Masih ingatkah saat pertama kali kita menjalin hubungan baru dengan pasangan? Apakah hal-hal yang kita lakukan di masa itu masih kita lakukan hingga sekarang?

“Uh. Pantas saja mereka mesra begitu. Mereka kan masih pasangan baru.”

Mungkin hal ini kerap terlintas dalam benak kita—atau bahkan terucapkan secara tidak sengaja, ketika melihat kemesraan mereka yang baru saja menjalin hubungan. Di mata kita, terkadang hal-hal yang mereka lakukan terasa ‘menyebalkan’. Tetapi, apakah kita juga tak melakukan hal yang sama ketika kita baru memulai sebuah hubungan?

Bagaimana jika hal-hal ‘menyebalkan’ yang dilakukan oleh pasangan-pasangan baru itu sebenarnya menyimpan banyak pelajaran tentang menjalin hubungan cinta yang sehat?

1. Melihat kekurangan pasangan sebagai hal yang wajar, dan menggunakan kesempatan ini untuk menunjukkan kelebihan yang kita miliki.

“Mengapa sih kamu harus selalu membangunkannya setiap pagi lewat telepon—kan dia bisa menyetel alarm?” atau “Kok kamu bisa tahan sih, dengan sikapnya saat dia sedang ngambek seperti itu?”

Ya, hal-hal ini mungkin memang terasa ‘menyebalkan’ bagi kita—karena kita seringkali menganggap para pasangan baru ini ‘terlalu toleran’ dengan kekurangan pasangannya. Tetapi ketika kita baru memulai hubungan, kekurangan pasangan seringkali malah menjadi kesempatan yang menyenangkan bagi kita untuk memberikan bantuan atau pertolongan.

Ada kebahagiaan tersendiri ketika dengan sabar kita bisa meladeni pasangan yang sedang marah hingga tersenyum kembali; atau ketika kita harus bangun lebih pagi dari biasa demi memastikan pasangan tidak akan terlambat pergi ke kantor. Semuanya kita lakukan dengan hati senang dan penuh rasa kasih-sayang.

Apakah kini kita juga masih melihat kekurangan pasangan sebagai hal yang manusiawi dan menerimanya dengan lapang hati? Apakah kita masih melihat kekurangan pasangan sebagai kesempatan bagi kita untuk menawarkan bantuan dan memberikan perhatian lebih?

2. Murah hati dalam memberikan pujian

“Kamu cantik sekali!” atau “Wah, kamu terlihat gagah dalam jas itu!” atau “Kamu baik sekali mau mengantarkan aku ke tempat ini!”

Terkadang ini juga terdengar ‘menyebalkan’ di telinga kita—karena pasangan-pasangan baru kerap menghamburkan rangkaian pujian dan kata-kata manis terhadap satu sama lain di berbagai kesempatan.

Namun, ketika kita baru saja menjalin hubungan, kita juga sangat murah hati dalam memberikan pujian. Kita masih mampu untuk melihat banyak hal baik dan menyenangkan dari pasangan, dan hal baik sekecil apapun sepertinya tak luput dari perhatian kita. Selalu ada saja perhatian-perhatian sederhana dari pasangan yang membuat kita merasa bahagia, tersentuh, atau terharu, dan kita tak segan-segan memberitahukannya pada pasangan.

Apakah kita juga masih mampu melihat banyak hal baik pada diri pasangan kita sekarang ini—dan memujinya dari waktu ke waktu? Ataukah kita sudah menganggap hal-hal baik itu sebagai hal yang ‘biasa saja’ dan tak lagi memedulikannya?

3. Meluangkan waktu untuk mendengarkan pasangan dan menikmati kebersamaan

Kita juga mungkin kerap merasa ‘sebal’ ketika kawan yang baru memulai hubungan menghabiskan banyak waktu bersama pasangannya. Pulang kantor atau di akhir pekan, sepertinya mereka ingin terus selalu bersama-sama. Baru saja bertemu, tak lama mereka sudah saling menelepon dan bercakap-cakap lagi hingga larut malam.

Kita pun tentu pernah berada dalam suasana hati seperti itu—ketika yang bisa kita rasakan adalah kerinduan yang amat sangat untuk berbincang dan menghabiskan waktu bersama-sama dengan pasangan baru. Kita begitu bersemangat untuk berbagi kisah dan mengenal pasangan lebih dalam, menyelami pikiran, perasaan, dan impiannya dengan hati terbuka.

Kita begitu menikmati saat-saat kita bisa bercanda-tawa atau menikmati momen-momen pribadi dengan pasangan berada di sisi kita. Kita menghargai waktu yang kita miliki—dan menikmatinya sebisa mungkin. Bahkan di tengah kesibukan, kita masih bisa mencuri-curi waktu untuk bertemu atau berkomunikasi dengan pasangan.

Bagaimana dengan sekarang? Apakah kita masih meluangkan cukup waktu dan menyempatkan diri untuk berkomunikasi atau bersantai dengan pasangan? Ataukah kata ‘sibuk’ sudah menjadi alasan bagi kita untuk tak lagi memiliki waktu kencan? Masihkah kita tertarik mendengarkan pikiran, perasaan, dan impian pasangan kita—atau kini kita menganggapnya sebagai hal yang membosankan?

4. Melihat setiap kesempatan sebagai momen untuk mengungkapkan rasa sayang

Mengelus rambut, meminjamkan jaket ketika udara dingin, menggenggam tangan ketika menyeberang jalan, memeluk sayang, atau panik mencari hadiah untuk pasangan sebulan sebelum hari ulang tahunnya... hal-hal ini mungkin terasa ‘menyebalkan’ buat kita. Kita mungkin berpikir bahwa pasangan baru ini menunjukkan kasih-sayang berlebihan; atau terlalu ‘repot’ berusaha menyenangkan pasangannya.

Namun, jika diingat, ketika baru memulai hubungan, kita pun masih kerap melihat berbagai kesempatan sebagai sarana untuk meluapkan rasa sayang kepada pasangan. Kita menandai hari-hari istimewa dari jauh-jauh hari dan mempersiapkannya dengan sungguh-sungguh; terkadang bahkan melibatkan kawan-kawan untuk membuat kejutan. Kita lebih sering memberikan sentuhan dan perhatian sayang kepada pasangan; memintanya untuk hati-hati ketika sedang berjalan di tempat yang licin; menyiapkan makan malam dengan tatanan meja ala restoran; memberikan tempat duduk dengan pemandangan yang lebih mengesankan; atau memberikan pelukan sayang di berbagai kesempatan.

Seiring berlalunya waktu, apakah kita juga masih bisa melihat banyak kesempatan untuk mengungkapkan rasa sayang kepada pasangan dalam keseharian kita?

5. Berprasangka baik dan mudah memaafkan

Ketika baru saja memulai hubungan, kita juga cenderung lebih mampu berprasangka baik terhadap pasangan. Karena kita masih merasa sangat yakin dan penuh harap dengan hubungan yang baru dijalani, kita juga masih memiliki rasa percaya yang cukup tinggi terhadap pasangan kita masing-masing.

Jika pasangan belum juga menelepon, kita akan berpikir bahwa pasangan mungkin tengah sibuk bekerja. Jika pasangan menunjukkan tanda-tanda akan terlambat, kita akan berpikir bahwa mungkin jalanan sedang macet-macetnya. Jika pasangan melupakan sesuatu, kita bertanya-tanya, apakah mungkin pasangan kita tengah bergulat dengan kecemasan atau kesulitannya sendiri.

Ketika pasangan melakukan kesalahan, kita pun lebih mudah memaafkan.

Bagaimana dengan kita dan pasangan sekarang ini? Masihkah kita mampu menanggapi polah pasangan dengan berprasangka baik alih-alih berprasangka buruk?

Ada satu pertanyaan yang sesungguhnya perlu kita jawab dengan jujur: mengapa kita merasa ‘sebal’ ketika melihat pasangan-pasangan baru yang sepertinya sedang dimabuk cinta itu? Karena bisa jadi, yang membuat kita merasa terganggu adalah rasa ‘cemburu’. Betapa sesungguhnya kita masih menginginkan kemampuan untuk mencintai dengan kualitas sedemikian, dalam hubungan yang kita jalani saat ini.