Ditulis oleh Putri Widi Saraswati untuk #KamaProject #tentangAyah untuk Hari Ayah Internasional.

TENTANG MEY

Seorang anak perempuan, sekitar dua atau tiga belas tahun usianya, iseng membuka kotak masuk SMS di ponsel milik Papanya yang tergeletak tanpa penjagaan sang empunya. Di dalam folder itu, ada sederet SMS dari satu nomor dengan nama “Mey” (or something like that – she doesn’t really remember). Salah satu SMS dibukanya.

Isinya menyapa mesra dengan panggilan “Abang”, minta dibawakan makanan ke rumah, menanyakan kapan pulang. Jemari anak itu lalu bergegas menuju folder kotak pesan keluar. Lalu menemukan balasan. Kepada Mey. Bunyinya, menjanjikan membawa makanan dan menanyakan, Mey sudah makan?

“Mey”. Jelas bukan nama Mamanya.

Saya masih ingat, saya sempat ingin diam-diam mencatat nomor itu. Tujuannya, supaya suatu hari saya bisa mengirim SMS dengan nomor lain – yang bukan nomor saya atau nomor Papa atau nomor siapa saja. Misalnya, SMS berbunyi, “Heh, ngapain kamu SMS begitu ke Papa saya? Kamu siapa? Nggak tahu diri.” Semacam itulah. Atau, sekadar mengata-ngatai dengan beberapa makian yang cocok – oh, I knew some. I was a smart kid, too. I knew about black mailings.

Tapi saya tidak jadi melakukannya. Entah kenapa. Mungkin karena saya merasa bersalah sudah diam-diam membuka ponsel orang lain tanpa izin – sesuatu yang melanggar privasi, kelakuan yang dibenci Mama saya. Mungkin karena, lebih dari membuat marah, SMS-SMS itu lebih banyak menimbulkan kebingungan bagi saya. Akhirnya saya tutup ponsel itu, dan saya tetap tutup mulut untuk seterusnya.

PERCERAIAN

Bertahun-tahun setelahnya, setelah orangtua saya bercerai, Papa mengajak saya “bicara serius” dalam sebuah perjalanan naik mobil di malam hari. Dia bercerita bahwa dia sudah menikah lagi, dan sudah punya dua anak perempuan selain saya dan adik saya. Yang paling tua, usianya lebih tua dari usia perceraian Papa dan Mama.

Saya bilang, ya, saya sudah tahu. Papa tampak kaget. Bicaranya langsung menjadi lebih ragu-ragu dari sebelumnya. Papa bertanya, tahu dari mana? Jawab saya, ya, pokoknya tahu. Dari mana, itu tidak penting. Saya sudah tahu, kata saya, dan saya bisa mengerti.

Sepanjang pembicaraan itu, saya tidak menatap mata Papa. Meski saya sadar, butuh keberanian besar dari Papa untuk menyampaikan hal itu pada saya. Wajahnya menunjukkan itu. Begitu juga nada suaranya. Dan caranya bercerita. But I just felt like, no, no big deal. Bukan masalah besar. Saya memang sudah tahu, kok, sudah tahu sejak lama malahan – apa bedanya? Shit happens, anyway.

Saya tidak pernah jadi tipe orang yang bisa mengatakan dengan rileks, “I love you¸ Papa.” Atau “Aku sayang Papa.” Rasanya aneh mengucapkan kata-kata itu. Saya juga tidak pernah nyaman memeluk atau menggelendot pada Papa, seperti yang suka dilakukan anak-anak perempuan lain yang gemar bermanja-manja pada ayah mereka biarpun sudah dewasa.

They say, daddies are their daughter’s first love. Tapi Papa tidak termasuk.

Saya tidak punya satu pun foto Papa di ponsel atau laptop saya – itulah mengapa tulisan ini tidak ada ilustrasinya.

AMY WINEHOUSE

Sebelum menulis tulisan ini, saya baru saja menonton film dokumenter Amy Winehouse yang berjudul “AMY”. Amy Winehouse adalah seorang penyanyi jazz dari Inggris yang sangat berbakat, sampai-sampai musisi selevel Tony Bennett sangat memujinya. Amy meninggal di usia muda karena overdosis alkohol. Sejak awal masa remaja, Amy memiliki kecenderungan depresi. Sepanjang kariernya, Amy bergulat dengan kecanduan alkohol, bulimia, narkotika, dan hubungan cinta yang destruktif.

Dalam satu rekaman wawancara dengan mantan kekasihnya, lelaki itu bercerita bahwa, di awal hubungan mereka, ia pernah bertanya pada Amy, mengapa Amy mencintainya dengan begitu membabi buta. Membabi buta yang cenderung ke arah penghancuran. Why did their love become like that?

Amy menjawab, ada hubungannya dengan apa yang ia rasakan tentang ayahnya. Ayah Amy, yang meninggalkan keluarga mereka untuk perempuan lain saat Amy masih kanak-kanak, yang saat masih bersama-sama mereka pun sering 'ada tapi tidak benar-benar ada', yang berasumsi bahwa setelah kepergiannya, Amy sepertinya merespon dengan baik-baik saja.

Saya menonton adegan itu, dan bertanya dalam hati, “Dude. Why the heck I feel like I can relate to that?” Saya pun pernah berada dalam hubungan cinta yang destruktif. Saya pernah mencintai seseorang – atau lebih tepatnya, tergantung pada seseorang – seolah-olah laki-laki itu adalah orang terakhir di bumi ini, seolah-olah dunia akan kiamat jika ia pergi. Saya pernah melakukan percobaan bunuh diri.

Tentu saja, Papa tidak (perlu) tahu itu semua. What you don’t know won’t hurt you. I hope.

TENTANG PAPA & MAMA

Sepanjang sebagian besar masa kecil saya, Papa dan Mama berada dalam situasi perang dingin. Tidur satu rumah, tapi pisah ranjang. Papa tidur di sofa di lantai bawah. Kalau salah sedikit saja, perang mulut besar-besaran bisa terjadi. Di saat-saat seperti itu, saya akan melakukan salah satu di antara hal-hal berikut: 1. Mengunci diri di kamar seperti tidak ada apa-apa. 2. Menangis. 3. Ikut berteriak-teriak. 4. Poin 1 sampai 3 sekaligus. Waktu masih kecil dan naif, saya sangat takut mereka bercerai. Waktu sudah lebih besar, saya ingin mereka bercerai.

Ketika saya kuliah, dan satu tahun pertama setelah lulus ketika gaji masih pas-pasan, saya beberapa kali kehabisan uang. Saya tidak berani meminta pada Mama – yang selalu strict soal hal-hal seperti itu. Jadi, pada keadaan kepepet, akhirnya saya selalu mengirim SMS pada Papa. Dengan berbagai alasan. Papalah yang akan selalu mentransfer uang ekstra itu ke rekening saya. Bagaimanapun kondisi keuangannya saat itu.

Papa saya adalah seorang yang (kelewat) pragmatis, dan lemah soal manajemen uang atau waktu. Mungkin itulah yang menyebabkannya tidak cocok dengan Mama, yang koleris dan sangat efektif bin efisien – di luar entah apa aja yang mereka lakukan pada satu sama lain. Papa saya lambat mengambil keputusan, tapi loyal, mudah bergaul, punya harga diri tinggi, dan selalu berkata bahwa ia rela habis-habisan kalau ada orang yang menjahati anak-anaknya. Beberapa tante saya bilang, saya anak kesayangan Papa. Kalau terjadi apa-apa pada saya, Papa 'bisa mati'.

Saat ini, usia Papa 61 tahun. Dia masih punya beban: kedua adik tiri saya, usia SMP dan TK. Papa berkali-kali minta maaf karena ia tidak akan sanggup membiayai kalau saya ingin sekolah lagi setelah meraih gelar dokter ini. Papa tidak bisa berhenti merokok. Dan pekerjaannya sebagai arsitek mandiri tidak selalu lancar.

Kadang, saya khawatir jika memikirkan Papa.

Saya tidak marah pada Papa. Tidak lagi. Istri Papa, “Mey”, adalah orang yang baik. Adik-adik tiri saya juga anak-anak manis, yang saya sayangi. Saya tahu dan bisa melihat, bersama mereka Papa bahagia. Lebih bahagia daripada semasa di rumah dulu.

Papa adalah Papa saya. Papa bukan bekas Papa saya. My father was a cheater, once. Saya sudah memaafkannya untuk itu. Tapi kadang, saya bingung. Bagaimana caranya menemukan pengganti kata-kata “I love you” itu untuk Papa?

Bagaimana?

***

Silakan ikuti blog Putri di sini.