Saya teringat sebuah percakapan dengan mentor saya mengenai evolusi manusia. Di satu titik, ia mengatakan sesuatu yang begitu mengena di hati saya.
“Jika kita tergabung dalam sebuah suku nomaden, dan saya tahu bahwa kamu memiliki sebuah alat musik, masih perlukah saya juga membawa alat musik? Jika kamu tahu bahwa saya memiliki obat-obatan, masih perlukah kamu membawa obat-obatan sendiri?”
Saya tercengang. Jawabannya tentu saja, “Tidak.”
Cara Hidup Suku Nomaden
Dengan mengalokasikan kepemilikan barang-barang dan pekerjaan kepada seluruh anggota suku, suku nomaden di masa lalu bisa bepergian dengan ringan dan menolong satu sama lain. Berdasarkan prinsip ini, mereka bisa bergerak dengan cepat dari satu tempat ke tempat lain, dan karenanya, meningkatkan kesempatan mereka untuk bertahan hidup.
Tetapi, di dunia modern ini, pelan-pelan kita melupakan fondasi alami ini, yang sebenarnya telah memungkinkan kita untuk bertahan dan berkembang sebagai suatu spesies.
Cara Hidup Modern yang Tak Terlalu Masuk Akal
Saat ini, kita membawa-bawa terlalu banyak hal di punggung dan pundak kita, baik dalam tataran material maupun energi. Kita berupaya untuk melakukan segalanya dan memiliki segalanya.
Kita berupaya memenuhi sebuah kebutuhan kita sendiri, dan sepenuhnya mengandalkan diri sendiri. Kita membeli dan menumpuk banyak hal, dan kita mempelajari setiap ilmu yang ada, agar kita bisa menjadi segalanya untuk diri kita sendiri.
Orang-orang yang baru saja memulai bisnisnya—seperti saya, misalnya, cenderung berupaya untuk melakukan semuanya sendiri: membuat website, membuat desain, menulis copy artikel, melayani pelanggan, melakukan pemasaran, berbincang dengan klien... semuanya ingin saya lakukan sendiri.
Para ibu bekerja juga berupaya untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari, memasak untuk seluruh keluarga, membersihkan rumah, mencuci baju, menjemput anak-anak dari sekolah, mempercantik diri, seraya bergelut dengan pekerjaan penuh waktu.
Lelah dan kehabisan tenaga, kita kemudian merasakan dorongan untuk mengonsumsi dan membeli banyak hal sebagai kompensasinya. Untuk memberikan ‘hadiah’ bagi diri kita sendiri. Atau untuk merasa lebih baik.
“Kamu punya itu, aku juga harus punya itu. Kamu bisa melakukan itu, aku juga harus bisa melakukan itu.” Demikian yang biasa kita rasakan.
Dan ini sesungguhnya bertentangan dengan apa yang membuat kita—sebagai manusia, bisa bertahan dan berevolusi selama ini: kerja sama, kolaborasi, pertukaran.
Lebih Banyak Saling Mengandalkan, Lebih Sedikit Tekanan
Kita tak bisa menjadi segalanya, memiliki segalanya, dan melakukan segalanya untuk diri kita sendiri. Kamu punya talenta tertentu, dan saya pun memiliki talenta saya sendiri. Kita bisa berbagi dan bertukar dengan satu sama lain. Mengapa tidak? Tidak berbagi dan bertukar malah akan menjadi sesuatu yang tidak masuk akal.
Begitupun dalam sebuah hubungan. Para lelaki punya talenta uniknya sendiri untuk ia tawarkan bagi perempuannya, dan para perempuan punya talenta khusus untuk ia tawarkan pada lelakinya. Menghargai hal ini memastikan tetap mengalirnya cinta di antara keduanya.
Dalam hubungan, sebagai perempuan, saya juga belajar untuk duduk santai sesekali, and let my man take care of me. Dalam beberapa kesempatan, saya membiarkan diri untuk rileks dan percaya pada kemampuan pasangan saya untuk memimpin dan mengambil keputusan.
Coba, lihatlah. Bagian hidup kita yang manakah yang membuat kita merasa tak terhubung, lelah, frustrasi, dan kesal?
Mungkin di sanalah kita perlu lebih saling mengandalkan. Belajar mendelegasikan, belajar meminta bantuan, dan belajar untuk merasa nyaman menerima bantuan itu.
Meminjam buku. Membeli blender untuk digunakan bergantian. Nebeng mobil orang lain.
Kemampuan untuk saling mengandalkan sesungguhnya merupakan jalan menuju hubungan yang baik, komunitas yang berkembang, bisnis yang sukses, pribadi yang bahagia, dan hidup yang berkecukupan.
Apakah sudah saatnya bagi kita untuk lebih terbuka, lebih menaruh rasa percaya, dan belajar saling mengandalkan ketimbang melakukan semuanya sendirian?