Di balik karya yang bagimu menarik hati, terdapat sosok yang ketidaksempurnaannya mungkin akan meretakkan imaji.

Saya percaya, kita boleh jatuh cinta pada sekumpulan kata tanpa harus jatuh cinta juga pada yang menuliskannya. Sah-sah saja mengagumi sebuah suara, tetapi mengagumi penyanyinya adalah persoalan yang sama sekali berbeda.

Biarkan seorang penulis sepenuhnya menjadi penulis ketika ia asyik berkutat dengan layar komputernya. Ketika kemudian ia duduk di depanmu, ia takkan selalu meramu kata-kata sedemikian rupa. Ia kadang malah enggan mengutarakan pemikirannya. Ia sewaktu-waktu akan kehabisan bahan bercerita. Ia bahkan bisa jadi garing saat bercanda.

Biarkan seorang penyanyi sebebasnya menjadi penyanyi saat ia tampil di depan sekian pasang mata. Seusai ia turun dari panggung sana, ia tak lagi disorot sinar lampu dan lensa kamera. Ia bisa salah kostum dan lepek rambutnya. Ia kadang kala alpa membubuhkan perias di wajahnya. Ia pun tak mau dinilai hanya dari ketampakan luarnya.

Sia-sia, kalau kita berekspektasi seorang penyanyi akan bernyanyi tentang kita 24 jam dalam sehari. Muluk-muluk, jika kita mengharapkan seorang penulis akan merangkai kata-kata tentant kita sepanjang tahun. Hidup mereka jauh lebih kompleks daripada proyeksi kita akan profesi mereka selama ini.

Saya sadar, saya perlu berhenti mengglorifikasi bahwa mereka yang menggeluti passion-nya dengan penuh waktu pasti menjalani hidup yang menakjubkan di tiap detiknya. Padahal, riuh tepuk tangan pendengar maupun ulasan positif dari para pembaca bukanlah sesuatu yang terus berlangsung.

Kelak, ia juga akan kehilangan segala sesuatu yang kita puji hari ini. Wajahnya akan penuh keriput dan flek hitam. Suaranya berubah parau, serak, dan membosankan. Ingatannya berkejaran dengan daya pikir yang menurun. Kreativitasnya seakan kering seiring berlalunya waktu. Bila nanti masa itu tiba, lantas apa yang akan membuat kita tetap menyebutnya sebagai belahan jiwa?

Mari menguji hati sekali lagi. Ketika kita jatuh cinta, apakah itu pada sesosok pribadi, atau pada atribut-atribut tidak substansif yang melekat padanya? Seandainya label mengenai profesi mereka dilepaskan, sebagai siapakah mereka di hadapan kita kemudian? Pribadi seperti apakah mereka seandainya profesi mereka tak lagi jadi bagian dari kehidupan yang mereka jalani?

Jadi, silakan pilih salah satu: mengagumi karya seseorang atau ikut mengagumi si pembuat karya---seutuhnya. Tetapi, bila kita berani mengambil opsi yang kedua, siap-siaplah menghadapi kenyataan bahwa pribadi mereka tak hanya punya talenta, tetapi juga kekurangan-kekurangan, seperti kita juga.

Dan ketika kekurangan-kekurangan itu dihadapkan kepada kita, akankah kita masih mampu memberikan cinta?