Pernahkah kita bertanya-tanya, mengapa kita tak merasa—atau berhenti merasa terhubung dengan orang lain? Misalnya, mengapa pada titik tertentu kita dan kekasih seperti bergerak ke arah yang berbeda dan menjauh? Atau, mengapa kita tak pernah bisa merasa dekat dengan seseorang, tak peduli sekeras apapun kita berusaha?
Percaya atau tidak, keterhubungan adalah fakta kehidupan yang sudah selalu ada sejak semula. Kita selalu terhubung dengan diri kita, dengan orang lain, dengan kehidupan. Kenyatannya, seluruh atom dan molekul dalam tubuh kita pun datang dari ledakan bintang-bintang yang sama jutaan tahun lampau.
Namun, meskipun keterhubungan selalu ada, perasaan terhubung itu sendiri bisa datang dan pergi. Sama saja seperti matahari yang selalu hadir, namun ketika langit sedang mendung—atau hari sedang malam, kita tak bisa melihatnya.
Apa yang belakangan ini saya sadari adalah bahwa keterhubungan hanya bisa kita rasakan ketika kita tak terikat dengan identitas diri kita. Yang membuat kita tak bisa merasa terhubung sebenarnya adalah ilusi akan identitas diri kita.
Apa identitas diri yang dimaksudkan di sini?
Identitas ini adalah peran yang kita buat dan berikan untuk diri kita, atau telah diberikan oleh orang lain dan kita menerimanya. Seorang ibu, seorang ayah, seorang istri, seorang anak, pengusaha, pemimpin, penyanyi, musisi, artis, guru, orang Indonesia, orang Amerika, orang Bali... apapun itu, semua ini adalah identitas dan peranan.
Sebagai sebuah identitas yang memainkan peranan, kita memiliki keinginan, hasrat, ekspektasi, kesukaan, ketidaksukaan, penilaian. Inilah yang memisahkan dua manusia dari merasa saling terhubung satu sama lain.
Seorang kawan perempuan pernah bercerita kepada saya tentang saat-saat ketika ia memaksa dirinya sendiri untuk memenuhi peran sebagai seorang Nenek dan ekspektasi orang-orang terhadap peranan itu. Yang dia rasakan adalah perasaan bersalah. Bahkan hubungan dia dan anak kecil yang disebut sebagai ‘cucunya’ itu terasa begitu hampa dan kosong. Sementara di luar peranan itu, ada perasaan bebas yang ia tunggu.
Seorang kawan lain juga terhalang oleh identitasnya sendiri untuk merasakan keterhubungan dengan suaminya. Ia memilih identitas sebagai seorang Ibu dan ia berharap suaminya juga akan hadir sebagai identitas Ayah yang berbagi tanggung jawab membesarkan anak bersamanya. Dengan identitas lainnya sebagai istri, ia juga punya kebutuhan dan keinginan lain. Ketika semua kebutuhan dan ekspektasi ini tidak terpenuhi, ia merasa bahwa cinta dan keterhubungan tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Saya tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa kita harus menerima saja ketika merasakan bahwa ekspektasi kita tidak terpenuhi. Saya juga tak mengatakan bahwa keinginan, kebutuhan, dan ekspektasi kita terhadap orang lain tidak valid. Saya hanya ingin mengatakan bahwa semua itu adalah manifestasi dari identitas yang kita pilih. Dan hal inilah yang membuat kita tak dapat merasakan keterhubungan yang seharusnya mengalir alami antara dua manusia.
Saya juga melihat dengan jelas bagaimana saya tak dapat merasa terhubung dengan orang-orang Bali yang telah menjadi bagian hidup saya selama ini.
Ketika saya melihat diri saya sebagai pendatang—orang asing—yang diperlakukan secara berbeda, saya akan mencoba melakukan berbagai cara agar bisa dekat dan diterima oleh mereka. Saya harus belajar bahasa mereka. Saya harus belajar budaya mereka. Saya harus belajar bermain musik seperti mereka. Saya harus belajar adat-istiadat mereka.
Karena saya mengidentifikasi diri saya sebagai seseorang yang berbeda dari masyarakat Bali, tiba-tiba saja rasanya ada berbagai hal yang perlu saya lakukan untuk bisa sama seperti mereka, untuk bisa terhubung dengan mereka, untuk bisa diterima di tengah-tengah mereka. Saya berusaha untuk terlibat dalam sebanyak-banyaknya aktivitas yang saya bisa bersama mereka, tetapi tetap saja, saya tidak merasakan keterhubungan seperti yang selalu saya inginkan. Dan ini hanya karena saya masih berpegang teguh pada identitas yang saya percayai: sebagai seorang pendatang, sebagai orang luar.
Dan inilah yang menjadi sebab banyaknya perpisahan, konflik, bahkan perang di dunia saat ini. Kita memilih dan memercayai identitas kita dan memainkan peranan berdasarkan kewarganegaraan kita, agama kita, budaya kita, orientasi seksual kita, gender kita, dan melihat diri kita berbeda dari orang lain. Dengan pola pikir seperti ini, kita pun merasa perlu melindungi diri kita dari ‘mereka’.
Ketika saya mengidentifikasi diri saya sebagai Emily, seorang perempuan asing yang bukan orang Bali, yang ingin sekali mempelajari segala hal yang berhubungan dengan budaya Bali dan ingin hidup di tengah masyarakat Bali, tiba-tiba saja rasanya ada begitu banyak hal yang perlu saya lakukan.
Sama halnya, ketika masyarakat Bali mengidentifikasi diri mereka sebagai ‘orang Bali’ yang berbeda dari bangsa-bangsa lain di dunia, mereka pun kemudian merasa ‘perlu’ melakukan segala yang mereka bisa untuk melindungi budaya mereka dari pengaruh Barat.
Kemudian kita pun membangun kontrol perbatasan, memberlakukan visa, melabeli orang-orang sebagai pengungsi, teroris, dan sebagainya.
Tetapi bagaimana jika kita bisa terbangun dari ilusi kita akan identitas ini? Identitas hanyalah omong-kosong untuk memuaskan ego kita akan pengelompokkan, klasifikasi, perbedaan...
Ketika kita terbangun pada Kesadaran yang jernih akan siapa diri kita, kita tak akan memiliki banyak keinginan, kebutuhan, ekspektasi. Kita melihat persamaan alih-alih perbedaan. Kita melihat manusia melampaui semua batas-batas dan sekat-sekat identitas yang memisahkannya. Betapa membebaskan rasanya! Dan hanya pada saat itulah kita kemudian bisa merasakan betapa kita begitu terhubung dengan semua orang, tanpa perlu berusaha terlalu keras.