Ada Monster yang Hidup dalam Diri Saya.
"Bahkan sampai detik ini, monster itu masih hidup dalam diri saya. Adakalanya ia tidur, adakalanya ia bangun dan mengusik kebahagian kami. Adakalanya ia mampu saya kendalikan, tapi akhir-akhir ini lebih sering tidak."
Kehamilan pertama merupakan pengalaman terindah dalam hidup saya. Ia mampu membuat saya tersenyum bahagia; terlebih saat saya merasakan tendangan-tendangan kecil yang membuat perut saya terasa geli. Bayangan akan memiliki seorang bayi membuat hati saya berbunga-bunga. Rasanya saya ingin sesegera mungkin mendekapnya dalam pelukan.
***
Tapi Hidup Saya Berubah Gelap
Aneh. Seminggu setelah melahirkan, hidup saya justru terasa suram. Saya sepertinya selalu sedih, cemas berlebihan, murung, dan kehilangan nafsu makan. Saya pikir barangkali ini karena kelelahan. Kebetulan, waktu itu suami saya tengah pulang ke Lawang untuk mengurus sesuatu.
Namun, saat suami saya kembali ke Padang dan berbagi tugas dalam mengurus si bayi, Ghany, tak ada yang berubah dari diri saya. Justru bertambah parah.
Pada saat itulah saya sadar bahwa saya mengalami baby blues. Berbekal ilmu keperawatan jiwa yang saya pelajari semasa kuliah, saya mencoba melawan baby blues yang saya alami. Saya tidak tahu dengan pasti kapan saya terbebas dari baby blues ini. Yang saya ingat adalah saat Ghany sudah bisa menatap saya sambil tersenyum tulus, hal itu mampu membuat pipi saya merona, lalu hari-hari saya ke depan terasa lebih bahagia.
Saya benar-benar menikmati peran saya sebagai ibu. Setiap momen berharga kami saya abadikan lewat bidikan kamera. Tak terhitung jumlahnya. Barangkali ribuan foto dan rekaman video yang saya miliki, dan Ghany adalah aktor utamanya. Namun, kecemasan mulai kembali melanda pada saat Ghany berumur 10 bulan.
Pada saat itu, saya hamil anak kedua. Mudah tersinggung, merasa bersalah, menangis tanpa sebab, bahkan mimpi buruk pun menjadi hal yang tak terpisahkan dalam keseharian saya. Hal ini bertambah parah setelah saya melahirkan anak kedua kami, Clara.
Beruntung otak saya masih bisa memberikan sinyal untuk menyingkirkan benda-benda tajam dari penglihatan. Saya juga meminta suami untuk hanya memutar drama romantis dan menghentikan kebiasaan menonton film action yang berdarah-darah. Dengan tegas saya memberitahu suami bahwa saya mengalami postpartum depression.
Ya, saya mengalami depresi!
Hal ini saya sadari ketika setiap kali melihat benda tajam, bahkan garpu sekalipun, saya mulai berkeinginan mengakhiri hidup anak-anak; kemudian menyusul mereka dengan cara bunuh diri.
Anak Kedua Kami Anak Istimewa
Lalu, tiba hari dimana Clara sesak nafas. Sekujur tubuhnya biru dan kaku.
Saat itu saya berpikir bahwa Clara akan meninggalkan kami. Saya tatap wajah Clara yang berada dalam dekapan ayahnya. Barangkali Clara lebih memilih pergi dengan cara lain dibandingkan mati di tangan ibunya sendiri. Tiga menit berlalu. Clara masih kaku.
"Jika kamu pergi meninggalkan Mama, Mama rela, Nak. Bahagialah di surga..."
Sesaat setelah saya membisikkan kalimat tersebut dalam hati untuk merelakan seandainya Tuhan menjemput Clara, Clara tersedak dan kembali bernapas normal. Sepanjang malam saya dan suami tidak bisa tidur. Esoknya, pukul tujuh pagi Clara kembali sesak napas. Tangan dan kakinya kaku. Kali ini, hanya bibirnya yang membiru. Saat itu saya yakin bahwa Clara bukan sesak nafas, melainkan kejang tanpa demam. Dugaan saya benar. Setelah diperiksa dan dirawat dua hari di Rumah Sakit, Clara dinyatakan mengidap epilepsi.
Hati saya hancur.
Berhari-hari saya menangis. Kenapa harus Clara? Kenapa bukan anak orang lain? Mendengar istrinya mempertanyakan takdir, suami saya mengingatkan saya dengan nada setengah menghardik. “Jika bukan Clara, berarti ada anak orang lain yang mengalaminya! Apa bedanya anak kita dengan anak orang lain?”
Monster Itu Kian Ganas
Tapi, berjuang melawan hari-hari gelap ini tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Di tengah depresi yang saya alami, datang cobaan baru yang juga menguras pikiran dan perasaan saya sebagai seorang ibu.
Semua berawal dari nasehat agar saya ‘bersosialisasi’ dengan dunia luar. Saya merasa sudah cukup bersosialisasi, betegur sapa, dan sesekali berkunjung ke rumah sanak-saudara yang tinggalnya berdekatan bila ada kesempatan. Lalu, jika itu belum dirasa cukup,lantas apa makna dari kata sosialisasi yang dinasehatkan pada saya?
Tentu, saya ingin berlama-lama berada di warung depan rumah. Duduk santai di sore hari dan berbaur dengan sanak saudara yang lain tentu membahagiakan bagi saya. Tapi, hal itu merupakan ‘barang mewah’ bagi saya. Dengan dua balita yang semakin aktif, yang satu gemar berlari kesana kemari, yang satunya tidak mau lepas dari pangkuan saya, duduk berlama-lama di warung depan rumah bukanlah hal yang mudah.
Maka, pilihan untuk mengalihkan pikiran aneh yang masih sering muncul dengan menyibukkan diri membuat sabun menjadi pilihan terbaik yang saya miliki.
Namun, sejak nasehat itu diberikan, monster yang tadinya tidur perlahan mulai bangun.
Dia kembali membuat saya enggan menjalankan peran sebagai ibu dan juga seorang istri. Sebelum saya menerima nasehat-nasehat itu, saya masih bisa menyempatkan diri untuk masak, membuatkan kopi untuk suami, menyapu rumah walau hanya satu kali sehari, atau mencuci baju walaupun harus berhari-hari berada di mesin cuci sebelum berakhir di tiang jemuran. Bersusah-payah saya mengendalikan monster ini, yang terus menggeliat diam-diam.
Lalu, semakin hari Ghany bertambah pintar.
Dia gemar mencorat-coret, asyik bermain air, lari kesana kemari. Saya bahagia melihat perkembangannya. Namun di sisi lain, hal tersebut menimbulkan ketidaknyaman bagi orang lain.
Siapa yang tak ingin punya rumah yang tertata rapi? Lantai bersih, kamar mandi mengilap, piring kotor hanya satu atau dua, punya kebun dan halaman yang penuh dengan bunga? Semua orang menginginkannya, termasuk saya--jika monster dalam diri saya sedang tidur!
Hal ini melelahkan bagi saya.
Saya dan suami harus begadang, nyaris tidur hanya 3 jam paling lama di malam hari karena Ghany belum tidur atau terbangun tengah malam. Belum lagi jika Clara rewel apabila obat yang harus dia minum 2 kali sehari selama dua tahun telat kami berikan. Sekalipun orang-orang tahu bahwa saya dan suami tidak tidur karena harus menjaga anak dan keesokan harinya hanya bisa berbenah rumah sekali dalam sehari sebelum kembali berantakan, justifikasi menyakitkan tetap saja muncul ke permukaan.
- «
Lebih baik Diam...
Sungguh, kata-kata yang menyatakan bahwa saya telah salah mendidik anak sehingga Ghany tidak mau tidur di malam hari membuat monster itu kian ganas.
Darimana seseorang bisa tahu saya salah atau benar dalam mendidik anak, jika dalam kesehariannya jarang bertemu dengan saya? Apa Anda tahu apa yang telah saya upayakan sepanjang hari dalam mendidik anak? Berbagai macam cara sudah kami upayakan, namun kami belum berhasil. Dengan sekian banyak metode yang kami coba, saya masih belum menemukan metode terbaik agar anak saya bisa tidur jam 8 atau 9 malam dan tidak bangun hingga pagi hari seperti anak orang lain.
Belum berhasil bukan berarti saya salah didik.
Saya yakin, banyak ibu-ibu lain di luar sana yang bernasib sama dengan saya. Tidak mudah bagi kami hidup dalam situasi yang seperti ini. Membesarkan anak dalam keadaan depresi. Jadi, bagi Anda yang tidak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan kami dari monster ganas ini, tolong. Mengertilah jika diam mungkin jadi cara terbaik untuk membuat kami tak semakin merasa sakit.
Jika kalian tidak pernah mengalami masalah pada saat membesarkan anak, maka bersyukurlah. Kalian beruntung karena tidak perlu menghadapi masa-masa suram seperti kami. Dan sudah sepantasnya rasa syukur itu kalian wujudkan dengan mendukung kami agar dapat bangkit melawan monster dalam diri kami.
Namun, jika kalian tidak mampu membantu kami, tolong--diam itu sesungguhnya jauh lebih baik daripada kata-kata yang menyakitkan. Kebanyakan dari kami tidak butuh nasehat, apalagi penghakiman yang merendahkan. Saat kami berjuang melawan postpartum depression yang kami alami, nasehat-nasehat yang kalian berikan hanya akan membuat monster itu kian ganas karena merasa diserang.
Beruntung bagi mereka dengan suami yang mau bersama-sama berjuang melawan monster ini--seperti saya. Karena tanpa dukungan suami dan orang-orang terdekat, menyakiti anak-anak dan bunuh diri adalah jalan yang sering ditempuh sang ibu untuk mengakhiri 'penderitaannya'.
Sedikit atau banyak, Anda, saya, kita semua--memiliki peran atas keputusan sang ibu.
Padang, 7 Desember 2016