Waktu anak lelaki kawan saya mulai enggan pergi bersekolah, kawan saya memutuskan untuk mencari tahu alasannya.

Jadi, suatu hari, ia pergi ke sekolah dengan anak lelakinya dan memutuskan untuk duduk mengikuti pelajaran berlangsung.

Kawan saya itupun terkejut ketika mengetahui bagaimana sang guru memperlakukan murid-muridnya: terkadang mengancam dan mengeluarkan kata-kata yang merendahkan, kali lain bahkan mempermalukan anak-anak muridnya ketika mereka tak cukup cepat menangkap pelajaran.

Kini ia mengerti alasan di balik sikap enggan anak lelakinya.

Hari itu juga, kawan saya memutuskan untuk mengeluarkan anak lelakinya dari sekolah. Ia pun mengambil jalan homeschooling sebagai pilihan.

Memang, homeschooling menempatkan orang tua dalam posisi dan tanggung jawab yang lebih berat dari biasanya. Namun, setelah beberapa saat, kawan saya merasakan bahwa homeschooling adalah pilihan yang paling tepat--untuknya, dan untuk anak lelakinya.

Setelah beberapa waktu bersekolah di rumah, anak lelakinya justru menjadi lebih ceria, lebih ingin tahu, lebih percaya diri, dan lebih bahagia daripada sewaktu masih bersekolah di sekolah umum dulu.

Kawan-kawan dan keluarga kawan saya mengecam keputusannya itu.

"Kamu tak bisa begitu. Anak lelakimu mesti belajar bahwa dunia itu tempat yang keras. Ia mesti tahu bagaimana caranya hidup di dunia yang keras itu," kata mereka.

Dan kawan saya itu menjawab:

"Kalau kamu harus bekerja di kantor, dan atasanmu mengancam dan meneriakkan kata-kata yang merendahkan padamu setiap hari, mempermalukan kamu di depan rekan-rekan kerjamu setiap kali ada kesempatan, apakah kamu akan tetap bekerja di sana? Ataukah kamu akan mencoba mencari pekerjaan baru yang lebih baik? Seperti apa rasanya jika kamu berada dalam situasi semacam itu setiap hari? Bagaimana rasanya pergi kerja setiap hari, mengetahui situasi macam apa yang akan kamu hadapi di kantor? Dan mengapa kamu membiarkan orang lain memperlakukanmu seperti itu? Mengapa kamu memilih untuk hidup seperti itu? Dan apakah kamu akan mengajari anakmu untuk hidup seperti itu?"

Saya mengagumi cara kawan saya merespon hal ini.

Dan saya menghormati sudut pandangnya. Sesungguhnya, ia telah mengajari anak lelakinya untuk hidup di dunia yang 'keras'.

Saya seringkali teringat kisah kawan saya itu ketika saya merasa menjadi korban dari keadaan. Ada saat-saat tertentu dalam hidup saya ketika menempatkan diri sebagai 'korban' terdengar romantis atau dramatis. Karena menempatkan diri saya sebagai 'korban' kemudian membuat saya jadi pihak yang tak bersalah, yang dizalimi, yang patut dikasihani.

Apakah mungkin orang lain menjahati, mempermalukan, atau merendahkan kita--dan apa yang terjadi dengan diri kita bukanlah sepenuhnya salah kita? Mungkin. Mungkin saja. Mungkin sekali.

Tetapi cerita kawan saya mengingatkan saya bahwa menjadi 'korban' adalah pilihan: pilihan hidup, pilihan tentang sudut pandang yang hendak kita ambil. Kita memang tak punya pilihan untuk membatalkan sebuah situasi buruk yang sudah terjadi, dan harus menerimanya. We just have to live with it.

Tetapi kita selalu punya pilihan: apakah kita akan menerima situasi buruk itu dan hidup sebagai korban, atau sebagai penyintas?

Saya memilih menjadi yang terakhir. Atau setidaknya berupaya menjadi demikian. Kawan saya memutuskan untuk mengajari anaknya bagaimana hidup di dunia yang 'keras': bukan sebagai korban, tetapi sebagai seorang penyintas.

Kelak, jika saya memiliki seorang anak, saya pun berharap ia bisa belajar bahwa ada cara lain untuk hidup dalam dunia yang 'keras'. Saya akan memberitahunya bahwa ia punya pilihan untuk keluar dari segala keburukan yang menimpanya sebagai seorang penyintas.

As a survivor.