Jangan tertipu dengan tampilan belia dan mungil ini. Anak-anak kerap menjadi guru kehidupan luar biasa. Mereka hadir sebagai sekelumit pengingat tentang apa yang telah kita lupakan atau pendam dalam-dalam atas nama kedewasaan.

Jangan tertipu dengan tampilan belia dan mungil ini. Anak-anak kerap menjadi guru kehidupan luar biasa. Mereka hadir sebagai sekelumit pengingat tentang apa yang telah kita lupakan atau pendam dalam-dalam atas nama kedewasaan.

Bayi, karena kemurniannya, dikatakan sebagai pewujudan ilahiah yang paling mendekati. Tak heran bila kita melihat, atau apalagi memeluk, seorang bayi, hati kita pun luruh dalam ketenangan dan kebahagiaan. Senyum mengembang. Bahkan terkadang air mata mengalir hangat. Ada bagian jiwa kita yang telah tersentuh. Teringat pada bagian diri yang telah lama tertidur.

Ketika mulai beranjak sedikit lebih besar, anak-anak masih membawa sebagian besar kemurnian tersebut. Spontanitas mereka dalam mengekspresikan pikiran dan emosi. Keingintahuan yang berbinar terang dari mata mereka dan terluncur berupa beragam pertanyaan yang kerap menenggelamkan kaum dewasa.

Walau kadang para dewasa ini terganggu, namun perlu kita akui, spontanitas ini membawa kesegaran tersendiri. Ia mengingatkan akan kita dulu, ketika, kata kita, segala masih terasa begitu sederhana.

MEMUDAR SAAAT MENGINJAK DEWASA

Kemudian kedewasaan terjadi. Atas nama logika, pragmatisme, dan norma sosial, kita menanggalkan banyak atribut kita. Tidak boleh ini, tidak boleh itu, memberikan batasan pada apa yang kita katakan atau lakukan. Apa kata orang lantas menjadi takaran perangai dalam keseharian.

Belum lagi segala tanggung jawab dan standar kehidupan material yang kita taruh di pundak. Ekspresi yang jujur, spontan, dan membebaskan lantas menjadi suatu kemustahilan. Sebuah mimpi yang hanya ada di negeri dongeng masa kecil.

Banyak dari kita yang menjadi terlalu serius dan kaku. Tak ada waktu untuk hal-hal kecil ringan yang membahagiakan. Lupa akan segala hiburan yang ditawarkan oleh hal-hal kecil di alam sekitar. Tak ada lagi berbaring di alam terbuka, menari di bawah curahan hujan, menghamparkan diri di lantai dingin karena kepanasan, atau merebahkan diri di pundak orang terdekat di depan umum. Ora apik, mboten pareng, kata orang Jawa.

Ada juga yang mengayun ke ekstremitas sebaliknya. Alih-alih serius, kita cenderung mencandai, mentertawai segala yang ada. Ada bagian alam bawah sadar kita yang belum ingin menghadapi apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam diri. Pelarian melalui canda atau segala kesibukan menjadi alternatif.

Lain lagi, ada juga yang bersikap berlebihan. Sengaja membedakan diri, memperlihatkan perbedaan diri, dan memberontak, sebagai ungkapan protes terhadap tuntutan sekeliling. Haus akan pengakuan atas keunikan diri. Biasanya, eskpresi ini memiliki nuansa keras dan kasar. Ada kemarahan tergurat dalam tindakannya.

SAMPAI SAATNYA KESEJATIAN MENUNTUT UNTUK MEWUJUD

Namun segala yang palsu suatu saat akan pudar. Kesejatian cepat atau lambat akan menuntut untuk diekspresikan, menerabas ke permukaan.

Kelelahan atas segala yang tak wajar pun meluap. Badan luluh lantak tak kuasa menahan stres. Emosi mudah tergores oleh hal-hal kecil, kadang meledak menjadi kemurkaan atau tangisan tak terbendung. Kebahagiaan dan relaksasi menjadi suatu yang asing, kemewahan yang dipercaya tak terjangkau.

Walau terasa tak nyaman, namun semua ini tidak lain adalah curahan lubuk hati. Suatu undangan dari kesejatian untuk kembali merilekskan jiwa dan menjadi diri sendiri, memunculkan hal-hal yang selama ini terpendam namun tak pernah hilang. Proses yang mungkin menyertakan ulasan ulang berbagai nilai dan norma yang lama kita tanamkan dalam diri.

TERGERAK KEMBALI SEJUJUR MASA KANAK-KANAK

Dalam hal ini, tak ada guru yang lebih bijak dari mereka yang masih murni, yang mampu mengingatkan kita akan terang dalam diri. Alam sekitar, hewan-hewan, anak-anak, dan bayi pun menjadi sosok guru terbaik.

Apabila telah merasa siap dan keingintahuan demikian membuncah, mungkin sesekali kita bisa mulai merilekskan diri. Mencoba sedikit demi sedikit untuk memunculkan kembali kejujuran. Memberikan ruang bagi diri sejati untuk kembali berekspresi.

Kejujuran bisa dimulai dari hal keseharian kecil. Sesuatu yang bisa membuat kita tersenyum atau mengikik sendiri. Atau bergerak luwes tanpa batasan. Mungkin awalnya kita lakukan saat kita sendirian, sehingga tak khawatir dipandang tak waras oleh orang lain. Lambat laun lantas merebak ke lingkungan terdekat yang nyaman. Semakin lama, semakin luas, semakin sering, dan semakin jujur.

Semua dilakukan bukan sebagai bentuk pemberontakan, melainkan ekspresi jujur dari diri. Tanpa niatan bertentangan dengan pihak manapun, atau berlaku kurang ajar terhadap apa atau siapapun. Semata berniat lugu mewujudkan diri sejati tanpa bumbu kewaswasan atau ketakutan. Indah dan ringan.

Siapa tahu, mungkin suatu hari nanti kita bisa kembali mengada layaknya sang gadis mungil. Yang berjingkat ringan saat bosan melanda. Merebahkan diri spontan kala lelah. Mendekati orang-orang terkasih untuk sekadar tertawa ringan dan berpelukan.

Segalanya berlangsung alami, tanpa niat buruk, dan tetap menjaga kesantunan terhadap sekitar, atau bahkan menginspirasi.

Lihatlah gadis mungil itu

Bukan main riang, ringan tanpa beban

Ia melangkah masuk ruangan dengan berjingkat riang

Duduk khusyuk mengikuti acara

Kadang kelelahan melandanya

Spontan tanpa aba-aba ia pun merenggangkan tubuh

Menyelonjorkan badan dengan santai

Untuk kemudian kembali duduk setelah lelah mereda

Sesekali ia sambangi sang ayah dan kakak

Sekejap merasakan hangat pelukan

Atau bergurau meringankan suasana hati

Ia tak bermaksud melawan atau bersikap tak sopan

Terhadap norma yang berlaku sosial

Sekadar bertindak jujur sesuai hati

Mengikuti sinyal halus dari tubuh

Tanpa kuatir apa kata sekitar

Pun peduli ganjaran atas perbuatannya

Selalu santun, santai dan alami dalam bertindak

Melihatnya selalu menghangatkan hati

Senyum berkembang

Mungkin sekilas rasa iri mengikuti

Seraya muncul pertanyaan bagi diri

Kapan terakhir kita sedemikian jujur dan santai?