Kita sering kali menatap iri ketika melihat piala kemenangan diserahkan ke tangan seseorang. Satu hal yang kita lupa atau bahkan tak pernah kita sadari tentang harga yang dibayarnya, tentang waktu yang dikorbankan untuk meraih kesuksesan itu. Satu hal yang sering alpa dari pikiran kita, bahwa setiap mimpi punya tebusannya masing-masing.
Adakah yang pernah berpikir berapa harga yang harus dibayar seseorang untuk sebuah kesuksesan?
Perbincangan saya dengan seorang teman bermula dari sekedar celetukan asal untuk menghabiskan hari Minggu. Hari itu diakhiri dengan diskusi serius dan ditutup dengan kata-kata yang membuat saya tersentak.
“Mereka tidak tau apa saja yang sudah saya korbankan. Semua orang hanya tau, sekarang saya sudah sukses dan mampu berlibur ke luar negeri kapanpun saya mau,” celotehnya berapi-api.
Sesaat saya terdiam. Memandangnya lembut dan tersenyum.
Kalimat yang dilontarkan teman saya malam itu, tinggal berhari-hari di kepala saya. Membuat saya berpikir dan menilik ulang.
Kita sering kali menatap iri ketika melihat piala kemenangan diserahkan ke tangan seseorang. Satu hal yang kita lupa atau bahkan tak pernah kita sadari tentang harga yang dibayarnya, tentang waktu yang dikorbankan untuk meraih kesuksesan itu. Satu hal yang sering alpa dari pikiran kita bahwa setiap mimpi punya tebusannya masing-masing.
Seorang atlet renang yang akhirnya memenangkan olimpiade pasti telah mengorbakan banyak hal untuk mendapatkan medali tersebut. Mengorbakan berbulan-bulan waktu untuk tidak bermain dengan teman-temannya. Tidak dapat menyaksikan film kesukaannya ditayangkan di bioskop. Lupa kapan terakhir kali dapat menghabiskan waktu dengan pacarnya. Seberapa tebal debu yang menempel pada sepeda kesayangannya karena tak pernah sempat digunakan. Banyak kesenangan-kesenangan kecil yang menjadi terlarang baginya sejak harus mengikuti segala latihan dan persiapan olimpiade.
Seorang pianis berbakat yang bermimpi membentuk orkestra di kotanya pernah berkata pada saya, “Ketika kecil semua berkata gapailah mimpimu, Nak! Namun tak ada yang pernah mengingatkan saya, betapa sulitnya menganyam helai-helai mimpi menjadi kenyataan.” Bakat mungkin sesuatu yang diwariskan dari darah, namun tanpa latihan, ketekunan dan perjuangan ekstra tak ada hal yang akan tertoreh.
Ketimbang memandang iri dengan kesuksesan orang lain mari kita menilik ulang seberapa sering dia menyemai bibit dan seberapa telaten dia merawat kebunya.
Ketahuilah buah yang baik tak datang dari pohon yang tak terawat. Jangan hanya melihat hasilnya, tapi mari coba buka mata terhadap harga yang telah dibayar untuk hasil tersebut. Berjuanglah untuk membayar harga yang sesuai dari mimpi-mimpi yang begitu ingin kamu wujudkan.
Saya percaya, sesuatu yang dengan mudah dimiliki oleh siapa saja, cepat atau lambat akan kehilangan maknanya.
Tak ada hal yang didapatkan dengan cuma-cuma dalam hidup, kecuali hidup itu sendiri: sebuah berkah.