Adalah hal yang wajar ketika kita bertemu dengan orang lain, terlebih orang baru, kita bicara dengan sopan dan berhati-hati karena ingin memberikan kesan baik. Nah, jika pada orang baru saja kita dapat melakukan hal tersebut, lalu mengapa selalu menghujani diri dengan kata-kata yang negatif dan menyudutkan? Tak sayangkah kita pada diri sendiri?
Pernahkah mengecek ucapan atau kata yang kerap dilontarkan pada diri sendiri? Sekali waktu, lakukanlah. Sesaat setelah membuka mata di pagi hari, apa yang Anda katakan? Turun dari tempat tidur, menuju kamar mandi, atau dapur, atau kemanapun kaki Anda melangkah pertama kali, apa yang Anda katakan pada diri sendiri?
Ini yang saya katakan pertama kali ketika membuka mata:
Oke, sudah pagi, bangun…lipat selimut…hm, hari ini bikin sarapan lalu belanja ke warung. Ah, dingin sekali pagi ini. Mestinya saya ke pasar kemarin, jadi tidak perlu pagi-pagi ke warung…Ah, ya, masak apa ya yang cepat? Pagi ini ada rapat di kampus, jadi tidak boleh sampai datang terlambat. Hm…masih sempat keramas tidak, ya? Ah, sial, mestinya saya keramas kemarin sore. Duh, mana rambut sudah lepek begini. Makanya, malas, kok, dipelihara…
Dan masih panjang lagi kata-kata yang saya ucapkan pada diri sendiri. Biasanya kata-kata yang saya ucapkan berlanjut dengan daftar hal-hal yang harus saya kerjakan hari itu. Itu hanya sepenggal saja yang mengiringi saya bangkit dari ranjang, lalu ke kamar mandi untuk cuci muka dan menggosok gigi. Lihat, bahkan pada saat baru membuka mata saja saya sudah menyesali diri karena tidak sigap ke pasar hari sebelumnya dan mencap betapa malasnya diri saya karena tidak keramas.
Self talk, atau ucapan dan kata yang kita lontarkan pada diri sendiri adalah sesuatu yang umumnya bersifat mekanis dan otomatis bagi sebagian besar dari kita. Terlontar begitu saja, lebih seringnya tanpa sadar. Sayangnya, meski kebanyakan dilakukan secara tidak sadar, self talk amat mempengaruhi konsep diri atau cara pandang seseorang terhadap dirinya.
Katakan yang negatif pada diri, lakukan berulang-ulang, maka pikiran kita akan segera memprogram hal negatif tersebut menjadi bagian dari sistem kepercayaan terhadap diri sendiri. Bahkan ketika orang lain mengatakan sesuatu yang positif tentang diri kita, kita tidak akan percaya, karena hal positif tersebut tidak ada dalam belief system atau sistem kepercayaan kita.
Dulu, saya meremehkan kekuatan self talk ini, sampai di suatu ketika, saat saya sedang dalam masa sulit dan hampir putus asa karena tak yakin dapat merampungkan studi S2 . Saya terpaksa menghadap pembimbing karena sudah lama sekali rasanya tak bimbingan. Terpaksa pula saya ceritakan situasi emosi dan perasaan saya yang serba negatif dan pesimis. Alih-alih menceramahi saya panjang lebar, pembimbing saya meminta saya mengubah self talk dan melatihnya agar lebih positif. Terus terang saya mangkel. Kesulitan menyelesaikan tesis, kok, diminta mengubah self talk. Cheesy banget kedengarannya. Tetapi karena tak punya cara lain lagi, saya coba pelan-pelan, sedikit demi sedikit. Awalnya sambil cemberut karena merasa konyol dan apatis.
Namun, perlahan-lahan, kata-kata baik memberikan perasaan sejuk pada batin saya. Membuat saya lebih bersabar pada diri sendiri. Harap dibedakan kata-kata baik yang saya ucapkan pada diri sendiri dengan afirmasi. Saya tidak mengulang-ulang kata-kata semacam “Aku Mampu” atau “ Aku Bisa” atau “ Aku Hebat”. Saya hanya bicara dengan kata yang lebih positif dan nada yang lebih lembut. Saya tidak menafikkan betapa draft tesis saya masih banyak kekurangannya.
Saya bilang, “Oke, ini memang sulit dan kelihatannya masih banyak yang harus dikerjakan, yuk, dikerjakan pelan-pelan.” Setiap kali saya mulai merasa terpojok dan terbebani, saya akan bilang, “ Kerjakan sedikit demi sedikit saja. Satu demi satu. Pelan-pelan. Tidak apa-apa. Kerjakan yang mudah dulu saja.” Begitu terus, sampai akhirnya tesis saya rampung.
Sejak itu, saya percaya betapa self talk yang terdengar cheesy, amat mempengaruhi kondisi batin dan pikiran kita. Self talk positif membuat kita lebih sabar dan lembut serta menghargai diri sendiri. Mungkin beberapa dari kita telah mendengarkan banyak hal negatif yang diucapkan orang lain tentang diri kita. Semisal: Kamu gendut dan jelek. Kamu bodoh. Kamu nakal. Kamu tidak berbakat .Kamu pasti gagal. Kamu tidak bertanggung jawab. Kamu tidak akan berhasil. Kamu pecundang.
Sewaktu kita kecil, kita menerima begitu saja apa yang orang lain katakan tentang diri kita, lalu memasukkannya secara otomatis ke dalam belief system kita. Sekarang ketika kita sudah dewasa, sebagai bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri, sepantasnyalah untuk memeriksanya kembali satu demi satu. Jangan-jangan sebagian besar isinya sudah tak sesuai. Cek lagi cara kita berbicara terhadap diri sendiri. Jangan-jangan kebiasaan kita bersikap sinis atau pesimis pada apapun disebabkan karena demikianlah cara kita memandang diri kita. Penuh kesinisan.
Adalah hal yang wajar ketika kita bertemu dengan orang lain, terlebih orang baru, kita bicara dengan sopan dan berhati-hati karena ingin memberikan kesan baik. Nah, jika pada orang baru saja kita dapat melakukan hal tersebut, lalu mengapa selalu menghujani diri dengan kata-kata yang negatif dan menyudutkan?
Tak sayangkah kita pada diri sendiri?