Mereka berdua adalah janda, satu janda hidup dan yang satunya janda mati. Mereka mengerti betul apa makna dari kehilangan. Mereka mengerti bahwa tidak ada seorang pun bisa menjadi orangtua tunggal. Ini sungguh adalah hal yang mustahil. Konsep keluarga nuklir adalah sesuatu yang absurd bagi saya. Perempuan membutuhkan dukungan. Kita butuh mendukung satu dengan yang lainnya. Untuk membesarkan seorang anak kita memerlukan satu desa, saya memilih untuk membuat desa itu, daripada menjadi seorang ibu tunggal yang heroik di abad ini. Saya tidak bergabung dalam kelompok perempuan super. Saya adalah sebuah ketidaksempurnaan sebagaimana saya adalah seorang manusia. Dan saya menerimanya.

Jogjakarta, 24 Juni 2016

Mami yang tersayang,

Ini adalah ibu yang lain dari anak lelakiku, Ibu Heri, anak lelakiku memanggilnya Ibuk dan memanggilku Mamah sehari-harinya. Dia adalah sosok ibu yang sama besarnya sepertiku bagi anakku.

Ia adalah tetanggaku. Putri kedua dari Simbah Ngadinem, nenek pemilik kontrakan rumah saya di desa Nitiprayan. Ia adalah partner saya, kakak perempuan saya, orang yang paling dapat diandalkan dan dipercaya dalam proses membesarkan anak saya selama tujuh tahun terakhir. Ia tidak pernah mengecewakan saya. Kami berdua berhutang budi dengannya, dengan seluruh keluarganya, sebagaimana semestinya sebuah keluarga yang benar-benar menjadi keluarga.

Ini adalah sosoknya sehari-hari, mencuci pakaian anak lelaki saya dalam sebuah momen ritual pagi yang indah. Baik Simbah dan Ibu, mereka berdua berprofesi sebagai pembatik tulis, mereka akan membuat satu potong kain batik tulis selama dua bulan lamanya dengan malam.

Terkadang samar-samar terdengar musik gamelan dalam gemerisik radio lama Simbah, sembari ia mencelupkan canting pada malam, meniupnya dan menggoreskan canting pada kain dengan anggunnya. Setiap hari, mereka melakukannya di kala sempat setelah segala perihal rumah tangga mereka beres, setelah mereka mengurus semua orang dan segala hal, termasuk anak lelaki saya.

Ketika perempuan melakukan rutinitas domestik mereka, saya menemukan mereka dalam cahaya keanggunan. Seperti inilah saya mengenal Ibu Heri: sungguh sederhana, sangat sabar, penyayang, dapat diandalkan, penuh dedikasi dan penuh cinta. Saya tahu, anak saya aman dibesarkan oleh kedua tangannya.

Akhir-akhir ini saya mempraktikkan kebiasaan ritual pagi dan ini adalah salah satu pemandangan pertama saya di pagi hari. Tetangga saya mencuci pakaian mereka bersama-sama di dekat sumur. Sumur kami adalah sumber energi pagi dan ruang interaksi semua penghuni rumah. Dan saya bukanlah orang yang suka mencuci (saya lebih suka menyetrika), saya bukanlah ibu yang sempurna sama sekali. Saya sempurna ketika orang-orang di sekitar saya mengada.

Saya mengada menjadi ibu bagi anak saya karena keberadaan tetangga saya.

Saya ingat hari dimana kami datang ke rumah ini. Dengan kedua teman baik saya, Dina Oktaviani dan Steven Bino Basira, ketika kami tengah mencari-cari kontrakan baru untuk memulai hidup saya kembali. Saya baru saja mengalami perpisahan yang sungguh berantakan dengan ayah anak saya, tidak membawa apapun kecuali menggendong seorang bayi berumur 15 bulan. Seorang ibu muda yang kebingungan, kehilangan segalanya dan menahan isak tangis di ujung mata setiap kali orang lain menatap mata saya. Mereka tidak menanyakan atau berkata apa-apa. Mereka hanya merangkul saya di bawah lindungan sayap mereka. Oh, bagaimana mereka benar-benar merangkul saya.

Empat bulan kemudian, saya harus sidang skripsi dan anak saya demam tinggi. Saya merasa saya tidak bisa pergi di pagi yang kritis itu, ia baru saja kejang demam untuk pertama kalinya di Jakarta, dua bulan sebelumnya. Keduanya berkata kepada saya pagi itu:

“Percayakanlah anakmu pada kami, pergilah sidang skripsi dan segalanya akan baik-baik saja. Percayalah pada kami.”

Saya memilih untuk percaya. Dan karena mereka saya mendapatkan gelar sarjana saya dan lulus dengan baik hari itu.

Atau ketika saya gelisah untuk pergi pertama kalinya ke India untuk sebuah festival internasional, karena ini akan menjadi perjalanan pertama saya ke luar negeri setelah 5 tahun tidak pernah melakukan perjalanan kemana pun karena saya takut untuk meninggalkan anak saya. Simbah hanya berkata:

"Ketika ibunya tenang, anaknya akan tenang. Pergilah dengan hati yang damai, akan lebih mudah bagi kami untuk mengurus anakmu, fokus dan selesaikanlah apa yang perlu kamu lakukan. Lalu pulanglah kepada kami.”

Saya memegang kata-kata ini setelah bertahun-tahun. Dan karena kata-kata ini, saya menemukan diri saya kembali. Saya memiliki begitu banyak tawaran pekerjaan dan perjalanan yang sangat menarik, dimana saya belajar untuk tidak menolaknya hanya karena saya memiliki seorang anak. Saya belajar untuk tidak membatasi diri saya. Hidup kami membaik. Saya menjadi orang yang lebih baik.

Sekarang saya telah berjalan sekian mil melalui lembah dan pegunungan Himalaya. Juga pelosok-pelosok Nusantara. Menjalani apa yang menjadi jalan hidup saya sebagai seorang yang berjiwa nomaden, bahkan ketika saya adalah juga seorang ibu bagi anak saya. Mereka berdua adalah pilar yang menyokong semua perjalanan hidup saya. Mereka sekuat semua perempuan yang memengaruhi hidup saya. Seinspiriatif para penulis perempuan favorit saya atau perempuan figur publik yang saya kagumi. Perempuan itu kuat dan memiliki daya resiliensi. Dua hal inilah yang saya pelajari dari mereka.

Mereka berdua adalah janda, satu janda hidup dan yang satunya janda mati. Mereka mengerti betul apa makna dari kehilangan. Mereka mengerti bahwa tidak ada seorang pun bisa menjadi orangtua tunggal. Ini sungguh adalah hal yang mustahil. Konsep keluarga nuklir adalah sesuatu yang absurd bagi saya.

Perempuan membutuhkan dukungan.

Kita butuh mendukung satu dengan yang lainnya. Untuk membesarkan seorang anak kita memerlukan satu desa, saya memilih untuk membuat desa itu, daripada menjadi seorang ibu tunggal yang heroik di abad ini. Saya tidak bergabung dalam kelompok perempuan super. Saya adalah sebuah ketidaksempurnaan sebagaimana saya adalah seorang manusia. Dan saya menerimanya.

Saya kehilangan dirimu sewaktu usia saya duapuluh tiga tahun. Dua hari yang lalu adalah ulang tahunmu yang ke tujuhpuluh tahun. Seorang nenek yang anggun dari anak saya. Ia juga sesama Cancer. Seorang anak laki-laki yang mencintai rumah dan keluarganya, ia sedang tumbuh menjadi laki-laki yang penyayang. Ia memiliki warna kulitmu yang kuning langsat. Kelembutanmu yang rapuh, yang tengah coba kumengerti dengan perlahan.

Lalu saya menemukan seorang nenek, ibu dan kakak perempuan lagi ketika usia saya duapuluh tujuh tahun. Simbah Ngadinem dan Ibu Heri, mereka adalah perempuan dalam hidup saya dan keluarga dari anak saya. Dan saya ingin berbagi cerita ini denganmu. Saya ingin berbagi mengenai perempuan-perempuan yang telah turut membesarkan cucu laki-lakimu dan membuat saya tumbuh sebagai seorang ibu. Melalui mereka saya belajar akan nilai kepercayaan, bahwa orang asing dapat menjadi keluarga dan saya menerima semua fakta ini. Bahwa kita semua adalah satu kesatuan.

Saya memaafkanmu untuk tidak berada di samping saya secara fisik. Namun saya percaya bahwa dirimu berada disini melalui mereka berdua. Dan saya bersyukur akan mereka, akan dirimu yang melahirkan saya ke dunia ini sehingga saya dapat mengalami semua pengalaman manusiawi ini, terimakasih atas segala berkat keibuan yang semesta berikan kepada saya.

Saya mengerti akan dirimu dengan lebih baik ketika saya juga menjadi seorang ibu.

Terimakasih kepada semua perempuan dalam hidup saya, dalam keanggunan, kecantikan, kelembutan, kerapuhan, kehangatan, rumah, kekuatan, resiliensi, kemarahan, kegilaan, kedukaan, tangis, kesakitan, kesedihan, kehilangan, kematian, inspirasi, pelajaran, kebijaksanaan, cinta dan kasih sayang. Untuk semua jiwa-jiwa yang indah ini, jiwa dan hati saya merasa terhormat untuk telah bertemu diri kalian semua dalam hidup saya.

Dirimu dicintai. Dirimu adalah cinta. Dalam berbagai cara. Selalu. Selamanya*.

Dan tentu saja, saya selalu merindukanmu.

Peluk hangat dan penuh cinta,

  • ASTRID -

**) mengadaptasi alexelle*