Ditulis untuk Hari Ayah Internasional dalam #KamaProject #tentangAyah
Hari belum malam benar saat aku sampai di rumah. Tapi, udara terasa sangat dingin setelah hujan mengguyur kota pelajar. Segelas besar jahe panas sudah ada di meja. Cukup untuk menghangatkan raga dan hati. Sehangat pesan sayang yang ingin disampaikan Bapak.
Bapak memang seperti itu, tak banyak bicara untuk menyampaikan maksudnya. Tidak ada kata-kata berbunga ala motivator untuk memberi semangat kepada anak-anaknya. Yang kami tahu pasti, Bapak selalu ada untuk kami. Sesederhana gelas jahe di meja setelah hujan reda.
Cita-citanya dititipkan dalam setiap cerita kehidupan masa lalunya. Tak pernah kami,anaknya, dituntut untuk menjadi ini dan itu. Kami belajar menangkap pesan dan makna dari rangkaian cerita ringannya. Bagi Bapak, yang terpenting hidup anaknya lebih baik dari hidupnya. Perjuangan, seperti yang dicontohkan oleh Bapak, adalah nafas kami.
Melihat anaknya menapaki tangga perguruan tinggi mungkin tak pernah jadi mimpi. Maka, saat aku lolos masuk di salah satu perguruan tinggi negeri, campur baur rasa di hati. Antara syukur tetapi juga bingung dengan biaya yang harus dipenuhi. Bapak tak sedang dalam posisi pekerjaan yang prima saat itu. Gaji yang diterima hanya cukup untuk kebutuhan dasar keluarga kami saja. Itu pun kadang gaji tak datang seminggu sekali. Maka, dengan meminta dukungan dari saudara, Bapak berhasil mengirimku ke perguruan tinggi. Itu pertama kali, setelah beranjak dewasa, kulihat matanya berkaca-kaca.
Saat memasuki tahun ketiga kuliahku, hampir semua mata kuliah menuntut usaha ekstra. Tak jarang aku pulang malam, bahkan beberapa kali perlu menginap di kos teman. Tak ada larangan, pun tak ada pesan tersurat yang mengekang. Bapak telah cukup membekali kami dengan pelajaran hidup yang dia jalani untuk selalu menjaga diri. Hanya sesekali pesan untuk ingat makan dan istirahat supaya tak kelelahan.
Terkadang, ketika Bapak sedang senggang, dari tangannya berbagai masakan sederhana terhidang. Masakan dengan bumbu kasih sayang. Bakmi rebus, kering tempe dan nasi goreng adalah beberapa menu yang sering dimasaknya. Bapak mewarisi ketrampilan memasak dari Nenek. Adalah pilihannya untuk membantu Nenek berdagang dan membuat jajanan pasar saat masih muda yang membuat Bapak akrab dengan dapur.
Pilihan itu pula yang membuat Bapak tak melanjutkan sekolahnya. Ijazah SD pun tak ada di tangannya. Bapak berhenti sampai kelas lima. Tapi, keinginan belajarnya tak pernah berhenti di sana. Bapak suka mengamati dan membaca. Apalagi kalau sudah terkait dengan mesin dan filosofi. Mungkin, orang sekarang bilang, Bapak termasuk "street smart".
Meski tak banyak bicara, kami tahu Bapak selalu ada. Meski tanpa ijazah, bagiku Bapak sudah lebih dari sarjana.
Atas pelajaran hidup, ilmu dan kasih sayangmu, terima kasih, ya, Pak.