"Always go with your passion. Never Ask yourself if it's realistic or not" -- Deepak Chopra

Makanan cepat saji menjadi pilihan paling mudah ketika kita sudah malas berpikir mau makan apa malam ini, sementara kemacetan dan perut sama-sama tak mau berkompromi.

Drive Thru di sebuah restoran cepat saji adalah solusi jitu.

Aku memesan paket yang sudah pasti mengenyangkan perut, meskipun aku tahu rasanya... yah, biasa saja. Tapi, yang penting kenyang, tidak ikut mengolah bahan mentah dan tidak repot memikirkan parkir. Drive Thru ini sepertinya sudah lama ingin mengajarkan sesuatu kepadaku, tetapi aku terlalu lapar setiap kali lewat sampai-sampai sulit untuk “mendengar”.

Beberapa bulan yang lalu, aku dikagetkan dengan kejutan yang tidak menyenangkan dari seorang kawan. Kami sama-sama memiliki investasi dengan nominal yang cukup besar untuk sebuah usaha sembako yang dikelola oleh teman kami yang lain.

Semua tahu, hukum wajib investor adalah mendapat laba tanpa ikut serta mengotori tangan apalagi menyeka keringat. Selama dua tahun, laba lancar diberikan sesuai perhitungan. Bahkan di awal tahun ini tidak ada tanda-tanda yang tidak baik. Tiba-tiba saja kabar gulung tikar aku terima.

Terkejut?

Tentu saja!

Hal seperti ini tidak mungkin terjadi hanya dalam hitungan hari. “Seharusnya dia memberi warning beberapa bulan sebelumnya,” ubun-ubunku seperti disengat lebah. Dan yang lebih mengejutkan lagi, ia tidak menunjukkan itikad baik. Marah? Tentu saja!

Aku sangat kecewa dan marah. Ini bukan hanya soal perut tapi juga kekecewaan seorang teman. Aku buru-buru mengalihkan perasaan marah seorang teman dengan memahami sudut pandangnya, “Baiklah, sudut pandang pertemananmu hanya sebatas bisnis."

Beberapa bulan berlalu sambil melewati semua proses hukum yang sesuai dan melelahkan pikiran, aku menemukan sesuatu yang mengusikku.

Ada hal yang terlewat ketika aku memutuskan untuk ikut serta ajakannya berinvestasi. Hal yang terlewat itu sepertinya tak sempat aku tengok, karena jalan menuju ke sana harus melalui tiga kali menyeberang sungai lalu berbelok lewat gang kecil. Aku hanya fokus pada jalan bebas hambatan yang memudahkanku berkendara. Aku tidak perlu berkeringat untuk mendapatkan hakku.

“Asyik idemu, jadi seperti art gallery . Jual makanan dan kopi sekalian biar orang betah di situ.” Aku teringat obrolan malam bersama suami beberapa tahun yang lalu. Obrolan yang akhirnya perlahan kami lupakan, karena obrolan tentang perhitungan investasi dan kemudahannya lebih logis dan praktis.

Hal yang terlewat itu adalah sebuah RASA yang sangat erat dengan kata hati.

Aku melupakan kata hatiku yang sebenarnya terus-menerus menggelitikku tanpa henti. Sempat terpikir di awal tahun ini untuk menarik modal dari bisnis sembako itu, tapi lagi-lagi logika dan perhitungan kepraktisan menguasaiku.

Aku hanya tak mau bekerja sama dengan rasa itu, aku membohongi hati dan rasaku sendiri, sama ketika aku melajukan mobil melewati “Drive Thru” dan memesan satu paket menu fast food yang hanya memuaskan laparku dan mengorbankan lidahku yang tak menemukan kenikmatan rasanya.

Aku mulai belajar untuk tidak cepat-cepat agar aku bisa menikmati RASA. Aku menyadari inilah artinya passion. Passion ternyata sesederhana memasak ayam kecap di malam hari demi memuaskan kebutuhan perut, dan tentu saja rasanya sesuai kebahagiaan lidahku.

Akupun mulai membersihkan kuasku sambil sesekali membuat sketsa lukisan. Aku juga lebih sering menghabiskan waktu dengan adikku, berdiskusi tentang wood art dan rencana-rencana kami ke depan. Dan satu lagi, bersama seorang sahabat aku menjual pernak-pernik homedécor buatan tangan kami. Jumlahnya tidak banyak tapi kami bahagia.

Satu hal yang diajarkan oleh passion yaitu: kesabaran.

Bahwa ia mungkin akan memakan waktu lama untuk diwujudkan, tapi waktu yang kita habiskan untuknya, tak pernah terbuang percuma.