Semoga kita tidak menjadi gila dalam proses pendewa-(sa)-an ini. Semoga kita masih menyisahkan sedikit ruang untuk mencintai diri di antara semua tuntutan yang dilekatkan pada kata dewa-sa ini.

“Semoga kita tidak gila dalam proses pen-dewa-sa-an ini,” begitu tulis saya 2 tahun silam di tanggal yang sama sesuai ingatan Facebook.

Ketika kecil dulu, kanak-kanak tak pernah peduli dengan segala perbuatannya. Entah itu memalukan, entah itu berbahaya, entah itu tidak sopan. Pokoknya saya senang, itu saja cukup. Beranjak dewasa segala dinding dan aturan-aturan membuat ruang gerak kita berbatas. Membuat kita sering kali tersudut dengan segala situasi dan kondisi yang ada. Kita dipaksa menjadi 'dewa(sa)' yang diyakini sebagai 'proses pendewasaan'.

Manusia dewasa tak boleh menangis, manusia dewasa mampu melakukan segala hal sendiri, manusia dewasa selayaknya menyelesaikan masalahnya sendiri. Manusia dewasa harus setegar batu karang dan sekuat elang yang terbang melintasi langit. Tak jarang dalam proses menjadi dewasa kita memaksa diri begitu keras. Meletakkan beban yang berlebih pada pundak sendiri atas nama dewa-sa.

Kita sering lupa, dewasa itu bukan 'dewa'. Kita tetap sesosok manusia dengan segala kekurangan yang membuat kita menjadi manusia. Dewasa itu adalah memahami dan menerima diri dengan segala kelemahan. Menyadari bahwa kita butuh jeda, kita butuh sokongan, kita butuh jatuh, kita butuh rehat, kita butuh melemaskan tameng dewasa kita dan berdamai dengan diri.

Ketimbang terus-terus menuntut diri dengan label dewasa, coba duduk sejenak dan cermati sebarapa jauh sudah sang diri berjalan? Berikan pelukan padanya dan hargai setiap pencapaiannya. “Be gentle with yourself...”

Sebuah patah hati tak akan membuatmu lantas disebut anak-anak. Sebuah kegagalan tak akan membuatmu didaulat gagal menjadi manusia.

Pada akhirnya, kita harus hidup dengan diri kita. Maka kita harus pantas dikenal oleh diri. Penghargaan itu tak hanya datang dari seberapa banyak harta benda dan tingginya jabatan, tapi dari seberapa mampu kita merengkuh dan mencintai diri di saat-saat tersulit.

Lagi-lagi bukan menyoal egois, tapi jika kita tak mencintai diri secara utuh, bagaimana mungkin kita mencintai orang lain dan membiarkan orang-orang mencintai kita lebih dibanding diri kita sendiri?

Semoga kita masih punya sedikit ruang untuk tetap mencintai diri di antara segala tuntutan yang dilekatkan pada kata dewa-sa ini.

“Be gentle with yourself. You are a child of the universe no less than the trees and the stars; you have a right to be here.” ― Max Ehrmann