Mengharapkan seseorang memberikan jawaban adalah sesuatu yang mustahil, karena perjalanan setiap insan pada dasarnya berbeda-beda. Dan mereka yang bijaksana, tak akan pernah cukup berani untuk menjawabnya bagi kita. Sebagaimana kita pun tak semestinya mendiktekan apa yang terbaik bagi orang lain.

Baru-baru ini saya mendapatkan kunjungan dari seorang sahabat saya yang berasal dari salah satu negara di Eropa. Ketika pertama kali mengabarkan rencana kunjungannya ke Bali, ia hanya mengatakan ingin berlibur. Belakangan ketika akhirnya kami bertemu, baru saya mengerti ini ternyata bukan perjalanan biasa bagi sahabat saya itu, melainkan sebuah perjalanan untuk menemukan (kembali) diri sendiri.

Ia baru saja menyelesaikan sebuah proyek besar dalam hidupnya. Proyek yang memang menjadi cita-citanya dan melibatkan banyak energi, baik fisik maupun emosi, yang dijalaninya hampir selama lima tahun mulai dari eksplorasi ide sampai dengan eksekusi. Meski amat melelahkan, sahabat saya bercerita betapa ia amat mencintai apa yang ia kerjakan. Dan di tengah pengerjaan proyek tersebut ia hamil lalu melahirkan anak lelaki pertamanya. Bukan sebuah kehidupan yang mudah dijalani, karena ia seperti memiliki dua orang bayi, alih-alih satu.

Dalam perjalanannya, setelah proyek berjalan selama tiga tahun, pada akhirnya sahabat saya ini memilih menghentikan proyek tersebut karena dirasanya tidak mengarah pada tujuan awal proyek itu dilakukan. Dan meski kecewa karena proses dan hasilnya tak sesuai dengan yang ia harapkan, ia mengaku banyak belajar dari apa yang telah ia lakukan.

Kini, ia merasa berada pada satu fase hidup dimana ia benar-benar buta dengan apa yang ingin ia lakukan berikutnya. Saya mendengarkan dan memahami dengan baik ungkapan-ungkapan kegelisahannya, karena pada titik tertentu dalam hidup, saya pun pernah merasakan hal yang sama. Dan saya pikir ini cukup umum dialami setiap individu yang memang memilih melakukan perjalanan hidupnya dengan sadar dan memberi makna pada setiap pengalaman dan peristiwa.

Makna, menjadi sedemikian penting dalam mengarungi lautan kehidupan yang maha luas ini. Yang arusnya membuat kita terombang-ambing, terseret kesana kemari. Dan membuat kita merasa kecil dan tak berdaya. Makna, memberikan kekuatan untuk menjalani apa yang mesti dijalani, seberat apapun itu. Victor Frankl, mengungkapkan, betapa maknalah yang membuatnya mampu bertahan dari deraan siksa kamp Nazi dan pada akhirnya ketika ia berhasil bebas, dapat berdamai dengan segala kehilangan dan pengalaman buruk yang pernah ia lewati.

Menurut Frankl, dengan menemukan makna pada setiap pengalaman, individu dapat menyelam dalam kedalaman lautan hidup dan menghayatinya dalam cara yang menumbuhkan. Sehingga ketika ia kembali ke permukaan ia menjelma menjadi sosok yang kuat, yang tak ragu lagi menentukan arah. Oleh karenanya, ketika kita kehilangan makna, kita menjadi kebingungan, menjadi hampa dan kosong.

Berkaca pada pengalaman saya sendiri, ketika berada pada fase kekosongan dan kehampaan, saya akan mengecek dengan frekuensi dan intensitas yang tak wajar dan berlebihan berlebihan tentang apa yang salah dalam hidup saya. Seolah-olah itu dapat dijadikan alasan mengapa kekosongan dan kehampaan ini muncul. Mengapa saya yang telah memiliki pengalaman hidup tiga puluh lima tahun lebih justru berada di titik tak tahu harus melakukan apa dan menuju kemana? Macam anak lulus SMU yang kebingungan kemana harus melanjutkan sekolah, jurusan apa yang mau diambil, dan universitas mana yang akan dituju.

“Aku harap ada seseorang yang mengatakan padaku apa yang harus kulakukan,“ desah sahabat saya dengan nada penuh harap, “ Dan semuanya akan menjadi lebih mudah," lanjutnya lagi ketika kami duduk bersisian di tepi pantai menatap semburat senja dan ombak yang tenang, berkebalikan dengan suasana hati sahabat saya.

Tapi kita semua tahu, mengharapkan seseorang memberikan jawaban adalah sesuatu yang mustahil, karena perjalanan setiap insan pada dasarnya berbeda-beda. Dan mereka yang bijaksana, tak akan pernah cukup berani untuk menjawabnya bagi kita. Sebagaimana kita pun tak semestinya mendiktekan apa yang terbaik bagi orang lain.

Menengok pada pengalaman saya sendiri, saya mengatakan pada sahabat saya ini bahwa jawaban yang muncul atas pertanyaan: “Apalagi selanjutnya?” atau " Setelah ini apa?" kadang tidak muncul dalam satu jawaban yang solid. Kamu harus melakukan ini atau itu. Melainkan muncul sedikit demi sedikit, secuil di sana, secuil di sini, dan kita kadang tak benar-benar menyadari bahwa ternyata kita sedang mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita. Sampai kemudian itu menjadi sebuah rangkaian cerita utuh, dan lalu kita menoleh ke belakang dan menyadari bahwa selama ini kita telah menerima jawaban atas pertanyaan: “Apalagi selanjutnya?”.

Di fase ini kita tak punya pilihan selain bersabar dengan diri sendiri, sebab semakin kita memaksa diri kita akan makin frustasi. Beri ruang bagi diri untuk melambat, untuk menunggu, bahkan pada titik tertentu untuk tidak melakukan apa-apa. Bersabar dan menunggu sejatinya adalah sesuatu yang aktif dan luar biasa sulit.

Cobalah perhatikan betapa mudahnya kita membuat diri kita sibuk, karena melambat dan menunggu adalah sesuatu yang asing dan identik dengan hidup yang tidak produktif? Tapi bagaimana mau mendengarkan jawaban, atau setidaknya melihat tanda-tanda yang dikirimkan semesta ketika kita terlampau sibuk, bahkan untuk sekedar memperhatikan sekitar?

Saya pikir, ketika muncul kekosongan, kehampaan dan pertanyaan: “Apa lagi selanjutnya?” sesungguhnya kita sedang diberikan kesempatan istimewa oleh hidup untuk mencicipi satu lagi pengalaman untuk bertumbuh.

Memasuki sebuah perjalanan yang rutenya laksana labirin-labirin rumit namun ketika kita berhasil keluar dan berada di ujungnya, kita tahu kita bukan lagi individu yang sama. Pengetahuan kita tentang diri kita sendiri menjadi bertambah, bahkan kita menjadi tergelitik untuk mengupas lebih dalam lapisan demi lapisan diri kita. Sebab pengetahuan tertinggi memang adalah pengetahuan tentang diri.

Dan perjalanan untuk memahaminya tak pernah dibatasi waktu, apalagi usia. Semuanya hanya bergantung pada soal keberanian dan keterbukaan. Akan muncul berulang-ulang dalam satu fase kehidupan pertanyaan: “Apa lagi selanjutnya?”, yang melemparkan kita dalam satu lagi perjalanan untuk menemukan.

Maka, terberkatilah setiap perjalanan kita.

Salut untuk setiap kita yang terpanggil untuk berkelana dan menemukan.