan ketiga muncul ketika harapan untuk menemukan komunitas, perkumpulan, dan rekan sehati tak kunjung tiba.
Tentu seiring perjalanan, saya akhirnya bekerja. Ikut kelas orkestra. Mengambil kelas komputer. Belakangan saya pun mulai berkenalan dengan para istri militer rekan suami saya. Tidak sedikit juga kenalan baru yang saya dapat selama tiga tahun belakangan ini. Namun, rasa asing selalu muncul. Apalagi ketika orang-orang di sekitar telah mengenal satu sama lain sekian lama, dan kita seakan berdiri di luar lingkaran. Saya berusaha untuk berbaur, namun warna kulit dan paras yang berbeda tetap menempatkan saya di luar lingkungan orang-orang berkulit putih lainnya.
Meskipun saya menemukan tempat-tempat dimana saya bisa berbaur, namun individualisme warga Amerika Serikat begitu berbeda dengan orang Indonesia. Di Indonesia, kita selalu mengutamakan keramah-tamahan; dan selalu ada keingintahuan yang menyenangkan untuk mengenal satu sama lain lebih dekat. Lingkup pergaulan yang berbeda, sudut pandang akan prioritas kehidupan, sejarah masa lalu keluarga, dan pola kehidupan yang berbeda... semua ini berperan dalam munculnya rasa terasing yang saya alami ketika tercerabut dari tempat saya dibesarkan. Tempat yang dulu kadang terasa menyesakkan, namun kini saya rindukan kenyamanannya.
Keluarga dan sahabat sejati terkadang jauh di mata tetapi dekat di hati. Nikmati waktu yang kita miliki bersama mereka setiap saat, karena kita tidak tahu kemana masa depan akan membawa kita.
Tantangan selanjutnya berupa rasa depresi dan hilangnya percaya diri yang kesekian kalinya; dan kali ini saya menyerah.
Beberapa bulan setelah kepindahan saya ke kota yang kini saya tinggali, saya tidak dapat menemukan pekerjaan di bidang komunikasi seperti yang saya inginkan. Nama jalan yang sekali lagi asing, perilaku orang-orang yang kian berbeda dari kota sebelumnya, pola hidup yang berbeda... semuanya membuat saya lelah.
Ketika setahun kemudian saya akhirnya menemukan lowongan pekerjaan sesuai dengan yang saya inginkan, saya baru mengetahui: bahwa saya hamil. Untuk yang pertama kalinya.
Saya menyesal karena tidak mendengarkan kata hati saya saat itu, yang berbisik untuk tetap melamar pekerjaan tersebut. Saya malah mendengarkan beberapa anggota keluarga yang mengatakan bahwa sebaiknya saya tidak usah bekerja dulu demi menjaga kehamilan.
Bulan demi bulan berlalu, dan semakin besar kehamilan saya, semakin saya ragu untuk melamar pekerjaan di bidang komunikasi yang, saya tahu, akan cukup menantang. Rasa takut ini, ditambah kekhawatiran menanti lahirnya anak pertama, membuat saya semakin ragu-ragu.
Bayangkan betapa berbedanya hidup kita sekarang jika kita mengambil resiko demi mengikuti kata hati kita tanpa rasa takut, tanpa keraguan, dan dengan kepercayaan diri sepenuhnya.
***
Saya terkadang melihat kehidupan orang lain dan membatin betapa kehidupan mereka begitu indah, begitu mudah, begitu sukses. Di dunia yang penuh konsumerisme ini, ketika produk baru, tempat wisata baru, bidang pekerjaan yang sebelumnya tak diperlukan, dan sebagainya bermunculan, sangat mudah bagi kita untuk cepat merasa tidak puas. Merasa ingin untuk memiliki lebih. Agar kita bisa lebih merasakan hidup lagi.
Terkadang, dalam memuaskan keinginan tersebut kita melupakan apa yang kita miliki.
Saya teringat betapa seringnya saya merutuki Jakarta dan kemacetannya, ketidakteraturannya, polusinya... dan menghitung-hitung waktu hingga saya bisa meninggalkan kota yang sesak ini di belakang. I thought, then, I would be happier. Tapi kini saya kangen Jakarta, yang juga memberikan saya makanan rumah yang hangat, berbagai jajanan lezat, kenyamanan dikelilingi kawan-kawan semasa kecil, pekerjaan dan karir yang menjanjikan. Bahkan saya juga kangen semua kesesakan yang dulu membuat saya frustrasi.
Dan di sinilah saya sekarang, di Amerika Serikat--kota sejuta mimpi yang saya pikir akan memberikan saya lebih banyak kebahagiaan. Kita bisa berpikir bahwa ada suatu tempat di belahan dunia lain yang begitu indah. Yang begitu sempurna untuk kita. Dan kita siap meninggalkan semua yang kita punya demi menuju ke sana. Namun, suatu hari nanti, mungkin kita akan melihat kembali tempat asal kita--yang dulu dengan terburu kita tinggalkan. Lalu ada kerinduan yang indah dan menyesakkan pecah di dalam dada.