"Aku mencintaimu atas kesederhanaan bukan kesempurnaan."

Percakapan saya dengan seorang teman dekat malam ini membawa saya ke dalam pergulatan esensi kata. Mencinta. Kesederhanaan. Kesempurnaan. Seperti Sapardi dalam sajak "Aku Ingin", upaya banyak orang (juga saya) menemukan rupa cinta, menerjemahkannya ke dalam baris kalimat menjebak saya dalam kehilangan makna.

Benarkah kita mampu merangkum sebuah perasaan dalam kalimat-kalimat? Cinta adalah sebuah entitas yang memiliki pemaknaan yang luas dan berbeda yang seyogyanya terartikulasi dalam sikap keseharian.

Ibu saya, misalnya, mencintai dengan segala kesederhanaannya. Memasak setiap hari bagi keempat anaknya, menjual pakaian untuk bayaran sekolah, merangkak di tengah hutan sambil merangkul kami ketika melarikan diri dari ayah, dan mendongeng di setiap malam menghilangkan ketakutan kami tiap kali teringat sabuk besi dan langkah kaki ayah.

Pada dinding yang lain pun, ia menjaga kesederhanaan cintanya dengan mengunci rapat kesedihan serta kegagalan pernikahannya di hadapan nenek. Tak pernah Ibu memburai tersengguk sedih di muka siapapun. Bahkan sewaktu ia sendiri di balik sekat kamarnya sekalipun. Kesederhanaan Ibu, membebaskan cinta dari kata-kata yang memenjara.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

Dengan kata yang tak sempat diucapkan

Kayu kepada api yang menjadikannya abu

Menjaga keutuhan makna cinta bisa dengan menunda penerjemahannya. Mungkin Sapardi hendak menyampaikan bahwa kesederhanaan lahir dari kesahajaan sikap bukan melalui ungkapan perkataan. "Kata" akan menjadi parameter jika ia diucapkan, yang mungkin kelak mengurangi makna dari "kata" itu sendiri. Kesederhanaan Ibu saya lihat sebagai sebuah keberanian. Sebuah sikap yang mencerminkan cinta di setiap jengkalnya. Sebuah kesempurnaan; cinta!

Malam ini, seorang teman menggoyahkan keyakinan saya akan hakikat cinta, kesederhanaan dan sempurna. Ia menyodorkan sepiring kelemahan, seraya berujar, "Aku merasa tidak layak untukmu." Apa itu lemah? Mengapa kita kerap takut terlihat lemah; lemah dalam mencinta? Apa pula itu layak? Haruskah sempurna dalam mencintai seseorang? Saat ini, saya bangun pada fajar yang lain. Bagi saya, melihat kelemahanmu dan menyaksikan betapa rapuhnya kamu tidak serta merta menjadikanmu "lemah" dan "tidak layak."

Cinta merupakan sesuatu yang kompleks juga kerap bersifat paradoks. Kesempurnaan hanya akan sempurna jika ada ketidaksempurnaan. Kelemahanmu (baca: ketidaksempurnaan) membuat saya di detik ini mencintaimu lebih dari sebelumnya. Kelemahan itu menjadikan dirimu sempurna. Menutupi segala celah. Melengkapi segala cela. Anggap saja demikian, so to speak. Sebuah cela menyadarkan saya bahwa cinta itu tidak jumawa. Ia sederhana. Ia merangkul segala ketidaksempurnaan dan menyandingkannya dengan sempurna dalam semesta cinta.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Penyampaian metaforis Sapardi tentang cinta dan kesederhanaan membantu saya memahami hakikat kata. Sifat adalah sesuatu yang maha luas, sementara kata adalah upaya terlemah manusia dalam merangkum keluasan itu. Mungkin selama ini kita terjebak dalam mengartikan cinta. Terpenjara dalam pertanyaan-pertanyaan:

"Mengapa kamu mencintai saya/dia?"

"Apakah itu cinta menurut pandanganmu?"

"Apa saja yang mampu membuatmu jatuh cinta pada seseorang?"

Saya mencintai Ibu, yang dengan segala kesederhanaannya menjadikannya sempurna. Pula dirimu, yang dengan segala keterbatasan, kelemahan, ketidakyakinan itu menjadikanmu layak. Cinta layak bagi mereka yang bersahaja, mengakui arif kelemahannya.

Sempurnalah kamu karenanya.