Saat ketidaksabaran meletup pada permukaan kesadaran, sambut dan jamulah.
Sabar – sebuah kata yang teramat akrab dalam hidup, terutama untuk bulan ini. Sebagian dari kita yang berpuasa tengah melatih, salah satunya, kesabaran dalam menjalani ibadah puasa. Warga Jakarta pun perlu bersabar dengan kemacetan dan pembangunan jalan yang tengah berlangsung. Belum lagi masing-masing kita dengan dinamika kehidupan yang bisa jadi membutuhkan kesabaran.
Kata sabar berasal dari Bahasa Arab: sabr, yang mengindikasikan adanya keteguhan, kegigihan, dan ketekunan dalam menjalani sesuatu – serta menahan diri dari segala sesuatu yang menggoyahkan.
Kata ini kerap muncul sebagai salah satu nilai penting bagi mereka yang tengah mengasah jiwa dan menapaki kehidupan. Bahkan dikatakan bahwa dalam iman atau kepercayaan, sabar merupakan nilai utama yang dipasangkan dengan syukur. Paduan antara sabar dengan syukur disebut sebagai modal atau ciri penting bagi mereka yang berpegang teguh pada suatu keyakinan.
KETIKA MAKNA SABAR MENJADI PERSONAL
Memang, semua kata, termasuk sabar, dapat dipahami dengan membahas berdasarkan kamus atau definisi yang disampaikan berbagai tradisi, seperti yang baru kita lakukan di atas. Walau baik sebagai titik awal, namun, pemahaman seperti ini masih tertahan pada tataran permukaan.
Pemahaman akan suatu kata baru mengakar dalam diri bila kita mengalami kata tersebut dalam keseharian. Saat itu, makna kata akan terasa jauh lebih personal, karena diwarnai latar belakang dan pengalaman pribadi yang beragam. Demikian dengan sabar.
Hidup memiliki cara unik untuk memberikan kita pembelajaran tentangnya. Pelajaran bisa dimulai dari keingintahuan dan serangkaian pertanyaan yang diajukan ringan: Apa arti kata sabar? Apa makna di baliknya? Bagaimana sesungguhnya kita bersabar? Kemudian bergulirlah jawabannya, asal kita mencermati.
Buat beberapa orang, sabar terekspresikan paling nyata dalam sosok seorang ibu. Saat ibu mengasuh anaknya, mulai dari dalam kandungan hingga dewasa, ibu menjalani tanpa pernah menyerah lelah. Saat ia tertimpa kemalangan, seperti sakit, ia jalani tanpa banyak mengeluh atau merepotkan keluarga.
Hadir di hadapan seorang dengan kesabaran, seperti ibu, bila dilakukan dalam keadaan hening, seolah kita mendapatkan pelesapan makna sabar. Mendadak kita mengerti, tanpa banyak kata atau teori. Pemahaman kita akan kata sabar pun semakin dalam.
Pemahaman kian merasuk saat kita mengalaminya sendiri. Terkadang, misalnya, ketika kita menemani orang terkasih saat mereka tertimpa kemalangan, tanpa kita sadari, sabar menjelma dengan sendirinya.
Kita seakan lupa akan hal lain dan secara alami hadir utuh. Ada keteguhan dan keberserahan, untuk tetap duduk bergeming. Ada ketenangan dan syukur, bahwa kita berada di tempat yang semestinya. Ada kerelaan, untuk hadir sepenuh hati. Ada keyakinan, inilah yang perlu kita lakukan, terbaik yang mampu kita berikan. Ada relaksasi dan kelembutan, meluruhkan segala kekerasan hati kita. Ada ketulusan, memandu setiap gerak penuh kasih. Saat itu, sabar telah hadir.
MEMAKNAI SABAR MELALUI KETIDAKSABARAN
Dikatakan orang yang rendah hati tidak akan pernah merasa atau bahkan mengatakan dirinya rendah hati. Bila sampai merasa atau mengatakan ia rendah hati, maka sesungguhnya kerendahatian itu telah hilang dan digantikan dengan kesombongan.
Sabar memiliki kualitas serupa. Seorang yang sabar belum tentu merasa bahwa dirinya sabar. Karena ketika seseorang diliputi oleh kesabaran, kualitas ini telah demikian lebur melatari dirinya, dan tidak lagi menjadi fokus kesadarannya. Ketika, misalnya, kita sabar terhadap anak kita, anak kitalah yang menjadi fokus, bukan kesabaran kita.
Baru ketika muncul ketidaksabaran, kita merasakan hilangnya kualitas kesabaran tersebut. Bila hal ini terjadi, ketimbang kita menolak dan menekan ketidaksabaran itu, kita bisa mengakui kehadirannya. Kita bisa memilih mengizinkan ketidaksabaran untuk mengajarkan kepada kita tentang kesabaran.
Bukan dengan menahan diri habis-habisan dan berupaya menghapus ketidaksabaran itu, tetapi dengan membiarkan diri – tubuh, pikiran, perasaan, jiwa – kita mengalami, walau tanpa perlu mengumbarnya.
Rumi mengatakan bahwa menjadi manusia merupa sebuah rumah persinggahan. Setiap hari, ada hal baru datang. Tiap-tiap hal itu adalah tamu dari langit yang menjadi pemandu bagi kita dalam menghayati kesejatian hidup. Maka, kata Rumi, sambut dan jamulah mereka semua.
Saat ketidaksabaran meletup pada permukaan kesadaran, sambut dan jamulah. Tak perlu buru-buru menekan atau menafikannya. Kita bisa mencoba untuk duduk diam bersamanya dengan penuh kasih dan keingintahuan. Menerimanya sebagai bagian diri yang ingin didengarkan dan diekspresikan. Biarkan ia bertutur. Dari ketidaksabaran ini, bila diizinkan berproses secara paripurna, akan muncul benih-benih kesabaran.
SABAR SEJATINYA DISERTAI SYUKUR DAN KELEMBUTAN
Kebanyakan kita paham bahwa keteguhan dalam menghadapi sesuatu merupakan kualitas utama dari kesabaran. Namun, ada kualitas lain yang tak kalah penting, yaitu syukur dan kelembutan.
Dalam sebuah kitab suci, kita diajak untuk bersabar dengan kesabaran yang baik (jamal). Kata jamal merupakan sebuah kata yang teramat feminin, mengindikasikan pentingnya kehadiran keindahan yang penuh kelembutan, ketenangan, dan keberserahan dalam kesabaran.
Jadi, apabila kita masih terwarnai oleh ketidakpuasan, kemarahan dan kekasaran, bisa jadi bukan kesabaran yang muncul saat itu, melainkan ketidaksabaran. Pernahkan kita mengatakan diri atau orang lain untuk bersabar, dengan menekan semua kemarahan dan ketidakpuasan itu ke alam bawah sadar? Kita bilang kita sabar, tapi seluruh badan bergetar karena emosi, rahang mengeras, dan dendam tersimpan kuat dalam hati?
Hal ini manusiawi. Kita hanya perlu menyadari bahwa dalam spektrum kesabaran, saat itu kita sedang minim. Alih-alih, kita bisa menggunakan kesempatan ini untuk melatih menghadirkan kesabaran seperti yang telah dituturkan di atas.
Bila hal ini terus kita latih, berulang kali setiap ketidaksabaran mencuat, kita akan tiba pada suatu titik ketika kesabaran hadir dalam diri kita secara alami dan permanen. Dari sudut pandang psikologi, dikatakan bahwa saat itu sabar telah menjadi karakter kita.
Menariknya, dari sudut pandang spiritual, dikatakan bahwa sabar adalah salah satu sifat ilahiah. Sang Pencipta adalah Sang Maha Sabar. Pada suatu titik dimana sabar bukan lagi sesuatu yang kita usahakan, ketika sabar mengada alami tanpa upaya, maka saat itu sisi ilahiah seorang insan telah mewujud.
Seperti yang pernah dikatakan seorang bijak bernama Bulent Rauf, ketekunan dan keteguhan diperlukan dalam mengawali perjalanan. Ia bagai ruh bagi titik awal yang menggulirkan perjalanan – the spirit of the starting point. Hingga suatu saat, ia tergantikan oleh ruh yang sejati: Cinta Kasih.