"Ayah, aku mau bicara deh dengan kamu..."
Pagi hari dua hari yang lalu, ketika Hanami baru saja bangun ia langsung berujar, "Ayah, aku mau bicara deh dengan kamu..."
Ia bergerak bangun seraya mengajak keluar kamar.
Saya memandang heran, dan berusaha mencari jawaban dengan pandangan bertanya-tanya kepada istri. Ia hanya mengangkat bahu, "Turutin aja. Anaknya pingin ngomong tuh."
Hanami meminta saya duduk dihadapannya. Saya mengatur emosi dan pikiran. Ada apa ini?
Hanami mengambil nafas dan mengaku bahwa sehari sebelumnya ia membeli dompet. Saya dan dia memang sudah punya kesepakatan, bahwa ia tidak akan membeli dompet lagi. Koleksi dompetnya hampir sama dengan jumlah tas Ibunya.
Ia bertutur bahwa ia sesungguhnya khawatir dengan reaksi saya, karena ia melanggar perjanjian kami berdua. Ia tahu ada perjanjian, namun ingin sekali membeli dompet transparan itu. Hanami juga memaparkan bahwa dompet itu bisa ia gunakan buat tempat pensil, dan lain-lain. Selasai paparan, ia menunggu reaksi saya. Takut, hingga matanya berkaca-kaca.
Saya bisa saja marah karena ia melanggar perjanjian kami. Saya merasa tidak dihargai dalam hal ini. Saya, orang tuanya sendiri, ditelikung dalam perjanjian ini!
Namun saya memilih untuk tersenyum dan mengucapkan terima kasih, karena ia sudah jujur serta menghargai perjanjian kami. Saya juga berterima kasih karena ia sudah berani memaparkan pemikirannya, yang pastinya tidak mudah karena dilingkupi rasa takut. Saya berterima kasih, karena ia telah berani mengajak saya berdiskusi.
Ia menghampiri dan memeluk saya sambil menangis. Ada rasa penyesalan dan kelegaan dalam dirinya. Rupanya, sudah sejak semalaman ia memikirkan hal ini. Pasti semalaman ia gelisah menimbang-nimbang apakah sebaiknya ia berkata jujur atau tidak berkata apa-apa.
Istri saya menyeruak dari kamar, khawatir mendengar tangisan Hanami. "Ibu bisa jelasin..." ujarnya. Saya memberi kode bahwa semua baik-baik saja. Hanami masih sesegukan terharu di pelukan saya. Kami berpelukan cukup lama hingga ia tenang.
Selepas dari pelukan, ia melenggang riang, dan melanjutkkan aktifitas pagi harinya.
Istri saya tersenyum. Ia bercerita bahwa sesungguhnya Hanami memang khawatir dan sudah memutuskan untuk tidak berkata apa-apa. Namun pagi itu, ia memilh menjadi pemberani dengan berkata jujur.
"Terima kasih ya, sudah mau mendengarkan anaknya. Ia akan mengingat hari ini untuk selamanya."
Saya tertegun. Sesungguhnya, saya yang harus berterima kasih, karena diberikan kesempatan untuk menjadi orang yang lebih baik.