Saya pikir, dalam satu masa kehidupan, manusia dapat lahir berulangkali.
Saya telah lahir sebanyak empat kali.
Pertama, tentu saja, dari rahim ibu, hampir empat puluh tahun yang lalu. Dan meski telah berpuluh tahun lewat, ibu masih sering mengulang-ulang riwayat kelahiran saya. Jam berapa saya lahir, ibu sedang apa ketika kontraksi pertama hadir, siapa yang di rumah, siapa yang membantu kelahiran, dan seterusnya.
Saya anak pertama, dan telah dinanti selama tiga tahun, tentunya peristiwa kelahiran saya tak mudah beliau lupakan. Saya tersenyum-senyum saja setiap mendengar riwayat itu diulang setidaknya sekali di hari ulang tahun saya. Saya menganggap kelahiran saya adalah sebuah elegi yang lebih menjadi milik bapak dan ibu daripada saya sendiri.
Kelahiran kedua saya, adalah di suatu siang yang terik, di dalam bis kota, waktu saya baru meninggalkan kampus selepas kuliah. Saya duduk di tepi jendela, dan setelah melewati Bulaksumur, bus berhenti di perempatan karena lampu merah.
Saya melempar pandang keluar jendela. Di seberang jalan, tiga orang anak berusia sekitar sepuluh hingga tiga belas atau empat belas tahun, tengah berdiri menatap kendaraan yang melintas. Dua dari mereka memegang gitar kecil, sementara yang satunya lagi memegang bungkus wadah permen yang biasa disodorkan kepada para penumpang selepas mereka menyanyikan satu dua lagu dalam bis kota. Jam berapa ini? batin saya sambil melirik jam tangan. Baru jam dua belas kurang sepuluh menit. Bukankah mestinya mereka sedang ada di sekolah saat ini? Saya amati lekat-lekat wajah mereka satu-satu. Raut muka lelah dan keringat yang mengucur membuat hati saya seperti tertoreh. Sakitnya menusuk.
Saya pandangi buku diktat yang ada di pangkuan, tiba-tiba mata saya panas. Air mata mulai menggenang di sudut-sudut mata. Diikuti campuran antara rasa bersalah dan tak berdaya karena berada di posisi yang jauh berbeda tanpa bisa melakukan apa-apa. Di kepala saya terdengar bisikan halus namun kuat, menggema di sudut-sudut hati saya yang terdalam, mengingatkan betapa beruntungnya saya. Mengenakan sepatu, membawa buku, dan mengenal kampus. Rasa bersalah menampar saya kuat-kuat. Waktu itu saya tak berpikir jauh tentang mengapa mereka ada di sana siang itu. Yang saya tahu, tak semestinya mereka berada di perempatan jalan berpanas-panas. Semestinya mereka seperti saya, sedang duduk di kelas, bersiap-siap pulang sekolah.
Kesadaran menyeruak tiba-tiba tentang jalan yang mesti saya tempuh kelak. Lalu, tanpa ucap namun dengan tekad yang kuat, saya berjanji untuk suatu saat kelak memberikan diri saya agar lebih banyak anak yang tak perlu berpanas-panas di jalan di saat jam sekolah.
Kelak, di tahun terakhir kuliah, seorang sahabat sempat berujar betapa iri ia kepada saya yang telah begitu mantap menapaki jalan pendidikan sebagai medan perjuangan, sementara ia dan kawan-kawan masih bingung akan kemana dan melakukan apa setelah lulus. Hampir tak ada yang tahu ikhwal kelahiran saya siang itu. Namun peristiwa itulah yang membuat saya berada di sini, hingga saat ini, bertemu dan berinteraksi dengan anak didik saya sambil mencoba memberi warna pada masa depan mereka.
Kelahiran saya selanjutnya, yang ketiga, persis seperti kelahiran saya yang pertama. Saya lahir melalui sebuah persalinan, namun kali ini yang bersalin bukan ibu melainkan saya sendiri. Malam itu saya melahirkan putri saya, di sebuah rumah praktek bidan. Sendirian, tanpa ditemani siapa-siapa. Bukan sesuatu yang dapat dibanggakan, karena merupakan implikasi dari perpisahan dengan mantan suami.
Saya memilih sendirian karena saya tidak kuat menanggung rasa bersalah dan berdosa pada kedua orang tua saya. Saya tidak kuat harus menghadapi tatap penuh iba dari kedua mata mereka. Maka saya mengulur-ulur waktu kedatangan mereka dengan mengatakan akan mengabari jika proses bersalin sudah dekat. Ibu bidan yang lembut hati dan memahami riwayat kehamilan saya mendekat dan berbisik bahwa saya boleh berteriak dan menangis jika memang terasa sakit. Saya tersenyum mengangguk waktu itu, sambil memegangi pinggang yang nyeri luar biasa karena kontraksi makin sering terjadi. Tapi saya memilih mengunci bibir saya rapat-rapat.
Saat itu sudah berbulan-bulan saya berteman dengan rasa sakit yang menyelimuti segenap kalbu dan jiwa saya. Saya tak punya keinginan melawan, sebab saya tahu semakin saya lawan, akan semakin sakit jadinya. Jadi saya biarkan saja hari-hari saya berlalu, dengan berjalan berjalan beriringan bersama rasa sakit itu. Demikian pun dengan sakit yang muncul dari kontraksi menuju persalinan. Saya memilih menghayatinya. Ketika akhirnya putri saya lahir, telah tertanam kuat dalam jiwa saya sebentuk kesadarab, bahwa setelah ini, tak ada satu pun hal berat yang tak akan dapat saya lalui. Saya sadar, saya menjadi kuat bersama rasa sakit.
Tahun lalu, saya sekali lagi merasakan lahir kembali untuk yang keempat kali. Kali ini lewat menulis. Menulis memberi saya kesempatan melambat, menengok kembali apa-apa yang telah saya lewati. Menulis membebaskan saya dari beban-beban pikiran dan prasangka akan masa lalu. Menulis mengingatkan saya tentang siapa saya, dari mana saya berasal dan untuk apa saya hidup. Ketika saya menulis, sekeliling saya lenyap. Hanya ada saya dan hidup saya.
Menulis menguji nyali saya, seberapa jauh saya bersedia masuk ke kedalaman diri dan berbicara lewat goresan-goresan pena. Lewat berbagai tanggapan yang masuk atas tulisan saya, saya menyadari bahwa ada pembaca (seseorang) di luar sana, yang juga merasa terwakili. Yang suara-suaranya sendiri belum sempat terucap dan bahkan mungkin tak banyak dipahami, meski sebenarnya ingin sekali agar dapat dimengerti.
Ketika mereka mengatakan bahwa tulisan saya adalah suara mereka juga, saya merasa kesadaran kamilah yang sebenarnya sedang dipertemukan, meski secara kasat mata kami tak pernah bertemu sebelumnya.
Saya pikir, dalam satu masa kehidupan, manusia dapat lahir berulangkali.
Pertama, dari rahim ibu, lalu kelahiran kedua dan selanjutnya dari rahim pikiran dan kesadaran. Semakin banyak ia menjumpai hal-hal yang menohok pikiran dan kesadarannya, semakin sering ia dihantam pengalaman yang mengubah pikirannya secara drastis, sekerap itulah ia dilahirkan. Semakin dalam kesadaran yang ia peroleh dari suatu pengalaman, maka sejatinya ia tengah dilahirkan, lagi dan lagi. Ia tetap akan berada dalam wujud fisik yang sama, namun dengan kondisi batin yang berbeda.
Bertumbuh dalam rahim kesadaran tak dapat dipatok seberapa lamanya sebagaimana ketika kita berdiam di rahim ibu. Kadang, bisa bertahun-tahun lamanya. Kontraksi palsu akan terjadi berulang kali, semacam pertanda seolah-olah kita telah siap untuk dilahirkan, padahal sebenarnya hari lahir kita masih jauh. Sebagaimana kita seolah telah berhasil memahami makna pertanda dan pelajaran yang tengah hidup berikan, padahal kenyataannya kita masih berkubang di permukaan saja. Keangkuhan dan ketergesaan sedemikian menipu sehingga kita lalai bersikap terbuka dan rendah hati.
Merasa paling tahu, paling bisa, paling juara, sampai hidup sekali lagi menghantam kita dan kita tersungkur, terbenam dalam-dalam.
Saya bersyukur diberi kesempatan lahir berulang kali dalam satu masa kehidupan ini.
Rahim kesadaran telah bermurah hati membiarkan embrio jiwa saya bertumbuh dan berevolusi di dalamnya, yang kadang membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun. Jiwa saya pun telah melewati setiap sakit persalinan tanpa menggunakan satu penawar sakit pun, sebab keindahan sejatinya ada pada jiwa-jiwa yang lolos dari tempaan kehidupan.