solitude

“If you're lonely when you're alone, you're in a bad company.” (Jean-Paul Sartre)

Tatanan masyarakat terkadang membuat kita bertanya-tanya: seperti apa seseorang seharusnya menjalani hidup?

"Saya kasihan melihat kamu masih sendiri," seorang teman berujar.

Saya hanya tertawa, menganggap perkataannya tadi sekadar berseloroh. Saya ingin berusaha memberi penjelasan, tapi, ah... sudahlah. Energi saya akan terkuras percuma rasanya. Mungkin, bagi teman saya itu bersendiri adalah hal yang buruk, begitu buruk. Atau mungkin juga menyeramkan. Mungkin, untuknya bersendiri sama dengan tidak bahagia, tidak puas, tidak cukup baik.

Saya mengenal seorang perempuan yang hidup di Jakarta. Dalam usianya yang sudah kepala empat, ia masih tetap cantik dan terlihat awet muda. Pembawaannya pun santai dan menyenangkan. Seringkali ia menceritakannya pengalamannya saat masih seusia saya dulu, dan bisa saya simpulkan bahwa hidupnya sangatlah hidup. Bisa dibilang ia 'sendirian' sampai usianya hampir menjelang 40.

'Sendirian'. Setidaknya, begitu menurut pandangan kebanyakan orang.

Saya bisa bayangkan apa yang dibicarakan orang-orang di sekitarnya saat itu. Yah, kebanyakan kita memang sangat gemar membicarakan kehidupan orang lain. Mungkin kehidupan orang lain itu kita anggap jauh lebih menarik daripada kehidupan kita sendiri. Saya sering bertanya-tanya: adakah cara agar kehidupan kita sendiri bisa jadi sedikit lebih menarik--bahkan bagi kita sendiri yang menjalaninya?

Terkadang, setidaknya untuk saya, bersendiri itu menarik. Menyenangkan.

Kita bisa menjadi diri sendiri kapan saja, melakukan apa saja yang disuka, tidak ada yang menuntut ini-itu... terdengar menyenangkan bukan? Namun saya juga mengerti, ada orang-orang yang beranggapan bahwa bersendiri sama dengan tidak bahagia, tidak puas, tidak cukup baik.

Menyedihkan kalau seseorang pergi ke bioskop sendirian. Mengapa ia tidak memiliki teman untuk diajak? Pasti kepribadiannya begitu buruk sampai ia harus sendiri. Begitu mungkin kira-kira yang sebagian dari kita pikirkan. Pengalaman apa dalam hidup kita yang kemudian membuat kita punya pemikiran seperti ini, ya?

Bagi saya, seseorang yang bisa merangkul kesendirian dan menikmatinya justru terlihat lebih menarik dibandingkan dengan mereka yang mesti selalu dikelilingi orang lain. Setiap melihat seseorang sedang duduk sendiri di tempat umum dengan begitu santai dan percaya diri, saya selalu membantin tentang mengapa ia sendiri, apa yang dipikirkannya saat ia sendiri, dan mengapa ia bisa terlihat tidak terusik di tengah keramaian.

Saat seseorang terlihat menikmati kesendiriannya, saya beranggapan bahwa ia sudah sangat paham dengan dirinya sendiri. Ia dan dirinya sendiri mungkin teman baik yang saling menyukai. Ia tidak butuh didefinisikan oleh orang lain, dan meskipun ditemani orang lain juga menyenangkan, tak ditemani siapa-siapa pun tidak mengapa. Ia yang menikmati kesendirian tahu benar siapa dia, dan tidak akan ambil pusing dengan pendapat orang lain mengenai dirinya. Bukannya ia tidak butuh orang lain, ia hanya tidak butuh drama yang akan menyita waktu dan energinya.

Berdua atau bertiga terkadang memang lebih asyik daripada sendiri. Namun, mereka yang berani bersendiri buat saya seperti punya kepribadian yang kuat. Mereka yang tahu siapa dirinya, ke mana tujuannya, dan bagaimana mereka akan menuju ke sana. Mereka tidak takut melangkah walau dipandang lemah atau disapa dengan: "Kasihan, kok sendirian?"

Mereka tidak takut bersendiri di tengah keramaian.

Sejauh mana kita membutuhkan orang lain untuk mendefinisikan eksistensi kita; untuk melengkapi hidup kita? Akankah kita bisa merasa nyaman ketika hanya ditemani oleh diri sendiri?