Saya pikir ikhlas adalah perkara mudah. Saya pikir saya sudah mampu melakukan semua itu. Sampai suatu hari, teman yang juga dosen saya berkata, “Ikhlas itu ilmu yang susah.” Susah karena berarti kita menerima apapun yang terjadi dalam hidup dengan legowo, tanpa menuntut.

Ya, manusia gemar menuntut. Termasuk manusia yang menuliskan tulisan ini—saya. Sejak kecil, saya diajarkan untuk nggak menyerah dengan keadaan. Boleh saja saya berhenti sejenak dari semua usaha, tetapi saya harus melanjutkannya lagi nanti. Jadi, saya nggak terbiasa dengan nrimo.

Buat saya (pada waktu itu), orang yang nrimo bukanlah orang yang kuat dan gigih. Atau, pada titik ekstrim, saya sebut mereka sebagai pemalas. Enggan berusaha. Saya nggak mau menjadi orang seperti itu. Dan, saya nggak terima disebut sebagai pemalas. Maka, default diri saya adalah: nggak mau nrimo nasib begitu saja. Atau, melawan.

“Kalau sesuatu terjadi dalam hidupmu, itu bukan tanggung jawab Tuhan. Itu tanggung jawabmu,” begitu nasihat yang selalu Bapak lantunkan kepada anak-anaknya. Terlahir dari keluarga yang kurang mampu, Bapak berusaha dengan sangat gigih untuk memberikan kehidupan yang jauh lebih baik untuk keluarganya. Prinsip hidup itulah, yang Bapak hendak tularkan kepada anak-anaknya.

Bertahun-tahun, prinsip itu mendarah daging di dalam diri saya. Meskipun perlahan-lahan saya menyadari bahwa saya nggak punya pribadi segigih dan setangguh Bapak, tetapi saya berusaha untuk nggak menyerah kepada nasib. Lagi-lagi, karena saya ogah disebut sebagai pemalas—meskipun untuk beberapa hal saya memang pemalas.

Sampai pada suatu titik, ketika menjadi Ibu, saya memahami prinsip hidup Bapak dengan lebih dalam…

Saya memang memutuskan untuk menjadi stay-at-home mom, jauh sebelum si bayi lahir. Sayangnya, saya nggak membekali diri dengan banyak amunisi berupa informasi tentang stay-at-home mom. Saat itu, yang saya inginkan hanya 24 jam bersama anak dan mengawasi serta mendidik mereka.

Kenyataannya? ZONK! Saya nggak betah di rumah.

Sejak duduk di bangku kuliah, saya sudah bekerja. Saya memulai karir dengan menjadi junior copywriter di sebuah biro iklan idaman saya. Sejak mendapatkan mata kuliah periklanan dan melakukan kunjungan ke biro iklan, hati dan pikiran saya sudah menetapkan bahwa suatu hari saya HARUS bekerja di sana sebagai copywriter. Dan, dengan pencarian informasi yang getol, doa yang nggak pernah putus—bahkan cenderung memaksakan kehendak kepada Tuhan—saya mendapatkan pekerjaan itu. Hasilnya? Saya nggak betah.

Kemudian, saya terus mencari pekerjaan demi pekerjaan yang membuat saya betah. Singkat cerita, saya nggak pernah nganggur sejak duduk di bangku kuliah. Saya selalu punya uang. Minimal uang bensin, pulsa, dan nongkrong.

Nah, menjadi seorang stay-at-home mom, berarti saya harus rela meninggalkan semua aktivitas itu. Termasuk, rela kehilangan penghasilan rutin. Saat hamil, semua itu baik-baik saja karena saya masih aktif mengajar dan mengerjakan proyek sampingan. “Wah, ini menyenangkan sekali,” saya terkagum-kagum dengan rutinitas baru.

Begitu anak saya--Btari Nay--lahir, saya memutuskan untuk nggak bekerja sama sekali, kecuali mengajar di hari Sabtu. Alasannya? Saya butuh adaptasi lebih lama untuk menjadi Ibu. Saya nggak mampu untuk mengasuh anak sambil bekerja. Akhirnya, saya memutuskan untuk nggak bekerja.

Dari situlah, semua gejolak mulai terjadi. Mood swing. Stres akut. Bosan. Depresi. Rendah kepercayaan diri. Dan lain sebagainya. Semua itu—termasuk permainan hormon dan hal lainnya—bermuara pada depresi pasca melahirkan.

***

Saya nggak bangga karena pernah mengalami depresi pasca melahirkan! Namun, saya akan lantang mengakui bahwa mengalami hal itu, membuat saya belajar tentang ACCEPTANCE. NRIMO nasib. Ikhlas. Berdamai dengan diri sendiri. BERSYUKUR. Semua hal yang selalu saya lawan, selama ini.

Saat membuat keputusan menjadi stay-at-home mom, rupanya hati dan jiwa saya belum bisa nrimo. Raga saya, sih, senang, karena nggak harus bermacet-macet setiap pagi dan sore.

Saat membuat keputusan untuk nggak lagi bekerja kantoran, rupanya hati dan jiwa saya belum ikhlas. Raga saya? Senang, dong. Berarti nggak harus capek-capek pulang-pergi kantor.

Saat memutuskan untuk nggak lagi mendapatkan penghasilan bulanan, rupanya hati dan jiwa nggak diajak berunding sama si raga. Jadi, saya nggak bisa nrimo bahwa saya adalah seorang ibu rumah tangga biasa.

Jadi, saat saya memutuskan semua itu, raga-lah yang mengucap. Hati dan jiwa pundung, rupanya.

Saya merasa kehilangan identitas saya sebagai pekerja. Saya betul-betul menolak menjadi ibu rumah tangga. Saya tahu, saya mengajar di kampus. Namun, saya bukan dosen tetap yang harus siap untuk nggak mendapatkan jadwal mengajar rutin, bukan?

Saya menjadi takut. Takut kehilangan identitas diri sebagai pekerja atau dosen. Namun, suatu hari teman saya bilang, "Tetapi, kamu Ibu. Itu adalah peran yang luar biasa. Lebih dari apapun!"

Hati dan jiwa yang pundung, memasang telinganya untuk mendengarkan nasihat teman saya. Perlahan, mereka mulai mendekati raga yang selama ini dimusuhi. "Boleh kita team-up lagi?" Ujar mereka. Raga pun girang.

Ya, SAYA SEORANG IBU. Dan itu adalah fitrah yang Tuhan berikan kepada saya. Apakah saya menolak? Nggak usah hidup aja kalau masih suka ngelawan yang kasih hidup! Jiwa, raga, dan hati seakan meledek saya.

Sekarang, saya sedang belajar untuk menerima. Siapa saya, apa yang saya lakukan, dan lain sebagainya. Dan, bersyukur dengan semua yang Tuhan berikan kepada saya. Kali ini, hati, jiwa, dan raga saya berbisik bersama, “Tuhan sayang sekali sama kamu.” Saya pun cinta kepadaNya.

***

Teman, saat kamu menganggap dirimu sudah ikhlas, cobalah bertanya, apakah yang mengucap ikhlas hanya mulut? Jika memang begitu, mungkin ragalah yang sedang memimpin keputusanmu—atau mungkin egomu? Karena, ikhlas itu nggak hanya di mulut. Ikhlas itu mengalir di jiwa, raga, pikiran, dan hatimu. Ia mengalir tanpa protes, seperti darah mengaliri tubuh kita, agar kita terus hidup dan bersyukur.