inar paling terang masuk melalui lubang besar dan dalam. Tapi lubang itu hanya bisa dibuat jika kita "mengizinkan" diri terluka, dengan ikhlas.

Terkadang, dalam hidup kita dipaksa untuk menelan pil pahit yang bernama penolakan. Terlebih lagi ketika kita tidak siap untuk menerima hal tersebut.

Saya merasakan pahitnya penolakan 2 kali dalam 2 bulan berturut-turut. Satu dari segi rasa, satu lagi dari ikhtiar mencari pekerjaan baru.

Penolakan pertama yang saya terima adalah dari segi rasa. Ya, saya mencintai orang yang tepat di waktu yang salah. Mungkin itu definisi yang paling menghibur di kala itu. Entah cara saya yang dianggap "brutal" atau memang sudah sepatutnya ini jalan yang mesti saya tempuh. Dalam kasus saya, memang tidak pernah ada kata "tidak" atau "maaf" secara langsung dihadapan saya. Namun dari gerak-gerik tubuh serta arti di balik kata-katanya yang coba saya terjemahkan, saya tahu dan saya paham. Penolakan itu telah terjadi.

Seolah belum cukup pahit, saya dipaksa menelan pil penolakan yang kedua. Di tengah porak-porandanya batin karena penolakan rasa, dan kondisi yang belum sepenuhnya "kebal" dari pahitnya pil pertama, saya menghadapi penolakan berikutnya dari sisi pekerjaan. Sontak, itu mengagetkan saya.

Pada saat itu, saya cuma bisa marah kepada hidup. Saya benci keadaan saya. Saya memutuskan untuk "marah" kepada Sang Pencipta dengan menghentikan semua rutinitas doa yang biasa saya jalankan, sambil saya berucap dalam hati: "Baiklah, saya menyerah".

Satu hari, dua hari, tiga hari, kondisi batin saya tidak juga membaik. Semua terasa salah. Bahkan saya pernah tak sengaja berbicara dengan salah satu kolega kantor saya dengan nada yang tidak pernah saya keluarkan sebelumnya. Hal ini terus berlangsung menyiksa sampai beberapa hari setelahnya.

Sampai pada suatu hari, saya menerima sebuah pesan singkat di Whatsapp dari seorang teman. Ia menanyakan keadaan saya. Pada saat itu saya membalas pesan kawan saya dalam kondisi yang sangat amat rapuh. Sehingga sesampainya di depan pintu apartmen saya, saya berubah pikiran dan naik ke rooftop untuk menangis sendirian.

Saya capek.

Saya benci akan hidup saya.

Dan saya marah.

Entah berapa lama waktu terbuang di rooftop itu. Saya menumpahkan semua kekesalan dan sublimasi masalah yang menumpuk selama setahun belakangan. Sesuatu yang selama ini coba saya tutupi dengan baik: luka demi luka yang saya "kira" sudah sembuh, tapi ternyata luka tersebut sudah merusak jaringan terkecil dalam sel hidup saya.

Saya "meledak" dalam kepingan yang tak terdefinisikan lagi sakitnya.

Setelah puas, saya turun kembali ke rumah, mandi, dan tidur. Bberharap semoga saya masih punya kesempatan untuk "membayar" semuanya.

Beberapa hari setelah "ledakan" tersebut, mata hati saya pun terbuka. Saya sadar, bahwa penolakan yang saya terima mungkin merupakan pertanda agar saya lebih keras berdoa. Penolakan yang saya terima mungkin ujian untuk saya naik kelas. Penolakan yang saya terima mungkin hanya jawaban yang ditunda demi sesuatu yang lebih baik.

Segera setelah itu, sayapun memutuskan untuk memutar cara pandang saya 180 derajat menjadi lebih baik. Saya bertobat, dan saya melakukan detoksifikasi rasa agar dapat melihat lebih jernih, mendengar lebih banyak, dan merasa secukupnya.

Hikmah yang saya dapat dari penolakan pekerjaan adalah: mungkin saya tengah disiapkan untuk menerima sesuatu yang lebih besar.

Lagipula tidak ada alasan untuk saya berpindah kerja sebetulnya. Saya hanya merasakan kebosanan, keletihan yang luar biasa, kebencian dengan sesuatu yang disebut "rutinitas". Dan saya merasa saya perlu pembuktian kepada orang tertentu bahwa saya, bisa lompat ke tempat yang lebih "baik" menurut pandangan mereka.

Ya, saya telah kehilangan "saya" di tengah proses yang saya jalani, Sepicik itulah alasan saya kala itu. Maka wajar jika ternyata saya belum diterima. Dalam kasus ini, saya memilih mengikuti ego dan gengsi, bukan karena saya memang perlu pindah kerja untuk suatu alasan yang lebih mulia.

Saya pun belajar bahwa kesuksesan saya bukan diukur dari berapa nominal uang yang saya bawa pulang. Bukan prestise di mana saya bekerja. Tapi kesuksesan adalah ketika pekerjaan tersebut bisa membuat saya tenang dalam menjalaninya. Ketikaa saya tidak perlu membuktikan kredibilitas saya kepada siapa pun. Kesuksesan itu subyektif bagi tiap individu, bukan sesuatu yang absolut.

Mengenai penolakan rasa, sampai detik ini, saya hanya merasa kalau rasa ini memang perlu "ditunda".

Saya tidak membenci orang tersebut, tapi saya juga tidak bisa bohong. Saya tidak baik-baik saja. Namun, untuk yang satu ini, saya hanya bisa memberi ruang kepada waktu untuk menemukan jalannya sendiri.

Untuk kita semua yang mengalami rangkaian penolakan, terutama di saat kita sudah YAKIN bahwa keberuntungan ada di pihak kita, dan usaha kita telah begitu maksimal: jangan jatuh terlalu lama. Cepatlah bangkit untuk segera menata hati, menyembuhkan luka, dan kembalilah berjuang untuk menggapai sesuatu yang lebih besar.

Percayalah akan kekuatan doa, keikhlasan, keajaiban, dan usaha. Bukalah mata dan hati kita lebih lebar, untuk menyongsong cahaya baru yang tengah masuk melewati sebuah lubang yang bernama penolakan. Karena suatu hari, kita akan berterima kasih atas penolakan-penolakan yang telah kita alami--yang membawa kita ke tempat yang lebih baik dari yang bisa kita bayangkan saat ini.