Kegelisahan yang kerap menyelimuti bukan melulu negatif. Justru kegelisahan akibat hilangnya rasa tercukupi itulah yang membuat kita tergerak. Kegelisahan membuat kita mencari rasa tercukupi di berbagai tempat. Di berbagai tempat, kecuali satu: di dalam diri kita.
Keseharian merupakan cermin paling dekat bagaimana kondisi kita pada saat tertentu. Perilaku di jalan, bagi saya, merupakan salah satu cermin dan pengingat yang paling afdol. Mau sesabar apa saya rasanya, begitu menyetir, tetap saja grasa-grusu itu muncul. Kata-kata tak perlu kadang terlontar pada sesama pengguna jalan yang saya anggap tak punya aturan. Sering saya diingatkan, kalau ternyata saya masih perlu banyak belajar.
Namun tak selalu yang buruk-buruk yang muncul. Banyak yang menghangatkan hati juga. Para pengguna jalan saling memberi jalan pada satu sama lain. Pengendara mobil yang memberi jalan bagi pejalan kaki, terutama bagi mereka yang sudah lansia atau membawa anak kecil, atau pendorong gerobak. Pengendara motor yang berhenti untuk menolong sesama pengendara motor yang terjatuh. Ataus sesederhana ini: orang yang membetulkan letak spion mobil saya setelah tertabrak oleh pengendara motor sebelumnya.
Menyadari Rasa yang Hadir
Pagi itu pun merupakan sebuah pengingat yang menghangatkan hati untuk saya. Lalu-lintas terasa lengang. Saya berkendara untuk membeli penganan guna dibawa pulang. Kendaraan saya terhenti di lampu merah.
Mobil di sebelah kanan saya juga berhenti. Padahal ia berada di lajur bagi kendaraan yang ingin putar balik – seyogianya ia jalan terus. Mobil-mobil di belakangnya tampak kesal. Mereka membunyikan klakson berulang kali. Mobil pertama tetap tidak bergerak. Pemandangan lumrah di kota tempat saya tinggal.
Lantas saya tersadar: Saya tidak merasa kesal dengan klakson berulang kali dari mobil-mobil itu. Saya pun tak terganggu oleh mobil pertama yang berhenti di lajur paling kanan. Saya baik-baik saja dengan semua itu. Saya menyadari segala kejadian dan, sudah, itu saja. Sekadar menyadari. Tak ada susulan pikiran atau emosi. Begitulah adanya saat itu, dan, ya, itu saja.
Sampai timbul pikiran yang menyadari semua itu. Saya perluas kesadaran saya, sehingga tidak hanya melingkupi kejadian itu, tetapi seluruh pengalaman saya pada saat itu. Rasanya tetap sama. Saya merasa baik-baik dengan semua hal. Saya merasa damai dan tercukupi. Hidup saya bisa dikatakan tidak sempurna atau lengkap kalau dilihat dari kacamata moderen. Tapi saat itu, bagi saya, teramatlah jelas bahwa semua tepat apa adanya. Semua telah tercukupi sempurna.
Saya pun merasakan kebahagiaan. Bukan bahagia yang membuat saya melonjak-lonjak kegirangan, namun lebih halus. Kebahagiaan yang lamat-lamat melandasi semua hal dalam hidup. Ah, saya jadi merasa lebih bahagia lagi. Saya bahagia karena saya merasa bahagia.
Sayangnya, rasa tercukupi sudah menjadi komoditas langka bagi kebanyakan kita. Ia jarang hadir. Walau sebenarnya ia adalah suatu kewajaran; sudah merupakan bawaan manusia. Sedemikian wajar sehingga begitu kita tak lagi bersentuhan dengannya, kita habiskan waktu jaga kita untuk menemukan rasa tercukupi itu kembali -- dan waktu tidur kita memimpikannya. Gelisah pun melanda.
Kegelisahan sebagai Undangan Semesta
Namun kegelisahan yang kerap menyelimuti bukan melulu negatif. Justru kegelisahan akibat hilangnya rasa tercukupi itulah yang membuat kita tergerak. Kegelisahan membuat kita mencari rasa tercukupi di berbagai tempat. Di berbagai tempat, kecuali satu: di dalam diri kita.
Pencarian ke dalam diri bagi banyak orang masih tidak bisa dinalar. Standar hidup yang cenderung berkiblat pada materialisme dan pakem masyarakat membuat kita menempatkan pencarian ke dalam diri sebagai hal sekunder, atau lebih rendah lagi. Bikin pusing saja. Bukankah hidup sudah cukup rumit? Begitu sering terlontar komentar tentang ajakan ke dalam diri ini.
Bahkan bagi kita yang telah menyadari pentingnya pencarian ke dalam diri pun, kita masih enggan melakukannya. Karena, kalau boleh jujur, dalam-diri kita sering dianggap sebagai tempat yang terlalu menakutkan. Begitu banyak rasa sakit, kenangan, komentar diri, keinginan, cetakan sejak kita kecil, dan hal lain yang terasa terlalu gelap untuk disentuh (kembali).
Tak kita sadari bahwa betapapun gelap atau pekat rasanya, dalam-diri sebenarnya tak lain adalah sebuah lapisan tipis yang terbentuk oleh bertahun-tahun pengalaman hidup dan menyelubungi potensi kita. Potensi berupa rasa keberserahan total, kehadiran sejati, kebijakan ilahian, kebebasan yang sebenarnya, tuntunan hati, atau singkatnya: Cahaya kita.
Beperjalanan ke Dalam Diri
Perjalanan ke dalam diri awalnya terasa seperti tak masuk akal. Karena ia membutuhkan kita untuk menegasikan semua yang telah kita pelajari dalam hidup. Dari kemandirian menjadi kebergantungan sempurna. Dari merencanakan segala sesuatu menjadi mengalir. Dari menentukan, menjadi mengikuti. Dari mengantisipasi, menjadi meyakini. Dari kekuatan, menjadi ketidakberdayaan. Dari senantiasa bergerak, menjadi geming. Dari kekayaaan, menjadi kepapaan. Dari ada, menjadi tak ada. Dari menyelubungi, menjadi menampakkan segala. Dari mengetahui, menjadi tak tahu apa-apa.
Kemudian, ada fase lanjutan. Dari kebergantungan total, menjadi menemukan sumber yang sejati tempat kita bergantung. Dari mengalir, menjadi ‘menemui’ Dia yang mengatur segala aliran ini. Dari meyakini, menjadi memahami kekuatan yang kita yakini. Dari ketidakberdayaan, menjadi ternaungi oleh kekuatan sejati. Dari geming, ke gerakan yang berpusat pada geming itu. Dari hening, menjadi ekspresi keheningan. Dari bukan apa-apa, menjadi segala. Dari tiada, menjadi kesadaran akan keberadaan sejati. Dari menampakkan menjadi kebebasan untuk mengada. Dari kerapuhan, menjadi pengetahuan akan kekuatan sebenarnya. Dari tak tahu apa-apa, seolah berada dalam kegelapan, menjadi Cahaya.
Bola Kini Ada di Kita
Sebelum semua ini terjadi, kita perlu mengatakan ya pada perjalanan ini. Langkah awal untuk menapak ke dalam-diri, bagaimanapun terasa menakutkan, mencurigakan, merupakan keputusan kita. Kitalah yang perlu mengambilnya.
Sampai saat kita mengatakan ya, Semesta akan sabar menunggu. Ia mungkin tanpa bosan akan menaruh remah-remah dan menyapa kita, sekadar mengingatkan. Tapi ia akan menunggu sampai kita mengambil langkah pertama.
Undangan yang disampaikan oleh Sang Kehidupan jelas: Lakukanlah perjalanan ke dalam diri. Temui diri sejatimu. Izinkan potensi dirimu sebagai insan yang demikian indah untuk mengejawantah. Semesta mendukung.