Kata ‘depresi’ sering digunakan untuk menggambarkan suasana hati buruk yang sebenarnya bukanlah depresi. Patah hati bukan berarti depresi. Sedih juga bukan berarti depresi. Stress juga tidak lantas berarti depresi.

Untuk diperhatikan: artikel—Ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan konsultasi medis.

Belakangan ini, makin banyak orang terbuka bicara soal kesehatan mental. Meskipun untuk meniadakan stigma, sepertinya jalan masih panjang. Yang masih diperlukan saat ini adalah meningkatkan kesadaran kita tentang langkah-langkah yang bisa diambil untuk menjaga kesehatan mental, misalnya: untuk mengurangi risiko mengalami depresi.

Tapi, sehubungan dengan itu, banyak juga orang yang salah kaprah perihal depresi. Kata ‘depresi’ sering digunakan untuk menggambarkan suasana hati buruk yang sebenarnya bukanlah depresi. Patah hati bukan berarti depresi. Sedih juga bukan berarti depresi. Stress juga tidak lantas berarti depresi.

Kenapa penting mengenali apa yang benar-benar depresi dan mana yang cuma mood buruk? Karena membuat suasana hati yang buruk terdengar seperti kondisi kesehatan serius bisa membuat orang-orang beranggapan bahwa suasana hati yang buruk tak bisa diatasi tanpa bantuan dokter dan obat-obatan.

Ini yang perlu kita ingat: merasa depresi tidak berarti seseorang menderita depresi klinis.

Seringkali, suasana hati yang buruk adalah reaksi terhadap pengalaman negatif yang ditingkahi pikiran-pikiran buruk dan kerapuhan jiwa kita. Meskipun jika dibiarkan berlarut dalam jangka panjang hal ini dapat berkontribusi terhadap kemungkinan kita menderita depresi klinis, semua orang pernah mengalami suasana hati yang buruk dan berada di titik terendah, dan kita punya kendali atas situasi ini.

Sebagai contoh: gagal dalam ujian nasional mungkin akan membuat kita sangat gelisah.

Si A gagal dalam ujian nasional, dan beranggapan bahwa kegagalan ini merefleksikan kemampuan (atau ketidakmampuan) intelektualnya. Untuk A, kegagalan ini menjadikan dirinya tak berguna. Meski sudah belajar mati-matian, ia tetap saja tidak cukup baik. Untuk A, situasi ini bukan cuma soal gagal ujian. Dia cemas bahwa kegagalan ini adalah indikasi bahwa di masa depan, usaha-usaha lain yang ia lakukan juga cuma akan berbuah kekecewaan dan kegagalan: tak ada gunanya mencoba lagi. A melihat kegagalan ini sebagai kegagalan pribadi yang permanen dan berdampak panjang.

B juga gagal ujian nasional. B pikir, guru-gurunya tak menjelaskan materi pelajaran dengan cukup baik. Karena itulah, ia jadi kehilangan ketertarikan terhadap mata pelajaran yang diberikan. Jadi, ia pun malas-malasan belajar, karenanya ia gagal dalam ujian. B kesal, banyak hal yang harus ia kuatirkan sekarang, setelah tak lulus ujian. Tapi, B melihat masa depan: ia tahu bahwa gagal ujian ini cuma salah satu ganjalan dalam hidupnya. Hanya karena tak lulus ujian atau gagal melewati ujian bukan berarti bahwa ia adalah manusia gagal. Ia sadar bahwa kegagalan ini tak akan memengaruhi seluruh aspek kehidupannya.

A merasa depresi. B juga berada dalam suasana hati yang buruk, tapi ia tak semenderita A. Keduanya tak menderita depresi klinis. Mereka hanya bereaksi berbeda terhadap situasi yang persis sama, karena mereka punya pola pemikiran yang berbeda.

A akan berakhir menderita depresi klinis jika pola pemikiran negatifnya terus berlanjut, meskipun pada saat gagal ujian itu ia masih sepenuhnya sehat. Mengenali pola-pola pemikiran ini telah menjadi fokus dari banyak terapi yang bermanfaat untuk mengatasi depresi.

Lalu, bagaimana kita tahu apakah kita berisiko menderita depresi klinis?

Sulit. Sulit, bahkan untuk profesional yang berpengalaman untuk mendiagnosa depresi pada pasiennya, jadi adalah tidak bijaksana bagi kita untuk mendiagnosa diri sendiri dengan depresi. Sadar akan perasaan dan pemikiran kita, apakah itu lewat menulis jurnal atau menjalani mindful living, bisa membantu.

Meskipun demikian, jika kita telah mengalami hal-hal berikut selama beberapa waktu:

  • Keseharian kita terganggu: enggan pergi kerja atau sekolah, kinerja merosot, tak mau menghadiri acara sosial/berbaur dengan kawan-kawan, enggan menyelesaikan tanggung-jawab sehari-hari,
  • Merasa sedih atau kesal hampir setiap waktu,
  • Merasa tak berguna atau merasa digayuti perasaan bersalah,
  • Kehilangan ketertarikan atau passion dalam melakukan aktivitas sehari-hari,
  • Pola tidur, tingkat energi, dan nafsu makan terganggu,
  • Tak bisa konsentrasi atau membuat keputusan,
  • Berpikir mengenai bunuh diri

akan bijaksana rasanya untuk mulai berkonsultasi dengan tenaga medis profesional, agar kondisi mental kita bisa diperiksa dengan baik. Karena bukankah mencegah itu selalu lebih baik daripada mengobati?

**) Martina juga menulis blog di thinkingclearly.co*