Sungguh ajaib cara otak bekerja.

Sungguh ajaib cara otak bekerja.

Otak memang salah satu organ pemberian Tuhan yang paling mengagumkan bagi saya. Bagaimana pembuluh-pembuluh darah halus yang malang-melintang di dalam batok kepala kita itu menggerakkan anggota tubuh, memberi kesadaran akan rasa nyeri, bahagia, sedih... ah, betul-betul membuat saya mengakui bahwa Tuhan memang Maha Luar Biasa.

Saya sedang berada di sebuah organic farm siang itu, dalam sebuah kelas menulis naratif.

Terus terang, saya agak terintimidasi.

Ketika pertama bertemu muka dengan para peserta lain, saya berpikir “Waduh, mungkin saya paling amatir dan paling bodoh dalam menulis!" Apalagi mentornya adalah penulis dan editor kawakan! Tapi, ah, saya menepis rasa rendah diri itu sambil mengingatkan diri: bahwa saya mengikuti kelas ini karena ingin belajar menulis yang baik.

Selama ini, saya hanya menulis asal saja, tanpa struktur. Saya tidak tahu teori menulis yang baik.

Tetapi ternyata, hari itu, saya bukan hanya belajar mengenai teori menulis. Para peserta diajak untuk menggunakan kelima panca indra untuk melatih kepekaan; karena setiap tempat sesungguhnya menyimpan banyak cerita.

Setiap manusia punya cerita. Ini akan selalu saya ingat. Everything has a story. Everyone has a story.

Untuk mengasah panca indra siang itu, saya sibuk celingak-celinguk. Awalnya, saya hanya memandangi pohon-pohon. Kemudian, tiba-tiba saja, berbagai kenangan menyeruak dari bawah sadar. Si Putih--anjing di organic farm yang setia menemani kami kemana-mana--mengingatkan saya akan anjing pertama dan terakhir yang saya miliki sewaktu kecil. Tetapi lantas muncul sosok lain dari masa lalu saya.

Namanya Bi Eha.

Ketika memanggilnya dengan cepat, namanya akan terdengar seperti Beha. Maka kami--saya dan kedua adik saya, memanggilnya Beha. Ia sudah seperti ibu kedua bagi kami. Tepatnya, ibu kedua bagi kedua adik saya, yang diasuhnya dari bayi. Ia ikut dengan kami selama tigapuluh empat tahun.

Bagaimana mungkin melihat pepohonan mengingatkan saya tentang Bi Eha?

Karena pepohonan itu melemparkan saya jauh ke masa kecil.

Ketika saya masih SD, rumah kami punya kolam ikan yang akhirnya ditimbun tanah karena boros air. Ketika sepulang sekolah saya ikut memotong-motong sayur untuk memasak bersama Bi Eha, ia selalu mengumpulkan ujung akar daun bawang, biji tomat, biji cabe, dan biji cabe rawit dengan hati-hati. Bi Eha sudah meletakkan pot-pot di tanah bekas kolam ikan itu. Ia lalu akan menyebarkan biji-bijian itu di sana. Saya senang ketika melihat pohonnya kemudian tumbuh dan berbuah. Ketika kami memasak lagi, ia tidak perlu belanja tomat, cabe, dan daun bawang. Ia tinggal memetiknya dari kebun kami.

Saat SD, saya juga punya seekor anjing. Ia mirip si Putih. Seekor anjing kampung yang diberikan tetangga karena mereka akan pindah rumah. Anjing itu bernama Honda. Ia bukan anjing ras, tapi sangat terlatih, seolah mengerti bahasa manusia. Saya sayang sekali padanya. Setiap pulang sekolah, ia adalah makhluk pertama yang saya peluk.

Suatu hari saya mendapatinya duduk lemas. Ia tidak menggonggong sambil mengibaskan buntut dengan antusias ketika saya pulang. Ia hanya mengangkat kepala kemudian meletakkan kepalanya lagi tanpa semangat. Ia tidak mau makan. Dua hari kemudian terlihat matanya memerah dan darah mulai mengucur dari kedua mata dan hidungnya. Ayah saya membawanya ke dokter, tapi sudah terlalu terlambat.

Rupanya ada yang tega meracuninya.

Dokter mengatakan si Honda tak mungkin lagi disembuhkan. Ayah saya berbisik-bisik untuk menyuntik mati Honda, demi mengurangi penderitaannya. Si Honda berjalan dengan gontai ke tanah kosong di sebelah rumah, berbaring di bawah pohon jambu, kemudian pergi selamanya. Saya menangis meraung-raung. Terlalu menyakitkan untuk saya melihatnya mati dengan tragis.

Bi Eha ikut menangis bersama saya.

Sejak hari itu, saya tidak pernah lagi punya anjing. Rasanya saya tak bisa lagi menyayangi anjing lain.

Saya dan adik-adik bukan orang yang dekat dengan orang tua kami, maka Bi Eha adalah tempat kami curhat. Ia juga yang sering menasihati, menghibur, dan yang paling tahu kesukaan dan ketidaksukaan kami. Ia tahu saya suka sup dan tahu. Adik tengah saya suka sayur asem, lodeh, dan tempe goreng. Tapi adik bungsu saya hanya suka ayam goreng. Ketika kami harus merantau karena kuliah, tiap kami mudik, ketiga menu itulah yang selalu tersedia di hari pertama kami sampai rumah.

Ketika adik saya terlibat dalam sebuah abusive relationship, adalah Bi Eha yang mengolesi punggung adik saya yang penuh luka cakaran dengan obat merah--sampai luka-lukanya terlihat dramatis. Sambil menotol-notolkan kapas di punggung adik saya yang menggeliat-geliat karena perih, diam-diam Bi Eha mengusap air mata.

Suatu hari, jiwa remaja saya yang pemberontak membuat saya meninggalkan rumah. Semua dipicu salah paham dengan ibu saya. Bi Eha ngotot ikut saya naik becak supaya tahu kemana saya pergi. Bi Eha juga yang menenangkan ibu saya ketika saya jatuh cinta pada seorang bad boy.

Belakangan, saya baru tahu bahwa Bi Eha ternyata juga teman curhat ibu saya. Kadang mereka bergosip, kadang berselisih paham. Saling mendiamkan, untuk kemudian berbaikan. Seperti layaknya sahabat. Bi Eha memang sudah menjadi bagian dari keluarga. Di antara kami sudah tidak ada jarak. Bi Eha bahkan berpulang di rumah kami.

Suatu hari, tiba-tiba Bi Eha ingin pulang kampung. Ternyata ini cara Bi Eha 'berpamitan'. Bi Eha tak sadarkan diri di dalam mobil. Sebelum benar-benar 'pulang', ia masih menunggu ibu saya datang ke rumah sakit. Setelah bertemu Ibu, barulah Bi Eha berpulang dengan tenang. Sudah sekitar tiga tahun lalu Bi Eha pergi. May she rest in peace.

Saya masih memandangi pepohonan yang daun-daunnya berdesir ditiup angin di organic farm hari itu. Ingatan-ingatan berkelebat cepat. Hari itu, saya paham: seorang sahabat adalah seseorang yang bisa memahami apa yang tersimpan di dalam hati. Seorang sahabat bisa ditemukan dalam diri siapa saja, jika hati kita bersedia terbuka menyambutnya.

Untuk saya, ibu, dan adik-adik, kami beruntung telah berbagi sahabat baik yang sama: Bi Eha.