A dan saya jadi terkesan saling menghindar. Jika saya datang, ia tak datang. Jika saya tak datang, ia datang.

A, sebut saja dia begitu.

A adalah cinta pertama saya.

Jangan bayangkan ia seperti pangeran tampan dalam novel, film, atau komik-komik Jepang. Dia biasa saja. Wajahnya tegas dengan kacamata yang selalu bertengger di sana. Ekspresinya selalu tidak bersahabat. Dari awal bertemu saja sebenarnya ia sudah tidak menyenangkan. Setiap hari--bahkan sepanjang hari, kami berdebat. Pernah kami berdebat semalaman.

Entah kapan awalnya, suatu hari saya menyadari bahwa saya terlanjur menyimpan rasa pada A. Ya, saya menyukainya. Namun benar kata orang: kita menyadari keberadaan seseorang justru ketika dia tidak lagi berada di sekitar kita. Pada saat saya menyadari rasa suka saya terhadapnya, kami tidak lagi berteman. Tidak lagi menjadi sepasang 'musuh' yang selalu berdebat.

Sejak kapan tepatnya?

Entah. Saya tidak ingat. Yang saya ingat hanyalah bahwa sepanjang tahun dia tidak lagi bercakap dengan saya, tidak pula mengirim pesan-pesan tak jelas seperti yang biasa dia kirim sepanjang malam. Ia bahkan mengganti nomor teleponnya.

Bodoh, memang. Saat itu, tak berani untuk bertanya mengapa. Takut mendengar jawabannya. Akhirnya, saya cukup puas dengan mengingat hal-hal kecil tentang A. A yang selalu datang pukul 06.25, yang selalu tinggal di kelas saat jam istirahat, yang dulu meminjamkan novel kepada saya, dan hal-hal kecil lainnya.

Sering saya berpikir, apakah dia juga menyukai saya?

Setelah lulus, keadaan masih sama. Seringkali saya masih datang ke beberapa acara dengan harapan siapa tahu dia juga datang. Siapa tahu, secara 'tidak sengaja' kami bisa bertemu. Namun dia tidak pernah datang pada acara-acara tersebut. Saya hanya mendengar kabar bahwa dia melanjutkan studi di luar kota.

Selama 3 tahun, kami tidak lagi berhubungan. Namun selama itu pula, saya masih mengingat hal-hal kecil tentang dia. Hanya mendengar namanya saja saya terdiam. Terkadang saya masih mendengar kabar tentang A dari teman-teman. Teman kami banyak beririsan dan sering mengadakan acara kumpul-kumpul; namun sepertinya tidak demikian halnya dengan saya dan A. A dan saya jadi terkesan saling menghindar. Jika saya datang, ia tak datang. Jika saya tak datang, ia datang.

Saya ingat, malam itu malam Jumat. Ada ujian keesokan hari. Tiba-tiba, ada pesan masuk dari nomor asing.

"Apa kabar? Masih ingat aku?"

Ya, yang benar saja. Bagaimana bisa lupa.

Sepanjang malam A dan saya saling berbalas pesan.

Seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Selama satu minggu, A selalu mengirim pesan, karena saat itu dia sedang libur. Malam terakhir, dia bercerita bahwa selama ini ia sudah tahu bahwa saya menyukainya. Dan bukan baru tahu, namun sejak awal dia sudah tahu. Sadar.

Saat itu saya mengerti makna di balik sikap A. Saya harus tetap melanjutkan hidup. Tidak perlu lagi berharap dia juga menyukai saya. Tahun berikutnya, saya kuliah di luar kota, di Surabaya. Waktu saya habiskan untuk beradaptasi di tempat baru dan menyibukkan diri. Tebakan kalian agak benar: salah satu alasan saya menjadi semakin sibuk adalah agar semakin sedikit waktu yang saya habiskan untuk mengingat cinta pertama saya.

Beberapa bulan yang lalu, saya pulang ke rumah setelah berlama-lama sibuk di Surabaya. Sudah lama juga saya tidak masuk kamar yang saat sebelum kuliah dulu menjadi temapat bersemedi paling asyik. Tangan saya sibuk menggeledah isi meja. Terdapat sebuah kotak di sana, warna-warni dibungkus sangat rapi. Saya pikir itu kado ulang tahun saya tahun lalu. Saya buka kotak itu. Berisi novel karya seorang penulis yang setiap terbitan bukunya selalu saya beli. Ada notes kecil warna merah di belakang sampul buku itu. Tulisannya:

' Thx. Terimakasih.'

Saya kenal betul tulisan tersebut. Tulisan saya sendiri. Ternyata buku ini pernah saya maksudkan untuk diberikan kepada A, karena kami memang menyukai penulis yang sama. Seketika saya tersenyum. Bukan karena saya masih terkenang A, hanya saja saya jadi ingat betapa saya dulu pernah menyukai dia.

Sekarang, saya dengan mudah dapat mengirim pesan tidak penting padanya, selayaknya sepasang sahabat lama. Kami sibuk menjalani hidup masing-masing dan saya tidak lagi sibuk mengingat hal-hal kecil tentang dia. Saya bahagia, namun bukan lagi dengan A yang dahulu menjadi impian saya. Dan itupun tak mengapa.

Saya memang tak mendapatkan A seperti yang saya inginkan, tapi saya mendapatkannya kembali sebagai seorang sahabat. Hidup terkadang adil dalam cara-cara yang tak kita mengerti.