Jika semua orang yang kau temui membawa pesan untukmu, pesan macam apa yang perlu kau dengar hari ini?

Saya melihat perempuan paruh-baya itu untuk yang pertama kalinya di sebuah restoran di Ubud. Dengan gaun panjang abu-abunya dan rambutnya yang berwarna serupa dipangkas pendek di sisi telinga, ia nampak tak suka ketika pramusaji menempatkannya di sebuah meja untuk dua orang—tepat bersebelahan dengan panggung band salsa yang akan bermain malam itu.

“Tak bisakah saya duduk di sana saja—“ ia menunjuk dua buah meja di sisi lain ruangan. “Akan berisik sekali di sini...”

Pramusaji menjawab, sayangnya tidak bisa, karena kedua meja tersebut sudah direservasi oleh tamu lain. Ada satu meja lagi yang kosong malam itu, namun meja tersebut diperuntukkan untuk 4 orang.

“You’re alone?” tanya pramusaji.

Perempuan paruh-baya itu mengangguk.

“Maaf, hanya meja ini yang kosong,” ujar pramusaji, seraya mempersilakan perempuan itu duduk di sana—di meja yang tepat bersebelahan dengan panggung band salsa; dan bersisian dengan meja tempat saya dan kawan saya duduk.

“But it’s going to be really noisy,” katanya pelan. Kentara sekali, ia sedikit kecewa. Mungkin juga kesal.

Walaupun akhirnya ia duduk di meja yang diberikan pramusaji, wajahnya masih nampak kencang. Setelah duduk di salah satu kursi di meja itu, ia kemudian bergegas bangkit dan berpindah ke kursi lainnya. “Mungkin tak akan terlalu berisik kalau di sebelah sini,” ia bergumam sendiri.

Beberapa menit setelah duduk di kursi itu, ia nampak gelisah, lalu berdiri dan kembali ke kursinya yang semula. “Tapi setidaknya kalau dari sini bisa melihat lantai dansa,” gumamnya lagi.

Saya dan kawan saya saling berpandangan. Saat tatapan perempuan paruh-baya itu bertemu dengan mata saya, saya pun tersenyum kepadanya. Tetapi pikiran yang saat itu terlintas dalam benak saya secara otomatis adalah: repot banget, sih.

*****

Pikiran itu pun berangsur hilang ketika makanan kami datang dan band salsa mulai bermain. Guru-guru salsa dan murid-murid mereka yang biasa berlatih di restoran itu (sebagian orang Indonesia dan sebagian lagi turis asing yang sedang berlibur di Ubud) mulai membanjiri lantai dansa dan menari dengan riang. Conga yang ditabuh semarak membuat hati saya ikut senang. Senyum lebar menghiasi wajah saya, dan di bawah meja, kaki saya mengetuk-ngetuk lantai mengikuti irama.

Lagu terakhir sebelum break pertama baru akan dimainkan. Setelah lagu ini, band akan berhenti bermain selama 30 menit untuk beristirahat. Irama mulai menghentak, dan seorang guru salsa laki-laki berjalan mendekati meja perempuan paruh-baya itu. Sang guru salsa mengulurkan tangannya, mengajak perempuan itu berdansa.

Perempuan paruh-baya itu nampak terkejut. Ia tersenyum canggung—namun tanpa saya sangka, ia kemudian berdiri, meletakkan serbet makannya di atas meja, dan menyambut ajakan sang guru salsa. Mereka pun mulai bergerak di lantai dansa, mengikuti irama.

Sang guru salsa berusaha mengajarinya langkah-langkah salsa pelan-pelan, namun perempuan paruh-baya itu sepertinya tak terlalu peduli. Ia nampak senang menikmati langkah-langkahnya sendiri, bergoyang dan berputar dengan senyum mengembang di wajahnya.

Ketika lagu berakhir dan sang guru salsa beranjak pergi, perempuan paruh-baya itu berdiri di sisi mejanya—kedua tangannya ditangkupkan di pipinya yang kini memerah dan dihiasi titik-titik keringat. Napasnya terengah. Lalu ia melangkah sedikit ke kiri dan kanan, seperti tak ingin kembali duduk di mejanya. Hingga ia melihat saya dan kawan saya, kemudian berjalan mendekat.

“Do you speak English?” tanyanya.

“Yes, we do!” kawan saya menjawab.

Perempuan paruh-baya itu pun berseru, “Oh, syukurlah!” dan ia pun berdiri membungkuk di samping meja kami, tangannya masih ditangkupkan di kedua pipi.

“Saya tak tahu apakah lelaki tadi itu mengajak saya berdansa karena kasihan saja; tapi he gave me the last dance!” ia berseru. Bibirnya tersenyum, namun matanya berkaca-kaca. Dan tak lama kemudian, air mata menetes di pipinya satu-satu. “Suami saya meninggal di bulan Juli. I miss him so much. Ia sangat suka berdansa,” ujarnya dengan suara bergetar. “It’s good to dance again. Malam ini, begitu melihat band salsa itu, saya teringat suami saya. Kami biasa berdansa,” ia terisak.

Saya tak bisa menahan gumpalan kesedihan yang rasanya seperti tercekat di tenggorokan. Saya pun berdiri menghampirinya dan memeluk perempuan paruh-baya itu. Ia balas memeluk erat, air matanya membasahi pundak kanan saya.

“But tonight you dance!” saya mencoba membuatnya tersenyum.

“Maybe it’s a pity dance,” katanya murung.

“Maybe it’s a happy dance. A celebration dance!” saya membalas.

“A celebration dance!” seru perempuan itu. Senyum mengembang di wajahnya yang basah. “Yes, maybe it’s a celebration dance!”

Kami berbincang sejenak setelah itu. Perempuan itu datang dari Massachusets untuk melarikan diri dari musim dingin yang menusuk tulang, dan mungkin juga untuk menenangkan diri dari ingatan-ingatan perihal kehilangan. Di Ubud, ia bertemu hangat dan matahari.

“Saya janji, saya mau kembali lagi tahun depan, juga di bulan Februari,” katanya. “Bali is so beautiful!” Ia bilang, ia ingin melihat dan memelajari banyak hal di Bali. “Saat ini saya sedang kursus membuat keramik, ada tempat yang namanya Sari Api, dan saya belajar membuat keramik di sana. Saya suka sekali!”

Lalu, begitu saja, ia berbalik meninggalkan kami, duduk di mejanya, meminta tagihan, membayar, dan pergi.

“Saya melihat dia menangis sebelumnya,” ujar kawan saya tiba-tiba.

“Sebelum dia datang ke meja kita?” saya bertanya.

“Iya, sebelum itu,” jawabnya. “Waktu dia sedang makan, saya melihat dia sempat menangis.”

Ada perasaan bersalah menyelinap dalam diri saya. Atas penilaian pertama saya pada perempuan paruh-baya itu—yang saya anggap ‘merepotkan’. Kini saya bisa mengerti.

Apa yang ada dalam pikirannya begitu ia masuk ke restoran itu dan mengetahui bahwa mejanya ditempatkan persis di sebelah band salsa—yang mengingatkannya akan kegemaran almarhum suaminya berdansa?

Seperti apa rasanya makan malam sendirian, diiringi lagu salsa yang menghentak riang dan orang-orang yang berdansa berpasang-pasangan, ketika yang ia rasakan adalah kehilangan?

Apa saja ingatan dan kenangan yang menyesakkan dadanya ketika ia bergoyang dan tertawa untuk merayakan satu dansa kejutannya malam itu?

“Kita memang tak pernah tahu hal semacam apa yang sudah dilalui seseorang, ya,” ujar saya pelan. Kawan saya mengangguk.

***

Pagi harinya, ketika saya dan kawan saya hendak keluar dengan mengendarai motor dari rumah yang kami sewa, saya baru melihat sebuah plang nama tergantung di rumah tetangga kami: SariApi.

Sari Api. Tempat perempuan paruh-baya yang kami temui semalam belajar membuat keramik.

Saya dan kawan saya saling berpandangan dan tersenyum. Ah, jadi yang semalam itu mungkin bukan sebuah kebetulan. Everyone is a messenger.