Bagaimana bisa melupakan masa lalu tanpa harus mematikan rasa? Rasa yang disangka sudah hilang setelah bertahun-tahun berpisah, bisa menyelinap kembali. Dan 'rasa yang pernah ada' itu hadir lagi.
Bertemu dengan seseorang dari masa lalu bukanlah tidak mungkin menjadi harapan yang terpendam. Meskipun, kita tahu nantinya pertemuan tersebut bisa menghadirkan kondisi yang mungkin saja, membuat kedua belah pihak kembali bermain rasa.
Bahagia, marah, sedih dan bingung mungkin hadir ketika dua insan dari masa lalu bertemu kembali, baik disengaja ataupun tidak. Namun, rasa yang paling bermain di hati adalah rasa penasaran.
Bagaimanakah dia saat ini?
Masih sendiri atau sudah berpasangan?
Dan diikuti pertanyaan-pertanyaan lain yang seakan tak ada habisnya.
Yang paling tidak disangka adalah apabila suatu pertemuan biasa berakhir menjadi luar biasa.
Rasa yang disangka sudah hilang setelah bertahun-tahun berpisah, bisa menyelinap kembali. Dan 'rasa yang pernah ada' itu hadir lagi.
Dalam perjalanannya, akhirnya dua insan bisa saja kembali memadu kasih. Bersama melemparkan ingatan ke masa-masa indah yang dahulu pernah terlewati.
Namun, harapan untuk kembali bersama selamanya, bisa jadi pula, hanya tinggal harapan. Setelah lama berpisah, kedua insan mungkin menemukan satu sama lain dalam kondisi yang tidak memungkinkan. Yang satu mungkin sudah memiliki pasangan, atau keduanya terpisah jarak, dan masih banyak alasan lainnya.
Ada kalanya, keinginan kedua insan untuk mendobrak segala halangan yang merintang sangatlah kuat, sehingga tali perpisahan terus-menerus diulur.
Namun, ternyata hati bisa juga merasa lelah. Saat menyadari bahwa hubungan hanya berjalan di tempat tanpa terlihat adanya jendela masa depan, logika mulai bermain.
Untuk apa dipertahankan?
Mengapa harus sekarang?
Apa arti semua ini?
Dan berjuta pertanyaan menyelimuti diri, tanpa satu pun jawaban yang bisa dimengerti oleh hati.
Akhirnya ketika tiba waktunya keputusan besar diambil, sesaat sepertinya mudah mengatakan sesuatu yang selama ini dibiarkan terpendam. Namun pada kenyataannya, ketika kata-kata sudah siap untuk meluncur, malah seringkali terhambat oleh pikiran-pikiran dan egoisme sendiri.
Berusaha menghentikan rasa yang ada dengan sangat terpaksa membuat sakit yang tak berkesudahan.
Ingin rasanya melupakan segala rasa yang pernah ada, tapi anehnya, segala sesuatunya menguat. Padahal kedua insan sadar bahwa kesedihan sudah pasti datang, dan kebahagiaan untuk kembali bersama hanya angan-angan.
Diam sejenak, tertawa bersama, berjalan di keramaian, pergi ke tempat yang menawarkan keindahan adalah beberapa hal yang bisa dilakukan untuk sekadar melupakan.
Namun, melupakan tak berarti mematikan rasa.
Sampai saat ini pun, banyak insan tak dapat menjawab ketika hati dan logika berbenturan di tengah jalan. Lantas, mana yang harus kita dengar?