"Everything is going to be alright, maybe not today but eventually..."
Hampir setiap orang pasti pernah mendengar atau membaca sebuah kutipan yang berkata: tenanglah, semua pasti akan baik-baik saja.
Tapi seberapa banyak yang langsung meyakini kata-kata tersebut dengan sepenuh hati saat mendengar atau membacanya, mengamininya seolah hal itu memang mampu membuat situasi buruk yang mungkin sedang dialami menjadi tak ada arti karena memang semua akan baik-baik saja?
Seingat saya, sejak kecil saya tidak pernah diajarkan untuk menggantungkan diri dengan orang lain. Saya hanya tahu mereka yang ada di sekitar saya pun memang (seolah) terlalu sibuk setiap kali saya merasa butuh sesuatu, atau mungkin hanya tidak mau tahu. Entahlah. Hal ini membuat saya menjadi pribadi yang tertutup dan sulit dalam mengeluarkan pendapat, emosi, atau sekadar keinginan.
Meskipun terlahir sebagai anak terakhir dari tiga bersaudara, tapi sampai saat ini saya merasa bahwa pandangan yang mengatakan bahwa anak terakhir itu pasti mendapat kasih sayang berlebih dan hidup enak adalah mitos.
Kakak pertama saya adalah perempuan dan beda usia kami tujuh tahun. Menurut cerita yang saya tahu, dia mengalami masa kecil yang cukup pahit dan berlanjut hingga usia sekolah. Saat itu kondisi keuangan kami memang bisa dibilang berkekurangan dan suasana di keluarga yang juga cukup rumit. Hal ini membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang keras, baik terhadap keluarganya maupun ke orang di sekitarnya.
Saya tidak mengalami masa-masa berkeluh-kesah tentang bagaimana rasanya menjadi seorang remaja perempuan dengannya. Sebaliknya, dia adalah orang yang terus membuat saya berkeluh-kesah. Dia dan semua perkataannya yang entah disadari atau tidak telah menyakiti saya dan tinggal membekas di pikiran saya sampai saya dewasa.
Kakak kedua saya adalah laki-laki dan beda usia kami hanya dua tahun. Harusnya kami bisa dekat layaknya seorang teman. Harusnya saya dan keluarga adalah bagian dari tanggung jawabnya sebagai satu-satunya anak laki-laki. Terlebih secara adat kami, seorang anak laki-laki memegang peranan penting dalam sebuah keluarga.
Tapi yang terjadi justru sebaliknya, kelakuannya sejak masa sekolah sampai dia dewasa hampir selalu membuat kami, terlebih orang tua, mengelus dada. Lucunya, semua begitu dimaklumi apalagi oleh mama saya. Mungkin hal itulah yang membuat kakak saya menjadi semaunya.
Saya tumbuh dan besar menjadi anak yang tidak “terlihat”. Tidak peduli sebagus apapun nilai yang saya dapat di sekolah, sesedih apapun saya saat anak-anak lain di sekolah tidak mau berteman dengan saya, sebesar apapun keinginan saya untuk mendapatkan sesuatu, di mata keluarga saya itu semua (seolah) tidak ada artinya.
Entah apakah saat itu ada orang yang berulang kali meyakinkan saya untuk tenang karena semuanya akan baik-baik saja, karena sepertinya yang saya rasakan sebaliknya.
Saya tidak baik-baik saja (saat itu).
Sampai ketika akhirnya saya beranjak dewasa dengan masih memikul semua kepedihan masa kecil, saya berpikir rasanya tidak mungkin untuk terus seperti ini. Terlalu melelahkan. Saya berusaha menerima perlakuan keluarga saya dengan menganggap hal itu sebagai bentuk kebebasan yang harusnya saya syukuri.
Mereka tidak perlu tahu saat saya berhasil mendapatkan predikat bagus di sekolah, mereka tidak perlu tahu saat saya akhirnya diterima bekerja, mereka tidak perlu tahu perjuangan saya mengumpulkan uang untuk biaya kuliah saya sendiri sampai lulus, mereka juga tidak perlu tahu patah hati yang saya rasakan saat jatuh cinta pertama kali serta perasaan hancur ketika dikhianati dan ditinggalkan oleh orang-orang terdekat.
Lagi-lagi, entah apakah saat itu ada orang yang berulang kali meyakinkan saya untuk tenang karena semuanya akan baik-baik saja, karena sepertinya yang saya rasakan sebaliknya.
Saya tidak baik-baik saja (saat itu).
Sekarang saya adalah tulang punggung keluarga. Mereka mulai sedikit melihat saya, sayangnya saya sudah terbiasa menutup diri sehingga tidak terlalu banyak yang berubah. Mereka masih tidak tahu terkadang saya masih larut dalam trauma masa lalu yang sepertinya tidak mereka sadari, mereka masih tidak tahu mimpi-mimpi yang satu demi satu telah saya kubur, mereka juga tidak akan pernah tahu betapa saya masih sering merasa ini bukan hidup yang saya inginkan.
Akan tetapi, setelah semua yang terjadi dalam hidup saya selama ini ada satu hal yang selalu menempel di pikiran saya yaitu seburuk apapun yang saya alami di satu hari, kenyataan bahwa saya masih bisa tidur di malam hari dan bangun pagi keesokan harinya sangatlah melegakan dan patut disyukuri.
Siapa sangka, kata-kata yang dulu buat saya hanya sekadar pemanis sekarang menjadi semacam doa yang saya ucapkan berulang-ulang ke diri sendiri untuk menguatkan. Ya, saya percaya bahwa setiap ucapan adalah doa apabila kita sungguh-sungguh meyakininya.
Itulah satu-satunya hal yang saya ingin mereka tahu, bahwa semua pasti akan baik-baik saja.
Hidup memang tidak akan selalu berjalan sesuai keinginan kita.
Keluarga dan teman tidak akan selalu berada di dekat kita.
Tapi selama kita mempunyai keyakinan pada Sang Pencipta, tenanglah.
Semua pasti akan baik-baik saja.