Saya menyusun list ini untuk merayakan ulang tahun perkawinan saya beberapa tahun lalu--yang jatuh pada tanggal 12 Februari. Pada saat itu, saya menyusunnya untuk kawan-kawan perempuan saya yang masih mencari cinta--ataupun mereka yang sudah menikah; agar kita dapat selalu mengingat apa artinya berada dalam sebuah hubungan--dan bagaimana kita dapat terus berkembang bersama-sama.
Memang tak ada manusia yang sempurna, terutama jika kita bicara mengenai laki-laki. Mereka sama saja seperti kita, manusiawi. Laki-laki yang baik sulit ditemukan, tetapi yang lebih sulit lagi adalah menemukan suami yang baik. Kita akan tahu ketika kita telah menemukan seseorang yang akan membuat kita bisa membayangkan seperti apa rasanya menghabiskan hidup kita bersamanya, melalui cobaan berat dengan bergandengan tangan. Meksipun demikian, terkadang kita melupakan hal-hal mendasar dalam hidup yang kita butuhkan. Cinta saja tidak cukup
Ada banyak faktor yang menentukan apakah 'dialah' orang yang tepat untukmu, misalnya kesiapan dirinya untuk berkomitmen. Terkadang tak semudah itu--atau terkadang malah bisa jadi lebih mudah untuk mengetahuinya. Inilah 10 tanda bahwa kamu bisa mengambil keputusan tepat untuk menikahi lelakimu, yang sudah saya kumpulkan sejauh ini:
1. Ia seorang gentleman.
Ini agak sulit untuk diketahui--terutama karena ketika baru pertama kali bertemu, mereka bisa saja bertindak seperti seorang gentleman, tetapi setelah beberapa waktu tiba-tiba sikap baiknya seperti hilang begitu saja, dan ia menjadi orang yang egois dan tidak pedulian. Menurut kamus Merriam-Webster, seorang gentleman adalah 'laki-laki yang sikapnya menjunjung tinggi standar perilaku yang pantas dan benar'.
Kita ingin berdampingan dengan seseorang yang peduli terhadap kita dan keluarga kita. Mungkin butuh waktu yang lama untuk benar-benar mengetahui apakah seorang lelaki adalah gentleman atau bukan, namun setidaknya ada beberapa tanda yang bisa dijadikan petunjuk, misalnya ia memperlakukan keluarganya dan keluargamu dengan baik, bersikap sopan kepada siapa saja--seperti pelayan di restoran, atau karyawan di perusahaannya, tidak mudah berbicara kasar atau tersulut emosinya, memastikan kita sampai di rumah dengan selamat ketika kita pulang malam hari, dan sebagainya. Hal-hal yang paling kecil adalah hal yang paling penting!
2. Kamu adalah hal yang terpenting di dunia baginya.
Saya pernah menghabiskan begitu banyak waktu untuk menjadikan diri saya lebih penting dari kawan-kawan mantan saya, tetapi kita tak perlu melakukan hal ini jika pasangan kita benar-benar mencintai kita. Ia akan menempatkan kita di atas kawan-kawan dan keluarganya--tanpa mengabaikan mereka. Ia akan selalu membuat kita menjadi bagian dari kawan dan keluarganya, membuat kita merasa diterima dan disambut dengan baik, dan ia juga akan sangat senang jika kita bisa menjadi diri kita sendiri, apa adanya, di depan kawan-kawan dan keluarganya.
3. Ia tidak menghakimi masa lalumu, masa kinimu, dan masa depanmu, karena ia paham benar siapa dirimu sebenarnya.
Hal paling penting dan utama dalam sebuah hubungan yang baik adalah kejujuran. Kita tak akan pernah tahu reaksi pasangan kita terhadap kejujuran--apakah ia akan memunculkan sikap abusifnya, atau justru sikapnya yang penuh pengertian, rasa hormat, dan rasa percaya. Kita akan tahu ketika pasangan kita punya kemampuan untuk mencintai jika ia bisa menerima kita apa adanya, tak peduli seberapa kelam masa lalu kita--dan tetap menghormati kita seakan-akan kita adalah perempuan paling luar biasa yang pernah ia temui. Dan kita merasa bisa mempercayakan hidup kita kepadanya.
Lebih penting lagi dari ini, adalah jika pasangan kita juga bisa melakukan hal yang sama: seseorang yang akan memberitahukan kejujuran kepada kita tak peduli betapa menyakitkannya semua itu, seseorang yang bisa membuka hatinya kepada kita dan bersedia menjadi rapuh--yakin bahwa ia bisa mempercayakan diri dan hidupnya kepada kita. Inilah kepercayaan yang saling timbal-balik, hubungan yang seimbang.
4. Ia memastikan bahwa kebutuhanmu terpenuhi: baik secara fisik, mental, dan spiritual.
Pelajaran yang terkadang datang terlalu terlambat adalah kesadaran bahwa cinta saja tidak cukup. Cinta itu buta. Kita perlu melihat lebih dari itu dan bertanya pada diri kita sendiri, "Apakah saya dan pasangan saya bisa bertumbuh bersama-sama?"
Hubungan perlu bertumbuh. Oleh karenanya, kita dan pasangan kita harus terus menyirami cinta itu: memberikan kebutuhan fisik (makanan, tempat berlindung, keintiman), membangun keluarga (dengan kebijakan, saling mendukung, dan kesabaran), serta bertumbuh bersama dengan landasan yag kuat (kepercayaan, harapan, dan tujuan yang selaras).
5. Ketika ia bisa memahami apa yang kamu maksudkan di balik ucapanmu, ini adalah kunci untuk komunikasi yang baik.
Kebanyakan orang akan setuju bahwa komunikasi dengan pasangan adalah salah satu hal terpenting dalam suatu hubungan, seperti yang biasa diajarkan dalam konseling pra-nikah. Saya bicara mengenai hal ini dengan kawan saya, dan ia mengatakan sesuatu mengenai 'komunikasi' yang seutuhnya mengubah cara pandang saya mengenai hal ini.
Kita semua akan setuju bahwa setiap hubungan hanya akan bekerja dengan adanya usaha dari kedua belah pihak. Hal ini membutuhkan kita untuk bisa membuka dan berbagi pemikiran, harapan, dan keinginan kita kepada satu sama lain.
Tetapi satu hal yang tak banyak disadari atau banyak dilupakan orang (seperti saya) adalah bahwa komunikasi itu tidak bisa diukur 'apa adanya'. Terkadang, seseorang mengatakan sesuatu yang berkebalikan dengan apa yang sesungguhnya mereka rasakan. Memiliki seseorang yang bisa mengerti apa sungguh-sungguh kita inginkan dan butuhkan adalah sebuah anugerah--terutama ketika kita sedang berada dalam situasi yang berat, atau dalam suasana hati yang buruk.
6. Ia bersedia berkompromi. Ia bisa mencintaimu di saat-saat terburukmu, begitupun sebaliknya.
Tak ada orang yang sempurna. Terkadang kita bermimpi terlalu banyak dan mengharapkan seorang ksatria yang mengendarai BMW putih, tapi... hei, ini saatnya untuk menyadari bahwa kenyataan itu pahit. Sebagai perempuan, kita juga tidak serba-sempurna, dan bukannya tak jarang juga para lelaki kemudian mundur ketika mereka melihat kita mengamuk, menangis histeris, marah-marah, atau berada dalam suasana hati yang luar-biasa buruk.
Inti dari semua ini adalah untuk menemukan seseorang yang dapat menerima diri kita apa adanya: ketika kita sedang merasa sangat jelek, ketika kita baru saja melewati hari yang sangat buruk, ketika semua hal sepertinya berjalan ke arah yang salah dan kita membuat kesalahan besar. Orang yang tepat akan berada di samping kita tak peduli seberapa buruknya kita--atau hidup kita. Seseorang ini akan bersedia berkompromi dengan 'impian sempurna'-nya, dan membangun hidup yang tak sempurna dengan kita untuk menggapai impian baru bersama-sama, sedikit demi sedikit.
7. Kalian berbagi tujuan yang sama: tentang apa yang kalian inginkan dalam hidup ini, bagaimana menjalani hidup, dan keluarga semacam apa yang ingin kalian bangun.
Sebagian orang lebih suka mengejar karir daripada memilik anak. Sebagian lagi gemar menghabiskan tabungan untuk berjalan-jalan, sementara sebagian lagi memilih menggunakannya untuk menyicil rumah. Hubungan bisa menjadi sulit ketika dua orang punya ide yang berbeda tentang bagaimana mereka ingin menghabiskan waktu, tabungan, maupun sumber daya lain yang mereka miliki. Penting sekali bahwa kita dan pasangan memiliki pengertian dan kesepahaman mengenai hal-hal ini, karena landasan ini akan menentukan kehidupan rumah-tangga dan keluarga semacam apa yang akan kita bangun di masa depan.
8. Memiliki kesamaan itu penting: dari gaya hidup, ketertarikan, preferensi, apapun.
Kita tumbuh dalam kultur, masyarakat, dan norma yang terkadang berbeda dari pasangan kita. Keluarga yang berbeda juga punya nilai-nilai yang berbeda, dan kita tumbuh besar dengan nilai-nilai ini tertanam dalam diri kita. Ini menjadikan kita memiliki kepribadian yang berbeda dengan berbagai gaya hidup yang berbeda pula.
Akan jadi tantangan berat untuk seseorang yang sangat religius dan lebih menyukai menghabiskan malam Minggu di rumah, menonton film--jika berpasangan dengan seseorang yang tak religius dan lebih suka menghabiskan akhir pekan di klub malam untuk minum-minum dan mabuk-mabukan. Tentu, bukan tak mungkin membangun hubungan seperti ini, tetapi ingatlah bahwa hubungan juga terkait dengan kecocokan.
9. Chemistry itu penting. Menikmati keintiman dan romantisme dengan satu sama lain akan menjadi dasar dari hubungan yang hebat. Sebuah ikatan. Kepercayaan.
Tak bisa disangkal, bahwa chemistry yang hebat akan mengarah pada keintiman, yang akhirnya akan menimbulkan interaksi seksual dan menciptakan semacam ikatan antara satu sama lain. Karenanya, penting juga untuk mengetahui bagaimana persepsi pasangan kita mengenai seks: seberapa sering, apa yang ia sukai, bagaimana ia merasa nyaman melakukannya. Sebagian orang tak mengetahui hal ini hingga mereka akhirnya menikah--dan di sinilah kompromi, pengorbanan, dan komunikasi harus bisa menjembataninya.
'Percikan cinta' sangat penting untuk tetap dijaga agar terus hidup selama bertahun-tahun, dan ini tak akan mudah. Mungkin 15 tahun dari sekarang, hal ini akan diuji kembali ketika secara fisik kita sudah berubah--dan sekretaris pasangan yang masih muda dan cantik bepergian untuk urusan bisnis dengan pasangan kita, sementara kita berada di rumah mengurus 4 orang anak.
Keintiman dan hubungan seks yang sehat bisa membuat kita tahu bahwa kita masih tetap diinginkan, didambakan, dijaga, dan dicintai. Mungkin kita tak ingin mengakui hal ini--bahwa tanpa keintiman dan hubungan seks yang sehat, kita juga tetap bisa menjalani hubungan yang hebat. Tetapi coba bayangkan betapa berbedanya hidup kita jika kita juga bisa bersama-sama dengan seseorang yang dapat kita percayai untuk berbagi hasrat dan impian terdalam kita mengenai keintiman dan romantisme.
10. Kamu tersenyum ketika membayangkan bahwa 60 tahun lagi kamu akan berjalan bersama pasanganmu di pantai, masih berpegangan tangan, masih beradu argumen, tapi juga tetap masih berharap bisa mengecup pipinya yang keriput.
Pada akhirnya, semua kembali pada apa yang kita rasakan. Bayangan mengenai betapa hampanya hidup tanpa pasangan kita, tanpa mendengar tawa atau merasakan sentuhannya. Bayangan bahwa walaupun ada orang lain yang menggantikan tempatnya--namun di dalam hati kita, kita selalu tahu bahwa hidup kita tak akan pernah sama lagi tanpanya. Dan perasaan ini adalah perasaan yang ingin kita peluk erat-erat, kelembutan yang membuat kita ingin berbaring nyaman di sana: dan semua tantangan yang kita hadapi sehari-hari bersamanya, adalah tantangan-tantangan yang tak akan ragu kita hadapi.
***
Ada banyak hal lagi yang masih perlu kita pikirkan ketika kita bicara mengenai pernikahan. Mereka yang siap menikah mesti pula siap berkomitmen: komitmen seumur hidup, dalam suka dan duka, dalam hidup dan mati. Sebuah sumpah yang sepertinya sudah kehilangan makna di dunia modern, ketika tingkat perceraian terus meningkat. Memang, penting untuk mencintai seseorang, namun di saat yang sama, penting juga untuk memikirkan hal-hal kecil dalam hidup yang penting untuk kita.
Jangan menikahi seseorang hanya karena kita kasihan kepadanya; atau karena kita ingin lari untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Menikahlah dengan seseorang karena kita tahu bahwa bersamanya, kita dapat menjadi orang yang lebih baik.
Di akhir hari, dengarkan hati kita; dan cinta akan senantiasa membuka pintunya.