"Hi, Lia! How are you? Bapak stayed at Aberdeen city. Someday I will bring you here. Send my regards to your Mother and Sister" - Bapak
Waktu itu, pertengahan tahun 1996. Ayah pulang dari dinasnya, membawa banyak sekali barang bekas. Saya mendapatkan sepatu bermerek, boneka, pakaian, dan--yang paling berkesan--NINTENDO! Ah, betapa senangnya hati saya saat itu. Nggak hanya karena bisa kembali bersama dengan Ayah, tetapi juga karena banyak oleh-oleh untuk saya.
Usia saya sebelas tahun saat Ayah pulang membawa barang-barang bekas itu. Saya nggak mengerti tentang barang bekas. Apa itu? Saya berkomentar dalam hati dengan nada nggak peduli. Yang saya tahu, Ayah membawa banyak sekali barang-barang yang saya suka. Saya juga sempat mengintip oleh-oleh Ayah untuk Ibu. Beliau membawakan banyak sekali pakaian dan sepatu untuk Ibu. Semuanya bekas. Bekas para bule yang tinggal di Aberdeen, Inggris.
Ayah bertugas di Inggris selama satu bulan lebih. Awalnya beliau ditugaskan cukup lama, dan berencana membawa Ibu serta saya. Tetapi, saat itu Ibu sedang hamil tua. Jadi--sejauh yang saya paham--semua rencana tinggal di Inggris gagal karena kami sedang menanti kelahiran adik perempuan saya.
Saya pernah kecewa. Kenapa ayah nggak membawa saya ke Inggris, dan membiarkan Ibu di rumah sendiri?
Padahal saya betul-betul ingin sekali merasakan tinggal di luar negeri. Sebagai gadis kecil pecinta dongeng bule, saya ingin merasakan yang namanya salju. Kok, rasanya keren sekali kalau saya menjadi anak pertama di sekolah yang bisa bersentuhan langsung dengan salju, di tempat salju itu berada! Sayangnya, itu bukan saya...
Untuk mengobati rasa kecewa saya, Ayah pun mengirimkan kartu pos untuk saya. Waktu itu, saya sedang giat-giatnya belajar Bahasa Inggris. Jadi, Ayah mengirimkan kartu pos dalam Bahasa Inggris. Begini tulis Ayah:
"Hi Lia! How are you? Bapak now stayed at Aberdeen. Someday I will bring you here. Send my regards to you Mother and Sister." - Bapak
Kartu pos yang Ayah kirim dari kota bersalju itu, selalu saya simpan. Janji Ayah untuk membawa saya ke Inggris menjadikan saya bercita-cita untuk pergi ke negara itu, hingga sekarang. Bahkan saya banyak menyukai musik dari negara tersebut ketimbang dari negeri Paman Sam.
AYAH DAN BARANG BEKAS
Ayah selalu menjadi idola saya--hingga saat ini! Ayah adalah pembela nomor satu saya, sejak saya kecil--hingga saat ini. Dan seperti pepatah bilang, beliau adalah cinta pertama putri-putrinya.
Beliau orang yang sangat apik dalam menjaga barang-barangnya, hanya karena beliau nggak pernah memiliki banyak barang semasa kecil. Beliau hidup dalam kekurangan dan selau berusaha memanfaatkan sesuatu yang dimilikinya dengan sangat baik. Saat Ayah kembali dari Aberdeen, beliau bilang, "Di sana orang, tuh merawat barang-barangnya dengan baik. Kalau sudah musim baru, mereka jual barang-barangnya. Nah, Bapak beli barang-barang itu dari mereka. Semua kondisinya masih bagus."
Kalimat itu terkenang hingga kini. Setiap kali ada barang yang rusak, beliau berusaha membetulkannya sendiri. Semua barang yang Bapak punya dirawat dengan sangat baik. Kalau ditanya, Bapak masih saja menyimpan telepon dari seri ke seri. Semua kondisinya masih baik!
Di sisi lain, Ayah saya adalah seorang penimbun.
Beliau mengumpulkan hampir SEMUA barang dan memberinya emosi atau kenangan. Bahkan, adik perempuan saya sampai sekarang (18 tahun) masih saja tidur di kasur yang sama saat dia bayi! Kami tidak diperbolehkan menjual kasur tersebut hanya karena, "Itu kenangan..."
Ada pula cerita tentang mobil kesayangan Ayah. Mobil itu adalah mobil terlama yang pernah kami punya. Usianya lebih dari sepuluh tahun bersama kami. Dia berkali-kali mengantar kami pulang kampung ke Surabaya, setiap penghujung Ramadhan. Hingga mobil itu 'sakit-sakitan', Ayah tetap enggan menjualnya. "Wah, banyak sejarahnya ini mobil..." begitu kata Ayah saat Ibu memintanya menjual mobil tersebut.
Hingga suatu hari, Ayah jatuh sakit. Beliau kena serangan stroke ringan. Beberapa bulan beliau nggak bisa bekerja karena sulit untuk mengoordinasi tubuh bagian kanannya. Kemampuan menyetir beliau pun hilang. Ibu lantas menjadi sopir pribadinya. Ke mana-mana Ayah diantar Ibu.
Ibu kembali meminta Ayah menjual mobilnya. Kondisi mobil yang sudah jarang lagi dirawat--semenjak Ayah sakit--nggak membuat Ibu nyaman untuk menyetir. Seperti dugaan kami, Ayah menolak mentah-mentah dengan alasan mobil itu banyak berjasa kepada Ayah.
Kami putus asa...
IT'S TIME TO LET GO
Sejak sakit, Ayah lebih banyak bergantung pada orang. Padahal, itu bukan sifat Ayah. Sejak sakit, Ayah lebih banyak mengalah. Padahal, itu juga bukan sifatnya. Saya lihat, Ayah lebih banyak belajar untuk bersabar sejak mulai bergantubng kepada orang lain--sopir taksi, misalnya.
Melihat Ibu sama sekali nggak nyaman menyetir mobil Ayah, akhirnya beliau memutuskan untuk menjual mobil tersebut. Kami meminta bantuan papa mertua--yang punya bisnis jual-beli mobil bekas via layanan online penjualan barang bekas--untuk menjual mobil Ayah. Kemudian, mobil tersebut ditukar dengan mobil bekas lainnya, kondisi yang jauh lebih baik, dan merek bergengsi. Ibu senang sekali!
Papa mertua pun senang, karena punya 'kerjaan' baru! Sebagai orang yang hobi soal otomotif beliau selalu senang saat mendapatkan mobil bekas. "Jadinya saya punya kerjaan. Nggak nganggur," begitu kata papa mertua. Dan benar saja, esok harinya papa mertua langsung mendempul mobil Ayah, mengecatnya, dan membetulkan beberapa masalah yang ada di mesin.
Papa senang karena punya 'kerjaan'. Ibu senang karena punya mobil baru. Dan Ayah? Ayah pun senang karena beliau berhasil melepaskan mobil yang sudah bertahun-tahun menemaninya. Saya pun senang, karena ini menjadi win-win exchanges untuk semuanya.
Hore!
***
Sebagai pentutup cerita, beberapa waktu lalu kantor saya menggelar garage sale. Ayah tiba-tiba bilang, "Itu di lemari banyak tas Bapak yang udah nggak terpakai. Kamu jual saja..." Saya tersenyum. Kini Ayah sudah mulai berani melepaskan barang-barangnya. Semoga Ayah semakin paham bahwa kenangan itu ada di dalam kepalanya bukan pada barang-barang itu.
It's time to let go and move on!