Kita, sebagai manusia, bisa saja dilabeli hal-hal yang tidak kita inginkan.
Manusia itu pelaku sekaligus saksi.
Ada saksi yang merasa bisa menjadi juri ada pula yang masih tahu diri. Tapi sekalipun mengaku tahu diri, dalam hati (dalam pikiran) dia tidak henti-hentinya menilai, melabeli, merasai sesuatu yang sebetulnya tak banyak dia tahu.
Tindakan otomatis ini membuat dia bebas dari perasaan bersalah, tapi tidak serta merta menjadi benar atau dibenarkan.
Manusia itu saksi sekaligus pelaku.
Dia tidak henti-hentinya (merasa) dinilai.
Sosiometer didefinisikan Leary dalam sebuah buku berjudul Interpersonal Cognition, sebagai perilaku mengawasi nilai sebuah hubungan sekaligus mengawasi bagaimana seseorang tersebut diterima oleh orang lain secara sosial.
Sosiometer melekat di dalam diri individu dan terus menangkap tanda sosial secara (hampir) otomatis dan seringkali diluar kesadaran. Menelan bulat-bulat bagaimana respon, pandangan, sikap orang lain terhadap dirinya.
Berguna? Tentu saja.
Tanda sosial yang tertangkap dicerna sebagai pengingat, pengantisipasi bahkan stimulus imaginatif bagi individu untuk bersikap dikemudian hari. Sayangnya beberapa manusia memiliki sosiometer yang terlalu sensitif, sering memberi alarm yang sebetulnya tidak ada. Memberi tekanan yang tidak perlu.
Input sekaligus output dari sosiometer ini adalah self-esteem atau penghargaan diri.
Singkatnya self-esteem yang rendah memungkinkan sosiometer menjadi lebih sensitif dari seharusnya. Dengan begitu, nisalah satu cara mudah mengetahui apakah self-esteem kita rendah dengan menyadari apakah kita begitu sering cemas akan penilaian orang lain.
Menurut Goffman, individu cenderung memperkirakan sesuatu yang terburuk mengenai akibat dari impresi orang lain terhadap dirinya. Sehingga sosiometer yang sensitif lebih sering menangkap hal buruk dari reaksi/sikap orang lain. Akibatnya individu merasa tidak cukup baik dan terjadilah penurunan self-esteem (yang semula memang sudah rendah).
Manusia dengan sosiometer yang terlalu sensitif, tidak henti-hentinya mengusahakan diri untuk mendapatkan nilai yang bagus, walau bisa jadi hanya berlandaskan nilai mayoritas, selama judulnya diterima oleh kelompok sosial. Semakin keras usahanya untuk diterima, semakin dia telah mengaburkan dirinya ke dalam citra manusia-manusia lain.
Sementara manusia dengan sosiometer yang tidak sensitif, tidak peduli penilaian dari para awam. Mereka mengatakan, melakukan apa pun yang menurutnya sah-sah saja.
Siapa yang lebih bahagia? Manusia yang terlalu malas menangkap segala tanda sosial, apakah akan diterima oleh sosial?
Kita, sebagai manusia, bisa saja dilabeli hal-hal yang tidak kita inginkan.
Meskipun label tidak selamanya urusan benar atau salah, seringkali hanya masalah perbedaan preferensi, kepentingan dan nilai-nilai. Atau hanya sesuatu yang di lontarkan secara impulsif oleh orang lain.
Seremeh itu!
Tentu tidak ada yang salah dengan menjadi juri (menjadi sok tahu) atau dengan menjadi pelaku yang ingin rapornya bagus.
Menjadi bermasalah jika kemudian menjadi terlalu sibuk dinilai-menilai sampai menghilangkan diri sendiri atau lupa berbahagia.