Never stop doing your best, just because someone doesn't give you credit. Be positive, and good things will happen.
Seringkali, saya mendapatkan respon negatif terhadap apa yang saya lakukan. Misalnya tentang the way I'm traveling. Kalau boleh memilih, saya lebih senang traveling sendiri. Terutama jika tujuan traveling itu harus menempuh jarak yang sangat jauh dan memerlukan waktu yang agak lama.
Kenapa?
Karena dengan traveling sendiri, saya bisa memutuskan di mana saya harus tinggal, atau saya kemana saja saya ingin pergi, tanpa harus berdiskusi dengan banyak orang. Terkadang, diskusi itu sendiri akan memakan waktu lama karena harus menunggu sampai semua pihak yang terlibat bersepakat. Tapi, terkadang juga saya mendapatkan komentar seperti: "Ih traveling sendiri terus! Nggak punya teman ya?"
Saya hanya bisa tertawa saja. Entah harus balas berkomentar atau tidak.
Saya tidak suka terburu-buru dan dikejar-kejar waktu karena ingin melihat semua tempat yang sudah direncakan untuk dikunjungi. Saya lebih suka menikmati setiap tempat yang saya kunjungi. Bahkan saya pernah hanya diam di satu taman besar sampai hampir setengah hari. Terbaring di atas rumput dengan pemandangan di depan yang sangat indah, Sydney Harbour Bridge. Sembari terbaring, saya memperhatikan beberapa turis yang silih berganti berfoto dengan latar belakang Sydney Harbour Bridge dan gedung yang menjadi icon kota Sydney, Sydney Opera House. Cruise yang berlalu-lalang, burung-burung yang hinggap dan terbang kembali, dan angin sepoi-sepoi begitu mendamaikan, membuat saya rasanya dapat terbuai lelap.
Sebagian orang yang mendengar pengalaman traveling saya akan menyayangkan keputusan tersebut. Buang-buang waktu, mereka bilang. Tapi, bagi saya, itulah cara saya untuk menikmati alam dan memiliki quality time with myself. Tidak ada salahnya bukan? Tidak melulu kita harus mengikuti cara tertentu ketika berlibur, bukan?
Setiap orang pasti punya caranya sendiri untuk menikmati pengalaman traveling. Ada yang harus membuat rencana jalan-jalan yang sangat detail, ada yang tidak mau ribet dan lebih memilih dibantu jasa agen perjalanan, ada yang sama sekali tidak suka dengan hal yang terencana, dan memilih agar semuanya serba spontan. Ada juga yang tak mau repot dengan mengikuti itinerary yang sudah dibuat oleh pejalan lain.
Sesungguhnya, menyatukan orang-orang dengan sifat, ide, dan karakter yang berbeda itu sulit, apalagi ketika sedang berada dalam perjalanan panjang. We can't always please everyone, right? Karena alasan inilah saya lebih memilih untuk solo traveling. Tapi, walaupun berangkat sendiri, di tempat tujuan saya selalu merencakan untuk bertemu dengan warga lokal. Bahkan saya tidak tidur di hotel, hostel, ataupun guesthouse, tetapi memilih untuk menginap di rumah warga.
Bukan hanya untuk mendapatkan akomodasi gratis, ya--walaupun tentu hal ini juga sangat membantu saat harus traveling dalam waktu lama. Tapi bagi saya, mengalami tinggal dan berinteraksi langsung setiap harinya dengan warga lokal itu sangat berkesan. Saya bisa banyak mendapatkan banyak tips untuk traveling di daerah mereka, dan bahkan beberapa kali saya diajak untuk mengunjungi tempat-tempat yang memang jauh dari peta turis, namun tidak kalah cantiknya. Dan pastinya tempat-tempat ini tak dipadati turis!
Tapi, seperti biasa, ketika bercerita soal ini, saya akan mendapatkan komen-komen negatif. Mulai dari bahaya, lah. Riskan, lah. Jangan mudah percaya orang yang baru dikenal, lah. Dan lain sebagainya. Saya mengerti, mungkin maksud mereka baik. Mungkin mereka cemas dan takut, dan hanya ingin mengingatkan saya agar berhati-hati dengan orang asing. Hanya saja, lama-lama lelah juga rasanya.
"Kamu nggak takut? Kamu kan tidak kenal betul dengan orang itu, bagaimana nanti kalau dia mencuri barang-barang kamu, memerkosa kamu, atau membunuh kamu? Sudah banyak lho berita-berita negatif tentang komunitas ini. Kamu perempuan, traveling sendiri lagi. Coba pikirin lagi."
Kalau hanya satu-dua orang yang memberi komentar demikian, rasanya saya masih bisa mengerti. Tapi kebanyakan kawan punya pemikiran yang sama, dan mendengar hal ini dari mereka seringkali malah membuat saya down.
Setelah lebih dari 2 tahun bergabung dengan salah satu komunitas backpacker global, yang saya dapatkan justru pengalaman yang sangat mengesankan. Mungkin bahkan bisa saya jadikan buku jika saya ceritakan satu persatu. I've met amazing people during my journeys to every places I've visited.
Saya lebih memilih untuk berpikir positif tentang orang-orang yang saya akan temui. Karena saya percaya, dengan pikiran positif, kita selalu dapat melihat kebaikan pada diri orang lain. Kalau saya melulu berpikiran negatif tentang orang-orang yang saya akan temui, untuk apa saya temui? Dan bayangkan betapa lelahnya traveling dengan diliputi rasa takut, rasa cemas, atau rasa curiga.
Dalam komunitas backpacker global ini, saya belajar untuk menaruh rasa percaya. Bahwa masih banyak orang baik di dunia ini. Memang, ada berita-berita di luar sana yang membahas tentang tamu yang dibunuh pemilik rumahnya, tamu yang diperkosa oleh warga yang diinapi, pencurian, dan banyak berita-berita negatif lainnya. Tapi, kisah-kisah tentang kebaikan warga lokal, orang asing yang membantu para pejalan saat kesulitan, persahabatan yang berjalan selama bertahun-tahun... kisah-kisah ini juga tak kalah banyaknya. Hanya saja, tak banyak orang yang kemudian mau membagi, menceritakan, atau menyebarkannya--mungkin karena ceritanya tak sebombastis cerita-cerita lain yang lebih 'seram'.
"You can be brave, but keep cautious."
Tentu. Saya mengerti bahwa perlu kehati-hatian dan kewaspadaan ketika traveling, dan ini saya lakukan dalam beragam cara.
Kalaupun hal buruk menimpa saya, I will consider it as my bad day. Juga sebuah pelajaran agar lain kali saya tak terjebak dalam situasi buruk yang sama. Bukankah ini sama dengan hidup? Pengalaman buruk selalu hadir, namun bukan berarti lantas kita harus menjalani hidup dengan penuh ketakutan. Than we'll miss all the wonderful things that could happen to us.
Tapi bagaimanapun, di akhir hari, saya tahu saya tak bisa melarang orang untuk berkomentar ini dan itu. Mereka punya hak untuk menyampaikan pendapat mereka, dan saya juga punya hak untuk tidak selalu harus melakukan apa yang mereka sarankan.
Saya masih punya banyak mimpi yang ingin saya wujudkan. Dan saya masih memilih untuk percaya pada mimpi-mimpi itu, meskipun orang lain tidak.