Seorang kawan yang mengetahui perjuangan saya mengatasi depresi pernah bertanya, seperti apa rasanya. Saya bilang, ia hanya perlu menonton animasi di bawah ini untuk mengerti. Karena rasanya persis seperti itu.
YouTube / TED - via Iframely
Saya memintanya menonton video itu karena saya tak bisa sungguh-sungguh menjelaskan seperti apa rasanya mengalami depresi.
Sejak kecil, saya sudah memiliki insecurity terhadap diri saya sendiri, terutama mengenai penampilan fisik saya. Saya terbiasa dikata-katai 'gendut' oleh orang-orang terdekat, keluarga, dan kawan-kawan (yang tak saya anggap sebagai kawan). Saya besar dengan mendengarkan kata-kata kasar yang disandingkan dengan binatang-binatang tertentu untuk mengejek tampilan fisik dan berat tubuh saya. Sebagai seorang anak kecil pada masa-masa itu, saya pun belum punya kemampuan untuk lari, menutup telinga, apalagi membalas semua ejekan itu.
Yang tak saya sadari adalah bahwa semua ejekan dan cemoohan itu telah tertanam begitu dalam--bahkan sangat dalam. Saya beranjak dewasa dengan membenci tubuh saya. Saya tak mau bercermin.
Di alam bawah sadar, saya masih mendengar semua cemoohan masa kecil saya--meskipun logika saya berusaha menetralisasinya. Setiap hari, saya butuh usaha yang sangat keras untuk bisa bangkit dari tempat tidur, mandi, dan berpakaian. Saya berusaha mengatakan pada diri sendiri bahwa tak ada yang salah dengan diri saya, bahwa saya perlu bersyukur karena hari ini saya sehat, bahwa saya baik-baik saja... hingga saya melangkah ke luar rumah dan seseorang berkata, "Wah, kamu cantik, ya. Sayang gendut!"
Atau saya tiba di kantor dan seseorang berseru: "Kamu gendutan banget, ya!"
Dan semua perjuangan pagi saya untuk bangun dan menghadapi hari pun seakan runtuh seketika.
Di balik pembawaan saya yang terkesan tenang dan dingin di permukaan, di bawahnya ada seorang gadis kecil yang masih mengingat dan merekam kesakitan, kesedihan, dan rasa malu luar biasa yang ia terima sejak kecil hingga dewasa. Jangan dengarkan mereka. Kamu baik-baik saja. Jangan masukkan ke hati. Saya bisa mengulangi kalimat-kalimat ini berulang-kali, tetapi sesuatu dalam diri saya tak percaya semua itu. Pengalaman hidup saya selalu mengajarkan yang sebaliknya.
Hal ini juga merembet ke dalam kehidupan percintaan saya. Kenapa sih, kamu belum juga punya pacar? Mungkin ini pertanyaan yang dilontarkan banyak orang, baik hanya untuk sekadar usil atau benar-benar peduli. Jujur, saya sendiri akan angkat topi untuk laki-laki yang dapat mengerti dan memahami insecurities saya ketika sampai pada hubungan antara saya dan tubuh saya sendiri.
***
Saya benci Hari Valentine.
Saya ingat di Hari Valentine ketika saya masih remaja dulu, seorang kawan lelaki yang saya sukai memberikan cokelat kepada saya. Saya luar biasa senang. Untuk pertama kalinya, saya merasa ada lelaki yang menyukai saya apa adanya, yang bisa melihat saya istimewa: tak peduli seberapa ukuran tubuh saya. Di penghujung hari, saya mencuri dengar bahwa ia ternyata hanya mengerjai saya. Ia menertawakan saya bersama kawan-kawannya; karena saya begitu mudah disenangkan dengan sebutir cokelat. "Mana mungkin saya menyukai Si Gendut itu," demikian ia berkata.
Untuk seorang gadis remaja yang tumbuh besar dengan menanggung cemoohan akan bentuk tubuhnya sejak masih sangat kecil, peristiwa ini bisa jadi merupakan mimpi terburuk yang pernah saya alami. Saya melihat dunia sebagai tempat yang begitu jahat, penuh tipu-daya, keji, dan tanpa belas kasihan. Meskipun kejadian itu adalah salah satu kejadian paling membekas dalam hidup saya selama remaja, kisah-kisah serupa juga pernah saya alami dengan lelaki-lelaki lain ketika saya semakin dewasa. Dan karenanya, saya tak bisa seperti perempuan-perempuan lain yang mampu berbaik sangka dengan para lelaki yang mendekati mereka. Saya tak mampu membuka diri dan menjadi vulnerable. Karena pengalaman telah menerpa saya dengan segala yang berkebalikan.
Setiap kali seseorang mendekati saya, saya selalu menjadi waspada dan curiga: apa yang ia inginkan, apa motifnya, apa rencananya kali ini kepada saya?
Itulah sebabnya, sebagai perempuan dengan insecurities, saya punya tantangan lebih ketika harus berada dalam sebuah hubungan. Ada satu hal yang perlu diketahui tentang kami: expression is not our greatest virtue. Kami tak pandai mengekspresikan apa yang kami rasakan—baik dalam bentuk kata-kata, maupun bahasa tubuh. Saya bukannya tak mau mengekspresikan apa yang rasakan kepada pasangan. Saya mau sekali. Masalahnya adalah: saya tak bisa, meskipun secara teori, saya tahu caranya.
Ketidakmampuan saya untuk mengekspresikan diri ini kemudian kerap disalahartikan oleh banyak orang. Ada yang mengganggap saya dingin, tak pedulian, judes, arogan, dan masih banyak lagi. Saya sungguh tak tahu harus bereaksi bagaimana, atau harus merasa seperti apa.
Saya menerimanya saja.
Namun ketika seseorang yang saya sayangi menyalahartikan kata-kata atau bahasa tubuh saya, saya cukup paham bagaimana rasanya. It hurts. Saya tahu, tak mudah bagi lelaki-lelaki yang hendak mendekat untuk bisa memahami tindak-tanduk saya sehari-hari. Dan saya tak menyalahkan mereka. Mereka hanya tak mengerti saja.
Seringkali, kata-kata yang keluar dari dalam diri saya bukanlah ekspresi murni dari apa yang saya rasakan—atau saya inginkan. Dan inilah yang seringkali menyebabkan salah paham. Perempuan-perempuan lain di luar sana yang—sama seperti saya—juga berjibaku dengan depresi dan insecurities setiap harinya, pasti mengerti, bahwa ketika kita mengatakan kata-kata di bawah ini, ada maksud lain yang tersembunyi di baliknya:
1. Don’t touch me!
Ini biasanya terucap ketika lelaki yang saya sukai baru sekadar menggenggam tangan atau merangkul saya secara kasual. Biasanya lelaki itu pun terkejut, mundur—mungkin juga sedikit tersinggung. Mungkin mereka merasa ditolak, atau dipermalukan. Tetapi bukan itu maksud saya.
Ketika mengucapkan kalimat tersebut, yang sesungguhnya ingin saya katakan adalah: “Saya takut. Saya tidak tahu apakah saya cukup baik untukmu. Saya tak mengerti mengapa kamu bisa menyukai seseorang seperti saya. Saya tak menyukai diri saya sendiri. Saya tak menyukai badan saya. Saya malu dengan diri saya sendiri. Maaf. Saya harap kamu mau bersabar dan menunggu hingga saya bisa merasa nyaman dengan diri saya, ketika kamu ada di sini.”
2. Saya cuma ingin sendirian.
Ada saat-saat ketika saya sedang keluar bersama lelaki yang saya sukai, dan tiba-tiba saya merasa sesak. Saya merasa terlalu banyak pikiran dan perasaan yang berkecamuk dan mengganggu pikiran saya. Saya tak bisa berkonsentrasi dalam percakapan kami, sehingga kemudian saya pura-pura sibuk dengan telepon genggam saya, atau membuka buku dan mulai membaca.
Biasanya, lelaki yang saya sukai juga akan merasa jengah. Tentunya, ia merasa bingung dan terabaikan ketika ia mengajak saya mengobrol, dan saya hanya menghela napas sambil berkata, “Saya cuma ingin sendirian.”
Beberapa lelaki akan merasa kesal dan benar-benar pergi meninggalkan saya setelah beberapa waktu, tanpa mengetahui bahwa bukan itu yang saya inginkan.
Yang sesungguhnya ingin saya ekspresikan adalah, “Tiba-tiba saja saya merasa bingung dan gamang. Pikiran saya begitu ramai dan saya tak kuasa menahan semua ini. Saya benar-benar butuh waktu sendiri untuk menenangkan pikiran-pikiran saya yang berkecamuk ini. Saya butuh waktu diam sebentar, dan saya ingin kamu menemani saya di sini selagi saya menenangkan diri.”
3. Mau nggak, ya?
“Kamu mau pergi nonton konser ini, nggak?”
Dan biasanya saya akan menjawab dengan nada ragu-ragu, “Mau nggak, ya?”
Sebagian lelaki akan menatap saya dengan pandangan skeptis. Mungkin mereka pikir saya sedang bercanda atau menggoda mereka. Tetapi sesungguhnya, saya sedang mempertanyakan rasa percaya diri saya sendiri, keras-keras.
Ketika mengatakannya, inilah yang saya maksud, “Kamu sungguh-sungguh ingin mengajak saya? Serius? Tapi, mengapa? Apakah nanti kamu tidak akan menyesal, atau berubah pikiran? Saya tak tahu apakah kamu serius atau hanya berbasa-basi saja. Jika kamu serius, tolong yakinkan saya, katakan mengapa saya harus pergi, dan mengapa kamu ingin saya pergi denganmu.”
4. Sepertinya saya harus pergi sekarang...
Kalimat ini biasanya terlontar ketika saya dan lelaki yang saya sukai tengah berada di suatu tempat yang romantis, dan suasana menjadi semakin intim. Di saat-saat seperti itu, lelaki yang saya sukai tentu terkejut ketika saya tiba-tiba saja mengatakan bahwa saya harus pergi. Ada di antara mereka yang berpikir bahwa saya ternyata tak sungguh-sungguh menyukai mereka.
Namun saya sesungguhnya sedang merasakan ketakutan yang luar biasa. Bukan, saya bukan takut akan hubungan kami yang semakin serius.
Yang tak bisa saya katakan keras-keras adalah, “Saya takut karena perasaan saya sudah semakin dalam kepadamu. Saya sudah begitu rapuh dan kini kamu bisa menyakiti saya kapan saja. Saya takut akan kemungkinan-kemungkinan itu. Saya takut akan apa yang bisa terjadi ketika hubungan kita melangkah ke tahap selanjutnya. Saya takut akan sakit hati yang lebih besar yang bisa saya alami ketika hubungan kita sudah semakin serius. Katakanlah sesuatu yang bisa membuat saya tenang, yang bisa membuat saya percaya bahwa kamu tak akan menyakiti saya.”
5. I’m leaving. Now.
Biasanya saya akan mengatakan ini dengan wajah kencang, sambil dengan lekas membereskan barang-barang saya, bangkit dari kursi, lalu bergegas menuju pintu keluar untuk memanggil taksi. Banyak orang yang tak bisa menangkap apa yang baru saja terjadi. Bukankah tadi kami sedang bicara baik-baik saja, atau bercanda, dan tiba-tiba saja saya bergegas meninggalkannya?
Dengan kalimat itu, saya ingin mengatakan bahwa, “Kamu baru saja mengatakan atau melakukan sesuatu yang melukai hati saya. Oh, kamu tak tahu, dan tak sengaja, dan tak bermaksud begitu. Tetapi ada hal-hal yang sensitif untuk saya; hal-hal yang masih menghantui saya sejak kecil hingga sekarang. Kamu baru saja mengolok-olok, meremehkan, atau mencandai hal-hal sensitif itu, dan saya tak bisa menerimanya. Ada bagian dari diri saya yang terluka dan tak bisa duduk diam di sini menahannya lebih lama lagi.”
6. Keheningan.
Terkadang, lelaki yang saya sukai menanyakan sesuatu kepada saya, dan yang ia dapatkan hanyalah keheningan. Ya, saya tak bisa menjawab. Tak mengeluarkan suara apa-apa. Mungkin saya hanya bisa menatapnya selama beberapa detik sebelum mengalihkan padangan ke tempat lain. Meninggalkan rasa canggung di udara.
Banyak orang yang menyalahartikan ini dengan ketersinggungan, ketidaksukaan, atau kemarahan. Tapi, yang ada justru sebaliknya. Dengan keheningan itu, saya berusaha mengatakan, “Kamu bisa bertanya kepada saya. Tak apa. Ini hal yang sensitif untuk saya, tetapi saya merasa nyaman karena kamu menyinggungnya dengan cara demikian. Tanyakanlah apa yang ingin kamu tanyakan lebih jauh.”
7. What are you doing today?
Ini adalah satu pertanyaan yang sangat kasual—yang mungkin bisa ditanyakan kepada siapa saja. Tetapi untuk lelaki yang saya sukai, satu kalimat ini—yang biasanya akan saya kirimkan lewat pesan singkat—punya makna yang jauh lebih dalam.
Pertanyaan itu adalah cara saya untuk mengatakan, “Saya kangen. Saya memikirkanmu, dan berpikir betapa menyenangkannya jika kamu ada di sini. I want you here.”
***
Saya ingin percaya bahwa ada lelaki-lelaki baik di luar sana.
Saya ingin percaya bahwa saya cantik, tak peduli seperti apa bentuk tubuh dan berat badan saya. Saya ingin meyakini bahwa mereka yang mengata-ngatai saya gendut(an) melakukannya tanpa niat jahat, tanpa bermaksud menyakiti. Saya ingin percaya bahwa saya hanya terlalu sensitif. Saya ingin percaya. Namun saya tidak bisa, dan saya belum tahu bagaimana caranya. Sulit rasanya menghilangkan sesuatu yang sudah tertanam sejak saya masih begitu kecil dan diperkuat lagi dengan berbagai pengalaman pahit yang pernah saya alami.
Saat ini, yang bisa saya lakukan adalah berupaya keras hanya untuk bisa bangun pagi setiap harinya, untuk bisa mandi dan berpakaian, untuk tak membenci diri sendiri setiap kali saya melewati cermin. Saya berusaha menyiapkan diri untuk menyongsong hari saya dengan lebih baik. Dengan lebih bahagia. Dengan lebih percaya diri.
Meskipun sulit, saya masih terus berupaya. Saya masih terus mencoba. Hari demi hari. Dan ketika saya melihat seorang anak perempuan kecil yang dikata-katai gendut, saya masih akan menjadi orang sengit yang menghardik siapapun yang mencemooh dan mengejeknya.