Ketika bicara cinta, kerapkali kita bicara tentang “The One”. Orang yang seyogyanya membuat kita jatuh cinta selamanya, yang layak diperjuangkan, dan – bagi banyak budaya di dunia – yang harus kita ajak mengarungi samudera pernikahan bersama. Bagi saya, bicara mengenai The One maka pada dasarnya kita bicara tentang ilmu cinta – love science – di mana, seperti halnya ilmu pengetahuan, kita mencari jawaban atas sebuah pertanyaan melalui serangkaian percobaan.

Saya adalah satu dari miliaran orang yang beruntung karena telah menemukan “orangnya” beberapa tahun yang lalu. Saat ini saya sudah 5 tahun lebih menikah dan dikaruniai dua orang anak perempuan yang (alhamdulillah) lucu-lucu. Saya juga menikahi sahabat saya, yang sudah saya kenal lebih dari setengah hidup saya, sehingga kadang saya mendapat pertanyaan-pertanyaan tentang hubungan dan pernikahan dari teman dan kenalan.

Dan dengan segala keterbatasan saya dan pengalaman saya dalam berhubungan, boleh ya, saya berbagi beberapa pertanyaan tersebut dengan kawan-kawan di sini…

• Tahu dari mana sih, dia itu “the one”?

• Terus, dari mana kita tahu dia itu “the one”?

• Terus, bagaimana kita tahu kalau dia itu “the one??

Yah, demikianlah, pertanyaan-pertanyaan tersebut bunyinya kurang lebih sama… Dan jawaban saya juga kurang lebih sama. I just knew.

Saya tahu bahwa Ei adalah teman hidup saya karena bahkan setelah kami menjalani banyak hal yang mengungkapkan sifat-sifat jelek saya, dan sifat-sifat jeleknya, ternyata kami masih memutuskan bahwa ternyata I love this other person just the same – if not more. Bukannya kami tidak sebal dengan satu sama lain. Sungguh, kadang rasanya saya ingin lari dan teriak sekencang-kencangnya; dan saya yakin, Ei juga mungkin ada rasanya ingin membentak saya. Tapi kami memutuskan untuk tidak melakukan itu, dan mencari jalan tengah yang (paling tidak) tidak membuat kami ingin menyakiti satu sama lain.

Hal lain yang membuat saya tahu bahwa Ei adalah “The One” juga mungkin adanya “ujian-ujian” dalam hubungan kami yang berhasil kami lalui dengan cukup baik. Dalam periode 4 tahun pacaran, 3 tahun di antaranya kami lalui dengan jarak jauh. Ada waktu 6 bulan Ei kerja praktek di Jerman, 2 tahun saya kuliah di Swedia, dan 6 bulan sebelum menikah yang dihabiskan oleh Ei di Batam. Selama jarak memisahkan kami, cobaannya mirip dengan cobaan yang menimpa seorang calon begawan! Hahaha…

Ada masa di mana perbedaan waktu yang menjadikan komunikasi sulit sekali, dan mengobrol adalah suatu kemewahan. Ada juga masa di mana salah seorang dari kami mengalami culture-shock dengan kondisi-kondisi baru (di Jerman, di Swedia, dan di Batam) yang menyebabkan kami menjadi orang yang ketus, pahit, dan sedikit emosional.

Ada juga masa di mana godaan dari pihak ketiga menjadi tantangan berat dan pil pahit yang harus kami telan berdua. Lagi-lagi, cobaan-cobaan tersebut membawa sifat-sifat jelek saya dan Ei meluap ke permukaan. Namun, ternyata, lagi-lagi, kami berdua memutuskan untuk berbesar hati dan melihat melampaui hal-hal negatif tersebut dan memilih untuk melihat hal-hal positif yang dibawa oleh semua peristiwa yang kami alami.

Sekarang, melihat ke belakang, saya menyadari bahwa menjalani hubungan dengannya – entah bagaimana – membuat saya ingin jujur sejujur-jujurnya. Tidak ada hal yang saya tutup-tutupi darinya, karena saya merasa bahwa dengan orang ini, apapun saya dan bagaimana pun saya, akan ia terima. Karena itu saya memutuskan untuk tidak menyembunyikan apapun darinya. Ternyata, salah.

Ada satu hal yang justru membuatnya meledak ketika saya sampaikan, yang pada akhirnya membuat kami memutuskan hubungan. Entah berapa gelas airmata yang keluar saat itu; bahkan saya khusus menelpon orang tua saya via Skype untuk mengabarkan tentang hal tersebut. Ibu saya ikut menangis. Dan di tengah tangisan kami berdua, ia bilang, “Jangan telpon Ei. Jangan telpon Ei. Biar aja kalau dia mau putus. Kamu kan cuma berusaha jujur, kalau dia nggak bisa terima, berarti ya nggak jodoh.” Dan saya pun tidak menelpon Ei.

Tapi, ternyata sekitar dua minggu setelah kejadian tersebut, Ei kembali menghubungi saya lewat messenger. Diawali dengan sapaan “Hey…”, yang berujung pada pernikahan kami dan hari ini. Saat itu, saya rasa kami berdua menyadari bahwa selepas semua yang kami alami, ternyata kami masih ingin bersama kembali. Dan saat itu juga, kami seolah berjanji dalam hati bahwa apapun yang terjadi berikutnya, we’ll stick together. Bahwa jika kami berhasil melalui hempasan-hempasan hidup berikutnya, kami akan kembali menemukan kenyamanan atas satu-sama lain, tidak perlu berpura-pura, tidak perlu menjadi sosok yang berbeda, tidak perlu menutupi apapun.

Walaupun Ei bukan sosok the one yang awalnya saya bayangkan (saya selalu terpukau dengan kesan “cowok cuek” yang peduli-tidak peduli, dan agak badung; sementara Ei adalah kebalikannya…), ternyata dia yang mau bertahan dengan saya dengan semua kekurangan saya. Ternyata dia yang saya cari untuk menceritakan semua keluh kesah dan rahasia saya. Ternyata dia yang membuat saya merasa cukup atas semua yang ada – tidak lagi ingin mencari lebih.

Demikianlah, hal-hal yang membuat saya tahu mengapa Ei adalah teman hidup saya (paling tidak, sejauh ini, dan rencananya, selamanya). I just knew. Tapi tidak karena saya mendadak tahu, melainkan karena saya sudah menjalani beberapa trial and error, sekian banyak percobaan empiris dalam kondisi yang kadang terkontrol dan kadang tidak, mempertimbangkan sejumlah variabel, demi menjawab satu pertanyaan penelitian: is he the one?

Akhir kata, sekarang giliran Anda melakukan penelitian ini.