Hidup adalah kerja-keras. Serangkaian percobaan, penghakiman, godaan, dan sebagian berakhir dengan air mata. Kita begitu sering berkelahi untuk membuktikan diri kita yang paling benar—dari awal jaman hingga kini, dan mungkin akan begitu seterusnya di masa yang akan datang. Kita belajar, berkelahi, menjadikan nama kita besar, menemukan alasan untuk terus hidup dan bergerak, lalu bertahan di sana.
Kita terus berkembang. Kita punya aktor dan aktris yang menghibur kita lewat televisi, penyanyi dan musisi yang berjuang demi keberuntungan mereka untuk memiliki karir cemerlang, para pemasar membantu perusahaan-perusahaan menjual berbagai produk dan layanan, para desainer bermain-main dengan benak mereka untuk menciptakan sesuatu yang unik dan menjadi terkenal.
Tetapi bukankah pertanyaan sesungguhnya adalah: siapa kita? Who am I?
Saat ini orang-orang berbangga akan apa yang telah mereka lakukan dan apa yang telah mereka capai—terkadang dengan melupakan siapa diri mereka yang sesungguhnya saat melakukan atau mencapai hal-hal tersebut.
Kita bisa meraih karir yang kita impi-impikan dengan bertahun-tahun kerja-keras, tetapi pernahkah kita bertanya kepada diri kita sendiri, mengapa kita melakukan hal ini? Apakah tujuan hidup kita di dunia ini? Dan jika kita pernah mempertanyakannya, dapat menjawab dan menemukan tujuan kita itu, apakah hal tersebut akan memberikan dampak berarti di dunia ini?
Dulu saya kerap bemimpi untuk menjadi ini dan itu, banyak sekali. Dari semua itu, berapa yang menjadi kenyataan, saya tak berani menghitungnya. Mungkin setengahnya. Mungkin kurang dari itu. Saya telah melakukan banyak hal yang tidak saya banggakan, namun saya juga tak boleh melupakan saat-saat ketika saya melakukan hal-hal yang membanggakan—karena memang lebih mudah untuk mengingat hal yang buruk ketimbang hal yang baik. Karena itulah, kita sebaiknya tidak menggerutu, tidak menyerah, dan harus tetap menghidupkan harapan dalam hati kita.
Memang mudah untuk menjalani hidup begitu saja: makan ketika lapar, tidur ketika mengantuk, atau bermain game ketika bosan, dan pergi bekerja hanya untuk mendapatkan penghasilan. Tapi bayangkanlah sebuah dunia yang penuh dengan makna. Terkadang dalam hidup, kita terlalu sibuk mencemaskan hal-hal remeh. Hal-hal yang sebenarnya tak memberikan dampak berarti di dunia, hal-hal yang bahkan tak mendefinisikan siapa diri kita yang sesungguhnya.
Bayangkan apa yang terjadi ketika orang-orang begitu sungguh-sungguh memaknai arti ketika mereka mengatakan ‘cinta’. Bayangkan dampak macam apa yang bisa diberikan semangkuk sup hangat, sebuah atap, atau seribu rupiah yang diberikan kepada seorang tuna wisma yang kelaparan. Bayangkan bunga-bunga matahari di tengah padang, hujan di titik paling kering di Afrika, ilmu pengetahuan yang ada di benak para visioner.
Ambil kendali hidup kita. Lakukan hal-hal bukan hanya karena kita menyukainya, tapi karena kita juga menemukan makna di dalamnya.
Berkebunlah, bukan karena kita hanya ingin menghabiskan lebih banyak waktu di luar rumah, tapi karena kita merasa begitu hidup ketika mawar dan anggrek kita akhirnya mekar.
Memasaklah, bukan karena kita butuh makan, tetapi karena kita ingin orang-orang yang kita cintai bisa menikmati nutrisi sehat dan membuat mereka kembali penuh energi.
Pergilah bekerja, bukan karena gajian sebentar lagi, tetapi karena kita senang melihat orang-orang tersenyum ketika kita mengantarkan mereka segelas kopi, atau karena kita begitu menyukai sentuhan rasa dari kertas dan keyboard dengan jari-jemari kita, karena kita dapat tenggelam dalam konsentrasi yang menyenangkan akan pekerjaan yang kita lakukan, atau karena kita senang membantu orang-orang ketika kita menjawab telepon, mengetahui bahwa kita mungkin memberikan dampak berarti bagi mereka hari ini.
Terkadang, seulas senyum sudah cukup untuk meringankan hari seseorang yang sedang dipenuhi masalah—jika saja kita bisa melihat hal-hal yang tak nampak di permukaan. Ketika kita menemukan makna bahkan pada keping terkecil hidup ini. Itulah saat-saat ketika kita tahu bahwa kita sungguh-sungguh hidup. Saat kita bertanya pada diri sendiri, “Siapa saya?”
Karena ketika kita mengerti makna dari apa yang kita katakan, mengerti mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan, dan menghargai setiap detik ketika kita terjaga dalam hidup ini, mungkin itulah saat ketika kita tak lagi memiliki penyesalan-penyesalan.
Kita tak perlu cemas ketika orang-orang menertawakan kita, membuat kita kesal, atau ketika hidup tak berjalan sesuai dengan apa yang sudah kita rencanakan. Kita tak mencemaskan hal-hal ini karena kita mengerti, memang seperti inilah hidup. Kehidupan yang begitu bermakna sehingga tak ada seorangpun yang bisa merenggutkannya dari diri kita.
Bahkan ketika kita sakit pun, kita hanya akan menemukan kedamaian, ketika mengetahui bahwa hidup kita telah begitu istimewa, dan telah kita jalani dengan sepenuh-penuhnya yang kita bisa.
Karena ketika hidup kita bermakna, kita pun akan merasa demikian.