Dalam cahayamu, aku belajar mencinta
Dalam keindahanmu, merangkai puisi.
Kau menari dalam dadaku tanpa ada yang melihatmu,
Namun kadang aku melihatmu,
Dan pandangan itu menjelma mahakarya seni ini.
~
Dengan segala hasrat, berdoalah.
Dengan segala hasrat, bercintalah.
Dengan segala hasrat, makan dan minum dan berdansa dan bermainlah.
Kenapa harus merupa seekor ikan mati
dalam samudera Sang Ilahi?
~
Di bawah cahaya matahari,
Dipenuhi partikel kecil yang menari,
dan satu putaran agung,
jiwa-jiwa kami menari bersamamu,
tanpa kaki, mereka menari.
Dapatkah kau melihat mereka
saat aku berbisik ke telingamu?
~
Matahari adalah cinta. Sang pecinta,
satu titik yang mengelilingi matahari.
Angin di musim semi menggerakkan
semua cabang pohon yang belum mati
hingga merupa tarian.
Tiap-tiap cabang yang belum mati,
Tiap-tiap hati yang siap bergolak dalam mabuk cinta,
akan menari tanpa tertahankan,
bahkan pada saat-saat tergetir sekalipun.
Menarilah, kala kau bak luka terkuak.
Menarilah, bila kau telah mengoyak lepas balutan lukamu
Menarilah di tengah pertikaian.
Menarilah dalam kubangan darahmu.
Menarilah jika kau benar-benar terbebas.
~
Karena kita hidup di tengah segala yang merupa musik, segala hal pun menari.
Perhatikan bagaimana butiran debu bergerak
di bawah cahaya dekat jendela.
Tarian mereka adalah tarian kita.
Kita jarang mendengar musik yang terlantunkan di dalam diri,
Namun tetap saja kita semua menari,
Dalam arahan dia yang mengajarkan kita,
Sukacita murni dari sang surya,
maestro musik kau dan aku.
~
Teruslah berjalan, walau tak ada tempat yang dituju.
Jangan coba-coba melihat melampaui jarak yang ada.
Itu bukanlah porsi manusia.
Bergeraklah dalam diri,
namun jangan bergerak
selayaknya rasa takut menggerakkanmu.
Hari ini, seperti halnya hari lain, kita terjaga dalam hampa dan ketakutan.
Tak perlu membuka pintu ke ruang belajar dan mulai membaca.
Ambillah sebuah alat musik.
Biarkan keindahan yang kita cinta menjadi apa yang kita lakukan.
Ada ratusan cara untuk berlutut dan mengecup ibu pertiwi.