Menunggu jawaban. Banyak di antara kita (termasuk saya) yang tengah berada dalam posisi ini. Kita sering berpikir, "Ah, jika saja kita bisa mendapat jawaban pasti, pasti kita bisa begini, bisa begitu...! Tapi, apa artinya ketika kita mendapatkan jawaban itu?

Pertanyaan ini melintas dalam benak saya pada suatu malam yang dingin dan basah, ketika saya dan kawan saya duduk-duduk di meja sudut sebuah restoran yang ramai.

***

Setelah beberapa bulan menikmati hubungan tanpa status yang terasa ringan dan menyenangkan, kawan saya itu memutuskan untuk menjaga ekspektasinya, sekaligus menjaga hatinya.

Maka, ia pun melontarkan Pertanyaan Itu pada si lelaki: "Saya tidak memintamu melakukan apapun, saya hanya perlu tahu di mana posisi saya," ujarnya, selagi mereka duduk berdampingan di bawah langit yang asing di negeri yang asing, jauh dari rumah dan kenangan-kenangan masa lalu. "Saya menyukai apa yang kita punya. Dan saya ingin membaginya denganmu selama yang memungkinkan. Tapi, di saat yang bersamaan, saya perlu melindungi hati saya juga. Saya hanya perlu tahu apakah ini akan berjalan lebih jauh daripada sekadar summer fling, atau tidak. Dengan begitu, saya bisa menyiapkan hati saya, sehingga saya tak perlu terluka lagi."

Lelaki itu mengeraskan rahangnya dan menyahut tanpa ragu, "Yang kita punya bukan summer fling! Saya sungguh percaya pada apa yang kita punya, yang kita bagi bersama. Saya menyukai gagasan tentang KITA sebagaimana dirimu menyukainya. Dan saya ingin kamu mengetahui hal ini sejak semula."

Kawan saya itu merasa hatinya melompat gembira, sedikit.

"Tapi, faktanya adalah, saya punya kekasih," ujar lelaki itu. "Dan kami merencanakan untuk menikah di akhir tahun ini."

Sesuatu melesak dalam dada kawan saya. Ia merasakan rasa sakit yang familier itu, lagi. Ia tak imun terhadap rasa sakit itu, tak peduli seberapa sering ia telah menemukan dirinya tergerus situasi yang sama.

Jadi, kawan saya itu memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Ia tahu mereka takkan beranjak ke mana-mana. Lelaki itu akan menikah. Tak ada masa depan dalam hubungan mereka berdua. Kawan saya tak mau terluka lebih dalam lagi. Jadi ia putuskan untuk mengucapkan apa yang ia kira adalah ucapan selamat tinggal.

Tapi lelaki itu menolak meninggalkannya. Dan kawan saya juga tak bisa menyangkal ketertarikan di antara mereka berdua. Tanda-tanda itu. Ikatan itu. Kawan saya tak dapat menyangkal rasa hatinya. Tapi waktu terus berjalan. Jadi, kawan saya melontarkan Pertanyaan Itu, lagi:

"Kita tak bisa terus seperti ini," ujar kawan saya, sedikit frustrasi. "Saya perlu tahu kita akan beranjak ke mana. Kamu akan menikah. Jadi mengapa kita di sini? Mengapa kita melakukan hal ini?"

"Saya mencintaimu," ujar lelaki itu. Jawaban yang hampir semua orang ingin mendengar. "Saya tak bisa menyangkal perasaan saya juga. Saya sudah memutuskan dan memikirkannya baik-baik. Saya akan bicara dengan kekasih saya dan keluarganya. Saya ingin bersamamu."

Dan demikianlah. Kawan saya pun telah mendapatkan Jawaban Itu--sesuatu yang kita semua inginkan: kepastian, afirmasi, komitmen. Kawan saya pun tersenyum dengan sepenuh jiwanya. Dengan Jawaban Itu, untuk pertama kalinya dalam bulan-bulan yang penuh kecemasan, ia akhirnya menemukan kepastian dan jaring pengaman: untuk membuka diri, untuk bermimpi tentang masa depan, untuk menjadi rapuh, untuk mencurahkan seluruh hatinya, untuk sepenuhnya jatuh cinta.

Tiga bulan kemudian, kawan saya itu menerima undangan pernikahan. Dari lelaki itu. Dan kawan saya bukanlah pengantin perempuannya.

***

Jadi apa artinya mendapatkan Jawaban Itu, yang selalu kita tunggu-tunggu? Demikian saya bertanya pada diri sendiri ketika usai mendengarkan kisah kawan saya malam itu.

Saya sadar bahwa Jawaban Itu dapat hadir dalam berbagai bentuk: dari tiga kata Aku-Cinta-Kamu hingga balasan akan pesan teks yang kita kirimkan. Sebuah undangan untuk menonton film bersama, sebuah pujian: "Kamu cantik!", perubahan di status Facebook seseorang dari lajang menjadi in-a-relationship. Jawaban Itu juga bisa berupa pinangan untuk menikah, cincin kawin, cahaya imajiner dalam matanya setiap kali ia memandang kita.

Dan kita selalu berpikir bahwa kita membutuhkan Jawaban Itu. Untuk bisa move on. Untuk memiliki closure dan mengakhiri sesuatu. Untuk merasa yakin. Untuk merasa lebih yakin. Untuk memutuskan apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Untuk mengetahui apakah kita dapat sepenuhnya jatuh cinta, atau tidak.

Saya pernah merasa seperti ini juga, sebelumnya. Ada banyak momen dalam hidup ketika saya ngotot ingin mendapatkan Jawaban Itu--hingga pada satu titik, saya merasa bahwa saya hanya mencari-cari alasan untuk tidak bertindak, untuk tidak mengambil keputusan, untuk tidak perlu bertanggung jawab jika saya salah (atau disalahkan).

Setelah saya pikir-pikir lagi, mendapatkan Jawaban Itu juga tidak menjadi garansi akan apapun. Kita selalu berpikir bahwa kalau saja kita mendapatkan Jawaban Itu, kita akan merasa pasti--meskipun kita tahu betul tak ada yang namanya kepastian dalam hidup ini. Nothing is final.

Saya menyadari bahwa meskipun kita berupaya sekuat tenaga mendapatkan Jawaban Itu, mendapatkan jawabannya ternyata tak berarti banyak juga. Begitulah hidup. Terkadang, orang-orang mengatakan hal yang tak mereka maksudkan. Atau mereka mengatakan hal yang mereka maksudkan, tapi lalu berubah pikiran. Hati menemukan sosok lain untuk dicintai. Orang-orang tumbuh bersama, lalu berpisah. Memiliki Jawaban Itu ternyata tak akan membuat kita imun dari rasa sakit dan terluka.

Mengapa kita memerlukan Jawaban Itu dari orang lain, untuk memutuskan apa yang akan kita lakukan? Untuk memutuskan apakah kita akan tersenyum atau menangis, apakah kita akan move on melanjutkan hidup, atau jatuh cinta lagi? Mengapa kita merasa bahwa kita butuh kepastian tentang sesuatu; ketika kita tahu bahwa hidup ini penuh dengan ketidakpastian?

Apa yang salah dengan tak mengetahui Jawaban Itu, dan merasa baik-baik saja dengan ketidaktahuan itu?

Karena bukankah, meskipun kita sudah mendapatkan Jawaban Itu, kita akan selalu saja punya pertanyaan lain yang menuntut jawaban lainnya?