Karena menulis adalah pekerjaan yang harus diselesaikan.

Saya rasa ini pasti pernah terjadi kepada siapapun yang suka menulis.

Saya (ya, walaupun malas-malasan) suka dengan menulis.

Oh, saya belum pernah mengeluarkan karya cetak, kok. Hanya skripsi yang sekarang didiamkan saja di perpustakaan di kampus almamater. Tetapi, saya suka menulis diary dan juga menulis apapun yang sedang saya pikirkan di secarik kertas maupun di notes dalam telepon genggam saat duduk di transjakarta atau sekedar curhat di media sosial. Menurut saya, penulis adalah seseorang yang suka menulis di media apapun, dengan atau tanpa pembaca.

Dalam tahap kehidupan saat ini, menulis adalah salah satu alat untuk mengeluarkan unek-unek masalah sehari-hari dan juga alat untuk sekedar bersenang-senang. Akan tetapi, akhir-akhir ini menulis tidak lagi merupakan alat untuk keseharian tapi untuk memenuhi tuntutan. Seperti pekerjaan lainnya, menulis adalah sebuah pekerjaan yang punya batasan waktu dan tempat. Sebuah pekerjaan tentunya juga harus dikerjakan secara serius dan cermat.

Namun, bagi seseorang yang menggunakan kegiatan menulis sebagai sebuah pekerjaan senang-senang, saat menulis menjadi tuntutan, tentu akan berbeda rasanya. Menulis jadi seperti dikejar hantu, terburu dan penuh kecemasan karena tidak pernah merasa baik-baik saja. Hasilnya ya, tulisan yang kering dan kosong.

Sebagai seseorang sedang dikejar waktu untuk menyelesaikan tuntutan menulis, mungkin saya bisa berbagi sedikit apa saja yang bisa dilakukan jika kita sedang merasa tertekan untuk menulis seperti dikejar "zombie":

1. Baca buku atau karya yang tidak berhubungan dengan yang Anda tulis

Cara ini sangat efektif untuk saya karena dapat memberi angin segar di otak sehingga bisa sedikit teralihkan fokusnya. Dengan membaca karya atau buku yang tidak berhubungan dengan apa yang kita tulis, banyak kosa kata maupun wawasan yang bisa saja sangat cocok untuk digunakan dalam menyelesaikan pekerjaan menulis.

2. Tuliskan semuanya

Saran saya ini sangat personal karena ini saya selalu lakukan. Setiap kali saya merasa lelah dan stuck ketika menulis, saya selalu tulis saja tanpa berhenti. Saya akan mencurahkan semua pengetahuan, referensi, maupun catatan kaki di dalam tulisan yang sedang dikerjakan. Tulis saja semuanya. Walaupun ada salah eja, walaupun tidak benar-benar berhubungan. Tuliskanlah! Memang kita mungkin akan terlihat seperti seorang brilian karena menulis tidak henti-henti, padahal sebenarnya kita hanya menulis saja tanpa tahu itu salah atau tidak, bagus atau tidak. Setelahnya, baru berhenti dan rehat selama 10 menit.

Jika sudah, lihat kembali tulisan kita. Di situ, kita akan membaca sendiri alur pemikiran yang baru saja ditulis. Kita akan menjadi pembaca pertama sekaligus kritikus paling tajam. Pada saat ini, kita akan mengedit lagi kira-kira apa yang tidak masuk akal dan apa yang sangat masuk akal. Saran ini saya dapatkan dari seorang mentor saya di kantor. Ia bilang kalau kita harus menjadi pembaca pertama sekaligus kritikus yang paling tajam dalam melihat tulisan sendiri. Jika kita merasa puas dan (setidaknya) bagus, lanjutkan ke bagian yang lain. Atau bisa saja....

3. Berhenti sejenak

Tuntutan menulis terkadang lebih berat daripada tuntutan pekerjaan lainnya. Hal ini membuat kita jadi terbebani dan merasa bersalah jika harus berhenti dan istirahat sejenak. Menurut saya, berhentilah dulu. Istirahatlah dan ambil waktu untuk tidak memikirkan tulisan yang sedang kita buat. Tentukan waktu untuk berhenti, juga tentukan waktu untuk kembali menulis. Karena menulis adalah pekerjaan yang tidak (pernah) berhenti.

4. Selesaikanlah!

Ok, mungkin ini saran yang paling tidak menyenangkan. Harus disadari bahwa seberat apapun tuntutannya, menulis adalah sebuah pekerjaan yang harus diselesaikan. Maka dari itu, fokus, siapkan cemilan dan tabahkan hati dan pikiran karena pekerjaan ini harus selesai.

Selamat menulis bagi yang sedang terbebani. Percayalah bahwa ini akan terlewati! Dan tetap menulis!