Tahukah kamu berita terbaru mengenai Angela Merkel yang melarang penggunaan burka di Jerman? Seperti dilansir telegraph.co.uk, Angela mengatakan, “The full veil must be banned, wherever legally possible. Showing your face is part of our way of life.”

Berita ini cukup mengguncangkan saya. Saya selalu berpikir bahwa Jerman adalah negara dengan penduduk yang cukup terbuka terhadap orang asing. Perlahan kepercayaan ini luntur, dan ketakutan mulai datang.

Di tahun yang akan datang, saya berencana untuk tinggal selama satu tahun di Jerman. Saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi au pair di negara yang pernah kalah perang dunia tersebut. Bukan dengan mudah saya meraih kesempatan ini. Saya harus berjuang untuk mendapat keluarga yang cocok dengan saya.

Perjuangan mencari keluarga ini bukan perkara mudah. Saya selalu ditolak ketika mengajukan diri. Kemudian, terbersit di pikiran saya, penolakan tersebut dikarenakan kerudung yang saya kenakan. Saya ingin sekali mendapat kesempatan ini, hingga saya mengutarakan keinginan saya untuk melepas kerudung kepada keluarga dan beberapa teman.

Awalnya, saya hanya ingin menguji, apakah pemikiran saya benar atau salah. Beberapa hari setelah saya melepas kerudung dan menganti foto profil saya dengan yang baru, sebuah keluarga menghubungi saya dan meminta saya untuk menjadi au pair-nya. Ini pertama kalinya ada sebuah keluarga yang menghubungi saya terlebih dahulu. Asumsi saya terbukti. Kerudung mempengaruhi penilaian keluarga-keluarga di Jerman mengenai saya.

Saya menanyakan kepada calon induk semang saya di Jerman mengenai pendapat mereka tentang Muslim dan mereka menjawab bahwa mereka bisa hidup damai dengan para Muslim di sana. Akan tetapi, mereka menambahkan bahwa mereka tidak ingin memiliki au pair yang berkerudung.

Saya tidak munafik. Saya akan menempuh jalan apapun agar mendapat kesempatan ini dan jika melepas kerudung adalah salah satunya, maka saya bersedia. Saya semakin mantap untuk melepas kerudung saya.

Saya membaca beberapa artikel mengenai kehidupan muslim di Jerman dan juga Eropa pada umumnya. Beberapa Muslim berkata bahwa mereka baik-baik saja dan dapat beradaptasi dengan nyaman. Namun, beberapa artikel mengatakan bahwa mereka mengalami perundungan. Saya juga membaca beberapa artikel yang ditulis oleh masyarakat Eropa mengenai kekesalan mereka terhadap para Muslim. Membaca semua ini membuat saya ketakutan.

Saya takut menjadi minoritas dan mengalami perundungan.

Saya baru menyadari ketakutan menjadi minoritas yang membayangi diri saya. Hal ini juga yang menggugah kesadaran saya mengenai minoritas di Indonesia. Saya berpikir, 'Mungkin ini yang mereka rasakan. Menjadi minoritas dan menghadapi ketakutan akan perundungan.'

Di Indonesia, saya tidak pernah sekalipun merasa menjadi minoritas. Saya selalu merasa 'aman' ketika beribadah maupun berhariraya. Akan tetapi, saya tidak yakin apakah saya akan mendapat perasaan aman tersbeut bila saya mengenakan kerudung di Jerman. Beradaptasi dengan cuaca saja sudah cukup membuat saya sedikit gemetar, apalagi bila saya harus mengalami perundungan.

Saya mengira, minoritas di Indonesia juga terkadang merasa takut mengenakan pakaian dan ornamen hari raya mereka masing-masing. Takut terjadi sweeping atau takut menjadi bahan gunjingan di jalan.

Saya baru menyadari bahwa ketakutan ini membuat para minoritas semakin berusaha untuk menjadi sama: menjadi sama dengan mayoritas yang menguasai penilaian di Indonesia. Mereka berusaha agar tidak dikenali sebagai minoritas; seperti yang saya lakukan dengan melepaskan kerudung.

Ketakutan ini juga yang mendorong para minoritas untuk melindungi diri dengan berbagai cara. Membangun pagar tinggi, memelihara hewan penjaga, dan melengkapi rumah ibadah dengan sistem keamanan. Siapa yang berani menjamin keselamatan mereka, jika para mayoritas mulai mengamuk? Mereka harus berjuang demi keselamatan diri sendiri.

Mungkin ketakutan ini tidak dialami semua minoritas di Indonesia (semoga), tetapi saya yakin ada yang mengalaminya.

Seperti saya, menjadi minoritas di sebuah negara bukanlah pilihan mereka. Bila kemudian terpaksa menjadi 'sama' dan 'seragam' akan membuat hidup saya lebih mudah, saya akan melakukannya.

Bila diperkenankan memohon kepada Yang Maha Kuasa, tentu saya akan memohon untuk dapat hidup damai dan tenteram dimanapun saya berada.

Saya akan memohon supaya tidak ada perbedaan yang cukup kuat untuk dijadikan alasan menyakiti orang lain. Karena takut menjadi berbeda adalah hal yang menyedihkan--ketika dunia ini diciptakan begitu kaya dan indah, penuh dengan keragaman.

Namun, mungkin terkadang, kita memang perlu berada di posisi sebaliknya; untuk bisa sungguh-sungguh mengerti bagaimana rasanya takut berbeda, lalu terpaksa menjadi sama.