Saya belum tahu apakah saya telah berhasil melupakannya. Tapi, berbagai tahap yang telah saya lewati berujung pada suatu kesadaran: bahwa ternyata, saya tidak betul-betul membutuhkannya.
Saya kehilangan seseorang.
Beberapa hari pertama setelah kehilangan, jiwa saya seolah menolak membiasakan diri terhadap ketidakhadirannya. Begitu mudah ternyata untuk mengasosiasikan kebahagiaan dengan orang yang hilang ini. Bagaimana tidak? Kehadirannya seakan menghadirkan saat-saat terbaik dalam hidup saya, walau kenyataannya tidak selalu begitu.
Kebetulan saja ia hadir di saat-saat menyenangkan karena saya menghabiskan sebagian besar waktu bersamanya. Namun, apapun alasannya, ide tentang dia dan kebahagiaan saya tidak bisa terpisahkan. Karenanya, saya sempat melewati 3 tahapan sulit ketika berupaya memulihkan diri dari kehilangannya.
***
Kegelisahan
Saya secara otomatis menengok ke sebelah setiap kali sedang duduk sendiri. Biasanya, ia ada di situ.
Biasanya, ketika saya memikirkan sesuatu yang menarik atau ingin menceritakan pengalaman yang baru saja terjadi, saya dapat langsung menceritakannya kepada dia. Ketidakberadaannya mengguncang diri saya, memaksa saya menghadapi keadaan yang tidak biasa saya hadapi.
Diam rasannya aneh. Menyampaikan cerita saya melalui ponsel rasanya lebih aneh lagi. Saya harus bagaimana? Begitulah bunyi kegelisahan saya.
Ini mungkin pemikiran yang kontroversial, tapi menurut saya cinta sendiri tidak ada. Kebutuhan akan suatu perasaan atau kehadiran seseoranglah yang ada. Dan itulah yang membuat saya merasa sering menyalahartikannya sebagai cinta. Sebuah kebutuhan dapat dimunculkan. Kita bisa diajari untuk membutuhkan sesuatu yang awalnya tidak kita butuhkan. Seseorang memasuki kehidupan kita, dan kemudian ia pun dapat menjadi kebutuhan baru itu.
Apa yang bisa dirasakan manusia selain gelisah ketika tahu kebutuhannya tidak dapat terpenuhi?
Kegelisahan menggerus hati saya untuk waktu yang cukup lama. Ia menghadirkan berbagai pertanyaan yang sebelumnya tidak ada, mulai dari pertanyaan tentang perasaannya, tentang tiap hal yang pernah ia katakan, hingga tentang perempuan lain.
Kerinduan
Tidak berbeda jauh dari kegelisahan, dalam kerinduan, saya juga merasa kehilangan.
Kali ini, saya menyadari bahwa saya tidak lagi dapat memiliki sosok yang saya (kira) butuhkan. Dan, jika boleh jujur, saya sesungguhnya tidak membutuhkannya. Saya hanya menginginkannya saja. Ingin, bukan butuh. Saya sadar bahwa keberadaannya membuat saya mendapat sesuatu yang lebih: perhatian, penerimaan, atau sekadar seorang teman.
Saya tidak akan mati tanpa semua itu. Kalaupun iya, bukankah saya bisa mendapatkan perhatian, penerimaan dan pertemanan dari orang lain? Mengapa harus darinya? Tapi saya--kita--hanyalah manusia yang selalu ingin lebih. Sulit bagi kita untuk menerima apa yang ada jika kita pernah dan mampu mendapat lebih banyak lagi.
Dengan kata lain, saya sempurna tanpa adanya orang lain. Namun sanggupkah saya menolak kesempatan untuk menjadi 'lebih sempurna'? Cinta terkadang juga disalahartikan sebagai bentuk aktualisasi diri--terkadang, ini bukan soal kehilangan orang lain atau orang tertentu, melainkan perasaan bahwa kita tidak lengkap. Tidak cukup.
Kerinduan, kehilangan, dan kekalahan seolah menjadi padanan kata yang saling menemani. Miss dan loss. Bagaimana tidak? Perasaan menang yang membuat saya merasa "lebih sempurna" kini hilang, dan dari kehilangan itu terbentuk ruang yang diisi perasaan kalah.
Penasaran
Saya cukup. Saya berhenti menginginkan lebih. Namun, apa yang pernah terjadi dan apa yang pernah ia berikan dalam hidup saya masih tetap tinggal pada satu ruang di masa lalu saya.
But, what if..?
Bagaimana jika ruang tersebut meluas ke masa sekarang? Bagaimana jika saya mengunjungi kembali ruang tersebut? Bagaimana jika saya memiliki hal-hal lain dalam diri saya yang memungkinkan saya untuk mempertahankan keberadaannya? Bagaimana jika perasaannya atau perasaan saya berbalik? Apakah ada cara agar saya mendapatkan yang lebih baik?
Ia menjadi masa lalu dan masa depan: menjulurkan akar-akarnya ke arah saya.
Apa yang akan akar-akar itu bawa?
Akankah mereka melilit di kaki saya dan membawa saya menjauh dari yang telah lalu, ataukah masa lalu akan masuk kembali melalui celah-celah akar yang bertumpang tindih dan terajut rapat? Sisa-sisa dari dirinya yang masih ada di pikiran saya melebur dengan rasa penasaran, kemudian hilang.
***
Saya kehilangan seseorang.
Namun, ia tidak benar-benar hilang. Ia (atau rasa yang hilang bersama kehilangannya) saya temukan di sela-sela kesibukan saya: dalam satu ruang antara kehidupan nyata yang menuntut saya untuk melupakannya, dan angan-angan bahwa ia dapat kembali pada saya lagi, suatu hari nanti.
Saya bisa bahagia tanpanya.
Saya makan semua makanan kesukaan saya, pergi ke berbagai tempat menarik, saya menghabiskan waktu bersenang-senang, dan bekerja kapan pun saya sempat.
Saya tahu itu. Saya pernah bahagia tanpanya, dan saya tahu saya pernah hidup baik-baik saja tanpanya. Jadi, jika ia tak lagi ada dalam kehidupan saya, saya tahu saya akan masih bisa bahagia. Dan saya bahagia karena mengetahui hal ini.
Saya hanya masih berusaha saja, untuk kembali terbiasa dengan kehidupan saya sebelum kehadirannya.