Cukup bukan masakan cepat saji yang diletakan di pemanas dan menunggu suhunya hangat lalu bisa disantap. Cukup itu masakan pilihan yang diracik khusus dengan bumbu-bumbu pribadi. Cukup itu tentang mangkok penerimaan dan segelas air ketabahan. Tentang kemampuanmu merasa puas dengan semestamu.
“Tiga hari cukup, nggak?” tanya seorang teman tiba-tiba melalui pesan pendek.
Saya yang baru saja bangun tidur menjawab. “Cukup itu perkara sulit. Berbeda bagi masing-masing orang.”
Pagi ini, tanpa sengaja saya menemukan tulisan 3 tahun silam yang lagi-lagi membahas tentang kata cukup. “Kita manusia memang sulit menerima kata cukup," begitu kira-kira petikan tegas dari tulisan tersebut. Saya tersenyum, semesta memang selalu punya cara untuk mengingatkanmu.
Tiga tahun berselang, saya paham betul cukup itu ilmu tingkat tinggi. Apa ilmu saya cukup untuk mengguruimu? Tentu tidak. Apa harta saya cukup untuk dibagi-bagikan? Tentu belum. Apa pribadi saya cukup untuk mengajarimu? Jelas tidak. Kita punya seribu satu alasan untuk terus menolak melakukan apapun dan meletakkannya di pojok dengan label “belum punya cukup waktu”.
Perkara belum cukup ini sering kali kita jadikan sebagai tameng. Kita jahit dengan rapi dan kenakan sebagai jaket lalu digunakan untuk alasan untuk menunda-nunda. Menunda maju, menunda perjalanan, menunda pekerjaan, menunda berbagi, menunda berproses, menunda menjadi cukup, menunda menjadi penuh.
Kita lupa cukup itu proses panjang penerimaan.
Cukup bukan masakan cepat saji yang diletakan di pemanas dan menunggu suhunya hangat lalu bisa disantap. Cukup itu masakan pilihan yang diracik khusus dengan bumbu-bumbu pribadi. Cukup itu tentang mangkok penerimaan dan segelas air ketabahan. Tentang kemampuanmu merasa puas dengan semestamu.
Bukan, bukan semesta di luar sana, tapi di dalam sini, di sudut hatimu. Tentang bayangan yang selalu terjahit pada jiwamu dan membuntuti kemanapun kamu pergi. Apa kamu merasa cukup dengan dirimu?
Teman,
Cukup itu ilmu tingkat tinggi,
Seberapa kosong diri
dan seberapa banyak mampu kau isi?
Apa butuh galaksi,
untuk buatmu cukup?
Apa selangit bintang palsu, cukup?
Jawabannya aku tak pernah tahu, tapi...
Jika kau tanya apa itu cukup bagiku?
Akan kupandang lekat kamu di dalam cermin:
“Hei, aku cuma butuh kamu untuk jadi cukup. Iya, kamu."