“Hebat banget sih kamu, udah sibuk kerja, bisnis, ngajar, sambil ngurus anak pula!” -- Siapa sih yang tidak bangga mendapatkan komentar seperti ini dari teman-teman dan orang-orang terdekat? Rasanya hebat sekali untuk bisa melakukan semuanya itu, sambil mengurus dua orang anak.
Saya berusaha keras untuk tidak terjebak dalam dikotomi ibu bekerja vs. ibu di rumah; tapi kadang di dalam hati saya merasa bangga (baca: sombong) karena bisa mendapatkan keduanya.
Setelah melahirkan anak kedua, saya bekerja freelance paruh waktu, sambil merintis bisnis kecil-kecilan bersama seorang teman, dan mengajar seminggu sekali. Kelihatannya keren ya? Tapi tanpa disadari, ternyata saya menjadikan semua kegiatan saya sebagai sebuah pernyataan bahwa walaupun saya sudah punya dua anak, tidak berarti saya tidak bisa produktif. Saya melakukan semua hal tersebut untuk membuat diri saya merasa lebih baik, lebih berarti bagi orang lain, karena saya tidak 'cuma' menjadi seorang ibu dengan dua anak.
Saya ingin dilihat sebagai seorang ibu yang 'hebat'.
Enam bulan berjalan, dan saya mulai merasa tidak senang. Saya pun mulai menjadi orang yang tidak menyenangkan. Selalu mengeluh, selalu menggerutu, protes akan banyak hal yang tidak bisa saya lakukan. Waktu rasanya tidak pernah cukup, tuntutan rasanya tidak kunjung berakhir. Perlahan, saya mulai stres. Dan hati mulai terasa berat menjalani hari-hari yang berlalu.
Tuntutan pekerjaan semakin menggila. Dan karena komitmen waktu saya hanya paruh waktu, ada banyak hal yang tidak bisa saya lakukan dan membuat saya gemas sendiri. Bisnis kecil saya menuntut komitmen penuh dan terkadang membuat saya harus pergi seharian untuk mencari bahan-bahan produksi. Mengajar juga membutuhkan waktu untuk mempersiapkan bahan ajar dan menilai tugas-tugas mahasiswa. Dan, di sela-sela itu semua, saya menyelipkan waktu untuk mengurus anak-anak. Bukan pekerjaan yang saya selipkan di tengah mengurus anak, bukan.
Anak-anaklah yang saya selipkan di tengah pekerjaan.
Di titik itu, saya ditampar oleh Semesta. Dan saya tertunduk.
Ternyata semua kesibukan saya untuk pembuktian diri itu harus dibayar oleh kedua anak saya--yang bahkan belum genap berusia 4 dan 2 tahun. Ternyata yang menjalani konsekuensi atas keputusan-keputusan saya bukan hanya saya, melainkan orang-orang terdekat yang seharusnya saya bahagiakan.
Akhirnya, saya memutuskan untuk melepaskan hal-hal yang membuat hati saya berat, yang membuat saya tidak senang, yang membuat saya menjadi orang yang tidak menyenangkan, yang membuat saya tidak bahagia. Saya memutuskan untuk berhenti bekerja paruh waktu (dan mengucap selamat tinggal pada pemasukan rutin bulanan yang membuat saya bisa berbelanja!), dan hanya fokus pada hal-hal yang membuat saya senang dan membuat hati saya ringan.
Saya bersepakat dengan teman--yang juga rekan bisnis--saya, dan kami memutuskan untuk menggaji karyawan agar kami berdua bisa punya waktu berkualitas dengan keluarga. Tetapi saya terus mengajar, karena mengajar membuat saya bisa berbagi, terinspirasi dan menginspirasi mereka-mereka yang masih muda.
Sekarang saya tidak lagi mengejar semua kesempatan bekerja yang datang mengetuk pintu saya, hanya untuk membuktikan bahwa saya bisa. Beberapa pekerjaan saya ambil, dan beberapa saya lepaskan, dengan keyakinan bahwa yang saya ambil adalah benar-benar hal-hal yang saya inginkan, yang akan membuat saya bahagia jika saya melakukannya. Saya merasa tak perlu lagi membuktikan kepada orang lain bahwa saya ibu yang hebat, tangguh, atau super-produktif.
Yang saya kejar sekarang adalah waktu.
Waktu sebelum kedua anak saya, Triya dan Reina, tidak mau lagi saya peluk-peluk dan cium-cium sesuka saya. Waktu sebelum keluarga dan teman-teman saya tidak menikmati kebersamaan dengan saya karena saya menjadi orang yang pahit dan menyebalkan. Waktu sebelum saya melihat ke belakang dan berpikir betapa tidak menyenangkannya menjalani hari-hari dengan hati yang berat.
Saya tak lagi ingin 'dilihat' orang-orang sebagai ibu yang hebat. Tetapi saya masih ingin menjadi ibu yang hebat: untuk kedua anak saya, Triya dan Reina.