Sebelummenyalahkan Tuhan atas kejadian-kejadian yang menimpamu, perlahan bertanyalah kepada dirimu sendiri, "Apakah selama ini saya sudah menjadi umat-Nya yang baik?"

Mengapa kita lebih mudah menyalahkan, menuntut orang lain berubah, daripada memperbaiki dan memantaskan diri?

Sebab selama ini, ketika ada masalah, kita terlatih untuk menyalahkan orang lain, daripada menengok diri sendiri. Terlatih untuk menghakimi apapun asalkan di luar diri, daripada menilai gejolak di dalam diri. Selain itu, ada rasa puas ketika seseorang berubah karena tuntutan kita. Kita merasa berkuasa atas dirinya. Di sinilah ego menjadi majikan kita.

Jadi ketika ada masalah, kita tergesa mencari orang lain untuk dijadikan kambing hitam. Kita membebaskan diri dari kesalahan, dan lepas tanggung jawab atas permasalahan yang terjadi. Tak terasa kita membangun masyarakat yang makin giat untuk menyalahkan orang lain, tapi malas untuk memperbaiki diri.

Di sebuah sesi seminar motivasi, seorang wanita mendengarkan pembicaranya, "Kalau kamu ingin mengendalikan hidupmu agar sesuai keinginanmu, cukup dengan kuasai orang-orang di sekitarmu supaya mengikutimu. Kamu yang memegang kendali, kamu yang benar. Selain kamu, salah."

Keesokan harinya, wanita itu pergi ke kantor, bertemu rekan kerjanya yang tidak setuju dengan gagasannya. Ia teringat seminar kemarin yang ia ikuti. Dengan berbagai jurus, ia menekankan bahwa ketidaksetujuan rekan kerjanya itu salah. Gagasannyalah yang benar.

Rekan kerjanya itu langsung terlihat sangat bimbang dan akhirnya menyetujui gagasannya sambil berkata, "Memang gagasanmu benar, saya yang salah."

Wanita itu menjemput salah satu anaknya pulang sekolah, "Nak, nilaimu turun ini pasti gara-gara kamu terlalu sering bermain, tapi malas belajar. Mulai besok ibu mau menambah jam les buat kamu, supaya nilaimu bagus."

Anaknya berkata, "Tapi, Bu ..."

"Sudahlah, kesalahanmu adalah rajin bermain, malas belajar."

Setelah berhasil berturut-turut menerapkan hasil seminar, ia bertemu suaminya sepulang kerja.

"Pa, akhir-akhir ini Papa sering marah-marah ke Mama! Padahal Papa yang sala!" bentaknya, "Naruh kunci mobil sembarangan, pas nyari, bingung, Mama yang kena marah. Jadi orang itu yang sabar, Pa .."

Tentu saja suaminya terpancing kemarahannya. Begitu tiba-tiba istrinya memberikan petuah kepadanya. Tapi daripada bertele-tele, suaminya memilih mengalah, dan berkata dengan singkat padat dan jelas, "Ya..."

Wanita itu mencoba ilmu yang ia dapatkan di seminar kepada kucing peliharaan di rumah. Ketika kucingnya semena-mena naik sofa kesayangannya dan mendekati tas mahalnya, ia menyalahkan kucing itu dan mengancamnya tidak diberi makan seharian. Akan tetapi si kucing cuma berjalan pelan meninggalkannya. Entah, kucing itu tidak tahu atau sebenarnya tahu tapi tidak peduli.

Selang beberapa waktu, kantor tempat ia bekerja tutup karena kondisi ekonomi negara, anaknya malas sekolah, suaminya pulang kerja larut malam dan sering diam .. wanita itu juga merasa ada yang salah dengan dirinya. Tapi ia lalu teringat nasehat yang ia terima waktu seminar. "Saya yang memegang kendali, saya yang benar," katanya dalam hati penuh keyakinan.

Tapi ia dilanda kebingungan.

Siapa yang bisa ia salahkan atas semua keadaan pahit yang menimpanya?

Sebagai jurus pamungkas, ia menyalahkan Tuhan.

Kita belajar bersama dari cerita ini.

Kalau kita adalah seorang ibu, di tengah kesibukan kita menyalahkan anak-anak kita, perlahan bertanyalah kepada diri kita sendiri, "Apakah selama ini saya sudah menjadi Ibu yang baik untuk anak-anakku?" Begitupun sebaliknya.

Kalau kita adalah seorang suami, di tengah kesibukan menyalahkan istri kita, perlahan bertanyalah kepada diri kita sendiri, "Apakah selama ini saya sudah menjadi suami yang baik untuk istriku?" Begitu pun sebaliknya.

Sebelum tergesa menyalahkan sahabat kita, perlahan bertanyalah kepada diri kita sendiri, "Apakah selama ini saya sudah menjadi sahabat yang baik?"

Kalau kita sering menyalahkan anak buah kita, perlahan bertanyalah kepada diri kita sendiri, "Apakah selama ini saya sudah menjadi atasan yang baik untuk anak buahku?"

Dan sebelum kita menyalahkan Tuhan atas kejadian-kejadian yang menimpa kita... perlahan bertanyalah kepada diri kita sendiri, "Apakah selama ini saya sudah menjadi umat-Nya yang baik?"