Air mata bergalon-galon bertumpahan setiap hari selama beberapa minggu. Saya datang kuliah dengan mata bengkak seperti habis dipukuli. Hidup terus berputar, dan saya balas dendam dengan melakukan hal-hal anak muda liar yang dia tidak sukai, seperti pergi clubbing, mabuk-mabukkan, dan lainnya. Lalu suatu hari, saya memiliki seorang kekasih kembali. Tapi saya bukanlah si pecinta.
Dahulu kala saya adalah seorang pecinta. Pecinta yang dengan bodohnya membuka segala relung hati dan pikiran, jiwa dan raga, dalam suka maupun duka kepada dia yang dicinta. Masalahnya, dia yang dicinta tidak mau mendengar segala relung hati dan pikiran saya, meski saya selalu siap sedia menjadi batu labuhan mereka, satu persatu.
Mereka yang saya pikir mencintai saya dengan tulus kini saya sadari hanya mencari keuntungan di tengah keramaian 'sudah punya pacar belum'. Tentu ada rasa sayang, namun bukan seperti yang saya harapkan. Dua kali saya benar-benar mencinta dan dua kalinya saya dikecewakan. Namun ketika itu saya masih berusia 16 tahun sehingga harapan saya masih tinggi.
Datang seorang lelaki dengan latar belakang bertolak belakang, baik dari segi usia, agama, pergaulan, ekonomi, gaya hidup, dan keturunan. Dia mengubah saya dari seorang anak kecil menjadi seorang artis yang bisa dengan bebas berkelana sekeliling kota Jakarta, bahkan ke luar kota Jakarta seorang diri. Tidak lagi tergantung sopir dan mobil, tidak lagi meminta-minta uang jajan setiap hari, dan tidak lagi menurut kepada orang tua sepenuhnya. Karena mereka ingin kami berpisah, namun kami saling mencinta.
Beberapa tahun berlalu sejak pertama kali kita bertemu, ternyata agama menjadi isu yang tidak dapat kami hindari lagi. Ia mengambil langkah berat untuk mengakhiri kisah cinta itu. Dalam hati kecil saya sebenarnya sudah membisikkan hal ini akan terjadi cepat atau lambat. Saya bagai berjalan meniti benang di atas salju. Tapi hati saya tidak terima.
Air mata bergalon-galon bertumpahan setiap hari selama beberapa minggu. Saya datang kuliah dengan mata bengkak seperti habis dipukuli. Hidup terus berputar, dan saya balas dendam dengan melakukan hal-hal anak muda liar yang dia tidak sukai, seperti pergi clubbing, mabuk-mabukkan, dan lainnya. Lalu suatu hari, saya memiliki seorang kekasih kembali. Tapi saya bukanlah si pecinta.
Hilanglah di tengah udara saya-si-pecinta yang dengan tulusnya mengikuti arus tawa sang kekasih, menatap berbinar-binar, dan menghayati setiap ciuman mesra. Saya-si-pecinta tak pernah kembali, karena setiap lelaki yang ditemui selalu meminta lebih, menuntut ini itu, atau sekadar tidak menatap saya sebagaimana saya-si-pecinta dulu menatap kekasih-kekasih saya.
Hingga suatu hari muncul seorang pecinta yang menatap saya dengan terkagum-kagum. Saya yang sudah dingin, jutek, judes, jerawatan, dan sedang tidak ingin bermain-main, ditatap dengan tulus sembari didengarkan kisahnya. Kisah saya-si-pecinta yang sudah padam dan habis sumbunya, hanya diberi satu jawaban olehnya,
"It's not your fault."
Si pecinta ini menerima saya apa adanya, tanpa membuat saya merasa malu atau bersalah, malah membuat saya merasa utuh. Dia, si pecinta ini, akhirnya saya nikahi. Karena jika satu lilin padam tetapi hadir sebuah lilin lainnya, maka lilin yang padam itu bisa bersinar kembali ketika lilin yang menyala membagikan apinya.
"Apakah kamu mau mencintai atau dicintai?"
Kata-kata dari suatu film itu terngiang-ngiang di hati saya karena saya pikir pasangan yang sejati bisa mencinta satu sama lain sama besarnya. Mungkin. Mungkin juga tidak. Tetapi cinta yang tulus tidak menyerah. Ia juga tidak mengambil keuntungan, menjelek-jelekkan, mengabaikan, menyiksa, dan sebagainya.
Jadi, tuluskah cinta saya selama ini? Mungkin.
Yang pasti, jika sekarang harus memilih, saya pilih untuk lebih dicintai daripada mencintai. Untuk saya, ini lebih baik daripada harus hidup mencintai tanpa dicintai sedikitpun. Bukankah lilin yang terus menerus membakar dirinya sendiri lama-lama akan padam dan mati juga ketika habis sumbunya? Bukankah satu-satunya cara lilin itu bisa menyala kembali adalah dengan mendapatkan sumbu baru dan nyala api dari lilin yang lain?
Dengan percik-percik cinta yang diberikan kepada saya itulah, saya masih terus berharap dan mencoba agar suatu hari nanti saya tak perlu lagi memilih untuk mencintai atau dicintai. Karena jika keduanya bersumber dari nyala api yang sama, bukankah keduanya, sesungguhnya, adalah satu?