Kamu juga layak untuk bahagia, sudah saatnya kamu untuk move on. Bukan berarti lalu kamu menerima siapa saja yang datang, tapi cobalah untuk membuka hati, maafkan yang terjadi di masa lalu.

Baru saja saya mendapat kabar bahagia dari salah seorang teman, bahwa ia akan menikah lagi. Iya, lagi. Ini adalah pernikahan keduanya, setelah berpisah hampir setahun lamanya dengan yang dulu. I’m happy to hear that, she’s worth to be happy, and yes, it’s never too late to live happily ever after.

Awalnya kaget, tidak menyangka akan secepat ini proses ‘move on’-nya, karena luka yang ia terima dari pernikahan sebelumnya sangat dalam. Kemudian saya menyadari satu hal, bahwa patah hati terhebat bisa saja membawa orang yang merasakannya kepada dua pilihan: tetap sendiri dan menjadi sangat-sangat berhati-hati untuk hubungan selanjutnya, atau menerima dengan hati terbuka dan meyakini bahwa ia layak untuk bahagia, lagi.

Saya adalah opsi yang pertama. Patah hati yang meremukkan hati saya hingga tak berbentuk lagi, membuat saya sangat berhati-hati dalam memilih orang yang akan menjadi pasangan saya. Saya takut kecewa, takut sakit hati lagi, takut terluka, dan hubungan dengan pria yang mencoba mendekati saya biasanya berakhir dengan kata ‘nggak dulu deh.’

Teman saya ini, hatinya jauh lebih patah dan hancur dari saya (jika boleh membandingkannya dengan luka yang saya terima), perceraian tidaklah mudah untuk dijalani, dan pasti sedikit banyak akan melukai banyak pihak juga. Tapi kemudian, ia tidak menjadikannya halangan untuk mendapatkan cinta yang baru, untuk kebahagian yang baru, untuk sebuah perjalanan yang baru.

Ia berani membuka jalan untuk sesuatu yang baru, tidak seperti saya yang masih saja diliputi ketakutan dan kecemasan-kecemasan.

Tapi bukankah saya, kamu, kita, juga layak untuk bahagia? Mungkin sudah saatnya kita terus berjalan dan melepaskan masa lalu di belakang. Bukan berarti lalu kita menerima siapa saja yang datang, tapi tak salah rasanya untuk mencoba membuka hati serta memaafkan diri sendiri (dan orang lain) atas apa yang terjadi di masa lalu.

Begitu yang kawan saya katakan.

Kita berhak untuk bahagia.

Dan untuk kawan saya itu: terima kasih. Terima kasih untuk pelajaran yang diberikan hari ini. It means a lot to me.